Guna Menumbuhkan Minat Anak Makan Tempe, SD Eksperimen Mangunan GO Adakan Pelatihan Membuat Tempe Kedelai

Para guru dan karyawan SD Eksperimen Mangunan GO Yogyakarta foto bersama narasumber Z. Bambang Darmadi (Duduk bertopi) dalam giat teknik pembuatan tempe kedelai. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Tempe adalah makanan tradisional masyarakat Indonesia yang sudah dikenal oleh warga dunia. Makanan tradisional ini dibuat dari biji kedelai atau kacang-kacangan yang diproses melalui fermentasi atau ragi tempe. Selain menjadi lauk favorit masyarakat, tempe juga bisa dimasak menjadi kudapan dan kehadiran juga mengisi menu kuliner hotel berbintang.

Menurut Badan Standarisasi Nasional, tempe telah tersebar luas ke benua Eropa, Amerika, Australia, hingga Afrika. Tempe memiliki nilai kandungan gizi yang cukup tinggi, juga dalam tempe ditemukan zat antioksidan dalam bentuk isoflan. Zat ini dibutuhkan oleh tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas.

Guna memperkenalkan tempe pada anak-anak, SD Eksperimen Mangunan GO Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan belajar bersama tentang teknik membuat tempe kedalai, bertempat di aula sekolah setempat, Jalan P. Diponegoro, Gowongan, Yogyakarta, Senin (19/6/2023). Kegiatan ini menghadirkan narasumber Z. Bambang Darmadi, dan diikuti  oleh puluhan siswa siswi kelas 1-4 SD Eksperimen Mangunan GO, para guru dan karyawan sekolah, serta orang tua murid.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang dadakan oleh sekolah ini. Selain sebagai ilmu atau pengetahuan bagi anak-anak, juga dapat menumbuhkan minat mengkonsumsi dan mencintai tempe dari gempuran kuliner kekinian semacam junkfood, yang nilai gizi dan kesehatannya dipertanyakan,” kata Bambang.

Lebih lanjut penulis puluhan buku manajemen bisnis ini memaparkan, tentang jenis kedelai sebagai bahan utama pembuatan tempe, ada jenis kedelai lokal dan kedelai impor dari Amerika maupun dari China. “Membuat tempe itu harus tekun dan sabar lantaran prosesnya cukup lama, dari pemilihan biji kedelai, perendaman, memasak kedalai hingga pemeberian ragi, serta pembungkusan sesuai dengan ukuran yang diinginkan,” pungkas Bambang, yang juga seorang wartawan kawakan. (zbd/ ted)