bernasnews – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi kota kedua yang disambangi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam program Anti Corruption Film Festival (Acffest) 2023.
Dalam program ini, Kepala Satuan Tugas 1 Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Adhi Setyo Tamtomo, mengatakan KPK berupaya menjalankan tugas dan fungsi utama untuk memberantas dan mencegah keterlibatan tindakan korupsi oleh berbagai stakeholder melalui tayangan film pendek yang mereka hadirkan.
Adapun target utama yang digencarkan KPK melalui program movie ACFFEST itu adalah untuk mencegah adanya praktik politik uang pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 salah satunya melalui generasi muda.
Pelaksanaan Acffest sendiri telah digelar selama sembilan kali dengan tema yang berbeda. Secara khusus, pada 2023, pihaknya mengangkat tema Suaramu, Suara Kita, Suara Nurani.
“Lewat tema itu kami ingin mengajak masyarakat menghindari money politic (politik uang) ketika pelaksanaan Pemilu 2024 berlangsung. Apalagi bagi pemilih pemula atau anak yang baru berusia 17 tahun dan baru bisa mengikuti Pemilu pada 2024,” kata Adhi saat menghadiri Acffest 2023 : Movie Day Yogyakarta di Cinepolis Lippo Plaza.
Di sisi lain, Adhi menuturkan kehadiran ACFFEST 2023 itu juga untuk memperbanyak sineas-sineas muda agar berpartisipasi dalam menentang korupsi di dalam lapisan masyarakat melalui karyanya.Pihaknya juga ingin memberdayakan nilai-nilai kejujuran, keberanian dan keadilan dari jati diri masyarakat.
“Terutama untuk generasi muda. Dengan begitu, generasi muda kita akan menjadi generasi berintergrias dan anti korupsi,” ujarnya.
Pada event Movie Day Yogyakarta kali ini, diputar Favourite ACFFest Movie Award Category Short Film 2022 yang berjudul Loma karya Relung Production Yogya dan Lansia Lan Sopo. Loma menjadi satu-satunya film dengan sutradara perempuan di Kompetisi Ide Cerita, serta film pertama tentang pramuka di ACFFest.
Setelah menyaksikan kedua film tersebut, KPK menggelar diskusi film dengan narasumber Yandy Laurens selaku sutradara dan penulis naskah, serta Della Kartika, finalis ACFFest 2022.

Dalam kesempatan itu Yandy mengatakan bahwa anak muda bisa ikut berperan dalam pencegahan korupsi dengan turut kritis terhadap isu korupsi dan ikut mengkampanyekan antikorupsi melalui karya.
Dirinya menyebut ACFFest merupakan ajang apresiasi terhadap bakat-bakat muda kreatif yang bertujuan meningkatkan kesadaran, dukungan, dan partisipasi masyarakat Indonesia terhadap upaya pemberantasan korupsi, serta menanamkan perilaku antikorupsi sebagai bagian dari gerakan, kampanye, dan pendidikan antikorupsi melalui media film.
Yandy lalu membagikan tips untuk melahirkan ide cerita film yang bagus. Menurutnya harus dimulai dari lingkungan yang terdekat dengan diri, yakni mengenali serta memahami situasi sekitar kita. Ia juga memotivasi peserta jika memang ada semangat untuk membuat film maka cobalah untuk melakukan hal tersebut.
“Minimal sudah pernah mencoba, jangan sampai menyesal karena belum pernah mencobanya,” kata Yandy.
Sementara sutradara film Loma, Della Kartika mengatakan butuh waktu untuk menunjukkan kesungguhan dalam melakukan riset tentang pramuka yang dihadirkan dalam film Loma itu.
“Saya dulu ikut pramuka. Saya mengambil sudut pandang film dari yang saya alami sendiri,” tandasnya.
Sebagai informasi, seluruh kegiatan ini terbuka untuk pelajar, mahasiswa, maupun khalayak umum. Pengiriman karya peserta dimulai pada 5 Mei – 15 Juli untuk Kompetisi Ide Cerita. Sedangkan untuk Kompetisi Film Pendek hingga 8 Oktober 2023.
Rangkaian ACFFEST 2023 dimulai dengan kegiatan Roadshow Movie Day di tiga kota yaitu Pontianak, Papua, dan Yogyakarta serta dilanjutkan Webinar Filmmaking, Kompetisi Ide Cerita, Kompetisi Film Pendek Fiksi, Movie Camp Online, Film Production, Community Gathering, dan Awarding Night ACFFest 2023. (lan)











