bernasnews – Sebanyak 21 peserta dari berbagai paroki yang berada dalam koordinasi Kevikepan Yogyakarta Barat dan Kevikepan Yogyakarta Timur mengikuti kegiatan kerja Pendidikan kader dalam rangka mempersiapkan kaum muda untuk dapat melanjutkan karya pelayanan gereja di masa mendatang.
Kegiatan tersebut dapat terselenggara berkat adanya kerjasama antara PK3 Kevikepan Jogja barat dan Jogja Timur dengan WKRI DPD DIY, DPD ISKA DIY serta Pemuda Katolik Komda DIY.
Ketua Pelaksanaan Kerja Pendidikan Kader Kevikepan Jogja,pt. Y.B. Arya Primantana S.Si., M.M., mengatakan harapan dari kerja kaderisasi ini adalah menumbuhkan kesadaran diri peserta kaderisasi akan potensi yang dimilikinya.
“Selain itu mengasah bagaimana cara menempa diri agar potensi yang dimiliki dapat berguna dalam karya misi pelayanan gereja yang megikuti perkembangan jaman tanpa kehilangan pokok iman akan Jesus sebagai anak sulung gereja,” kata Ketua Pelaksanaan Kerja Pendidikan Kader Kevikepan Jogja, Arya dalam keterangan yang diterima, Senin (22/5/2023).
Kegiatan itu telah digelar selama tiga hari dari Jumat 19 Mei 2023 sampai Minggu 21 Mei 2023 di Wisma Salam Magelang.Salah satu pemateri, Romo Suwondo menyebut bahwa ia ingin peserta kaderisasi berani tampil dan tidak malu tampil dengan identitas sebagai orang Katolik.
Berani menampilkan diri itu artinya menjadi terang bagi dunia yang mampu menjadi pembawa kabar bahagia bagi masyarakat sekitar dalam kehidupan sehari-hari.
“Ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan dan menampilkan diri sebagai sesama anak bangsa yang menghargai pluralisme,” kata Romo Suwondo.
Romo Suwondo juga ikut mengembangkan dan membangun kebersamaan dengan sesama anak bangsa Indonesia untuk terwujudnya masyarakat yang bertoleransi dalam kebhinnekaan.
Sementara guru kader dalam sesi ekonomi dan politik Ibut Mahe mengajak kaum muda untuk berani menjadi pengusaha-pengusaha di masa setelah selesai kuliah untuk mendukung kemajuan Indonesia.
“Belajar dari usaha dengan resiko yang mempu dan ikhlas kita tanggung dalam artian tidak perlu langsung menjadi pengusaha besar,” katanya.
XBelajar dari usaha yang kecil sampai akhirnya mampu menjadi pengusaha besar,” sambungnya.
Lebih lanjut dalam sesi manajemen konflik yang dilakukan dengan model game bakal menunjukan kebiasaan keegoisan kelompok atau individu yang tidak cermat membaca aturan dasar hidup bersama.
“Berebut untuk kepentingan kelompoknya sendiri atau untuk kepentingannya sendiri dengan caranya sendiri yang tanpa sadar melanggar dasar peraturan hidup bersama yang telah disepakati,” jelasnya.
Usai permainan selesai, para peserta kembali disadarkan akan peraturan yang dibacakan sebelum acara game, akhirnya peserta menyadari bahwa ada kesempatan dan kewenangan yang dimiliki untuk saling berdiplomasi agar semua mendapatkan yang dibutuhkan tanpa harus egois hanya memandang kepentingan kelompok sendiri yang harus terpenuhi tanpa menghiraukan kepentingan kelompok lain.
Sementara jika melihat dalam sesi peran orang Katolik didalam masyarakat dan negara saat ini, guru kader mengajak peserta untuk melihat sejarah masa lampau berperan sertanya orang-orang Katolik dalam pergerakan meraih kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan dan juga peran di jaman sukarno, Suharto dan di jaman reformasi. (lan)












