PKM President University, Memberdayakan Masa Depan: Sinergi Kesadaran Lingkungan, Literasi Digital dan Anti Bullying dalam Pendidikan

Pengabdian Kepada Masyakarat (PKM) oleh Dosen dan peserta didik President University, di Yayasan Rumah Harapan Cikarang, Jawa Barat. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Dalam rangka menjalankan aktivitas pengabdian kepada masyakarat (PKM), hasil kolaborasi beberapa dosen dan peserta didik Program Studi Hubungan Internasional President University, dalam pelaksanaan kegiatan PKM tersebut mengangkat tema kesadaran lingkungan, literasi digital, dan anti bullying.

Tema tersebut sangat penting untuk meningkatkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya kesadaran lingkungan, literasi digital dan anti bullying. Beberapa dosen yang terlibat dan membimbing dalam kegiatan PKM ini adalah Riski M. Baskoro, S.Sos., M.A., Anggara Raharyo S.I.P, M.P.S, Dr. Indra Alverdian, S.S, M.si, dan Ranti Yulia Wardani, M.Sc., Ph.D, beserta beberapa kelompok peserta didik yang dibagi ke dalam tiga kegiatan PKM sebagai berikut;

Project Darling (GIA)

Gema Insan Amanah (GIA) Sadar Lingkungan, merupakan kegiatan edukasi kepada anak usia sekolah di panti asuhan di sekitaran Cikarang-Jawa Barat, dalam bentuk memberikan pemahaman mengenai isu lingkungan. Kegiatan ini diinisiasi oleh tiga peserta didik President University, yakni Adam Irawan, Shavina Fiqhinajiah dan Veptha Dwitra dengan tujuan untuk menumbuhkan pengetahuan dan kesadaran dalam menjaga lingkungan di kalangan peserta didik usia sekolah.

Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan selama empat hari dan dimulai dengan memberikan pemahaman dan wawasan tentang masalah lingkungan yang terjadi secara global, pengertian dan penyebab pemanasan global, dan jenis-jenis sampah pada hari pertama. Hari kedua, dilakukan pengenalan tentang dampak negatif sampah organik dan memberikan contoh cara mengatasi yaitu dengan menggunakan maggot, binatang pengurai sampai organik.

Pada hari ketiga, dilakukan edukasi mengenai dampak negatif sampah anorganik dan memberikan contoh cara mengatasinya yaitu dengan mengolah sampah botol bekas menjadi pot tanaman. Dan pada hari terakhir, dilakukan penanaman tumbuhan herbal dan memberikan wawasan terkait manfaatnya.

Project Paidagogia (Sumedang)

Pendidikan menjadi hal yang fundamental dalam hidup kita. Manusia berhak mendapatkan pendidikan untuk dapat mandiri, berkembang dan berkelanjutan. SMAs Plus Guna Cipta adalah salah satu sekolah di Sumedang, Jawa Barat.

Dikutip dari pernyataan Kepala Sekolah SMAs Plus Guna Cipta, Tintin Nurhayati mengemukakan, bahwa penduduk lokal masih minim pemahaman akan pentingnya edukasi dan pola pikir tersebut diturunkan ke generasi selanjutnya. Menurutnya, keadaan ini membuat pihaknya terdorong untuk memacu semangat belajar siswa untuk berani bercita-cita, berinovasi, dan meraih prestasi. 

Paidagogia Project, adalah kegiatan sosial berbasis komunitas belajar yang dilaksanakan di SMAs Plus Guna Cipta. Kegiatan ini dilakukan oleh tiga orang peserta didik dari President University (Yvette Rondonuwu, Khalil, dan Agustiawan Pangestoe). Kegiatan ini diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran Literasi Digital. Melalui kegiatan ini, peserta didik kelas 10 SMAs Plus Guna Cipta mendapatkan kesempatan untuk memahami pentingnya pendidikan dan dapat mengembangkan potensi diri dengan segala kesempatan di era digital melalui belajar Etika Ber-internet..

Adapun Kegiatan Belajar dalam Paidagogia Project ini mengambil tagline yaitu “#THINKBEFORECLICK” sebagai pegangan yang dibagikan untuk peserta didik SMA ini agar bijak dan beretika di internet.

Peserta didik President University dan SMAs Plus Guna Cipta foto bersama usai giat edukasi lingkungan di Panti Asuhan Gema Insan Amanah. ( Foto: Istimewa)

White Light Project (Jababeka)

Maraknya kasus perundungan saat ini membuat 6 peserta didik President University, yang terdiri dari Ariq Rangga Maulana, Erika Crisvianti, Febi Sianturi, Lukas Dimas Putra, Marchelli Velena dan Tiara Putri mengadakan kegiatan sosialbertema anti-bullying. Berlokasi di Yayasan Rumah Harapan Cikarang yang mengasuh 15 anak, kegiatan ini berjalan selama empat hari.

Pada hari pertama melakukan survei lokasi untuk mengetahui seberapa paham tentang perilaku bully itu sendiri dan untuk perancangan materi yang akan disampaikan.

Selanjutnya pada hari kedua, melakukan pendekatan secara intensif kepada 15 anak asuh dan penyampaian dasar tentang perilaku bullying secara verbal dan non verbal.

Kemudian di hari ketiga, barulah masuk ke inti materi yaitu penjelasan tentang perilaku bullying serta akibat yang dialami oleh korban, Juga  tak lupa mengadakan sesi bercerita dari anak asuh tentang perilaku merundung baik itu dari sisi pelaku maupun korban.

Menutup di hari ke empat, 6 peserta didik tersebut serta 4 dosen pembimbing menyampaikan materi terakhir tentang pengenalan cyber bullying dan mengadakan lomba sholawatan, kemudian kegiatan ditutup dengan acara buka puasa bersama. (*/ ted)