News  

Obrolan SBP : Penyair Kurang Dilirik di Masyarakat

Obrolan Sanggar Bulan Purnama (SBP) putaran pertama menampilkan Simon HT dan Fausi’ Absal di aula Museum Sandi Negara, Yogyakarta, Sabtu (6/5/2023). (Foto : Ricardo Marino).

bernasnews – Sastra Bulan Purnama (SBP) menggelar  obrolan edisi pertama bertema Posisi Penyair di Tengah Masyarakat di Aula Museum Sandi Negara Jalan Faridan M. Noto No.21, Kotabaru, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta dan juga dilakukan secara live streaming Youtube , Sabtu (6/5/2023).

Ons Untoro selaku perintis SBP mengajak para penyair melakukan obrolan terbuka terkait dengan tema itu. Dipandu moderator Indro Suprobo, serta pemantik obrolan sekaligus narasumber yakni Simon HT dan Fauzi’ Absal berbicara tentang peran seorang penyair di tengah masyarakat yang kurang dilirik. 

Simon HT aktif sebagai pelatih pendidikan orang dewasa pada Yayasan Field Indonesia, pernah kuliah Filsafat  di UGM, aktif di Teater Dinasti tahun 1979-1983, dan di kelompok study dan bantuan hukum KSBH Yogyakarta tahun 1979-1983, pelatih Media Rakyat/Teater Rakyat dan melakukan perorganisasian di berbagai desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur tahun 1983-1987. Kemudian tahun 1988 mendirikan  Kelompok Teater Rakyat Indonesia di Yogyakarta, tahun 1991- 2001 bekerja di pada program Nasional PHT sebagai pelatih Media Rakyat dan Pendidikan Orang Dewasa, tahun 2002 mendirikan Yayasan Field Indonesia yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat. 

Sedangkan Fauzi’ Absal pernah bekerja sebagai penerjemah di sebuah penerbitan, alumni Sekolah Perindustrian Menengah Atas (SPDMA) jurusan Kimia Industri tahun 1970, anggota  Persada Studi Klub (PSK), Nama Fauzi’Absal merupakan kepedekan dari Fauzi Abdul Salam nama sang ayah.

Hebat ketika dibahas pengamat

Simon HT mengatakan, kehebatan penyair-penyair kita itu hanya ketika dia ditampilkan di pusat-pusat kesenian dan dibahas oleh pengamat-pengamat. 

“Kalau gak dibahas ya gak ada artinya apapun yang para penyair buat. Syair, puisi tetap punya potensi hadir di dalam masyarakat, tapi persoalan bagaimana sang penyair, bila nasib seorang penyair hanya bergantung pada media cetak atau pengamat-pengamat saya pikir mereka juga capek memikir puisi yang begitu banyak,” kata dia.

Fauzi’Absal pada kesempatan ini mengatakan, banyak penyair tidak mendapatkan posisi tetapi sebaliknya penyair harus dapat memposisikan diri di tengah masyarakat. Sebenarnya penyair itu punya masyarakat dan masyarakat punya penyair sehingga penyair dapat membenah masyarakat. Secara dinamika, masyarakat tidak punya apa-apa, masyarakat hanyalah milik pejabat, pemerintah, ekonom. Dengan komunitas penyair, posisi penyair adalah posisi ide dimana seseorang dapat mengeluarkan ide tersebut melalui komunitas.

Ons Untoro berpendapat, jika ingin berkarir sebagai penyair di Jogja itu berat. Lebih baik pulang saja ke kampung halaman dan pasti bakal dikenal di tengah masyarakat. Di tengah kemajuan zaman, banyak penyair tidak lagi dimanjakan oleh media cetak. Banyak para penyair menuliskan puisi–puisi di Facebook

“Kepentingannya berkarya, (maka) penyair itu ya pentingnya berkarya. Soal terkenal atau tidaknya itu perkara lain. Nanti bila ada momentum, karya tersebut ada gunanya dan bisa dibacakan karena momentum itu tidak bisa diprediksi. Tapi jika berkarya saja tidak ada, lalu tiba–tiba ada momentum ya telat,” kata dia. (mar/Ricardo Marino, Mahasiswa Sosiologi FISIP UAJY)