News  

Hardiknas dan Ajakan Berpaling kepada Sistem Among

Buku Berpaling kepada Sistem Among karya Ki Bambang Widodo (2023). (Foto : Ricardo Marino)

bernasnews – Bicara tentang pendidikan di momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei, tidak lepas dari tokoh bernama Ki Hadjar Dewantara. Bagi pendiri Perguruan Tamansiswa dan kemudian dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno ini, pendidikan menjadi landasan dasar kesejahteraan suatu bangsa.

Hardiknas kita peringati setiap tanggal 2 Mei bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara. Bernama asli R.M. Suwardi Suryaningrat, dia lahir pada tanggal 2 Mei 1889 dan wafat pada tanggal 26 April 1959. Sebagai Menteri Pendidikan setelah kemerdekaan RI, dia menggunakan semboyan Tut Wuri Handayani dalam pendidikan nasional.

Salah seorang generasi penerus Tamansiswa yang tekun mendokumentasikan hal-hal yang berhubungan dengan Tamansiswa adalah Ki Bambang Widodo. Sebagai upaya pelestarian dan pengembangan warisan Ki Hadjar Dewantara yakni Perguruan Tamansiswa, dia menerbitkan buku bertajuk Berpaling kepada Sistem Among – Bunga Rampai Ketamansiswaan, Permuseuman, dan Kemasyarakatan. (2023). 

“Saya berharap, buku ini dapat untuk menengok masa lalu peran Tamansiswa sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas sebagai sarana utama,” kata Ki Bambang Widodo yang menjabat Ketua Umum Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY ini kepada bernasnews di Yogyakarta, Selasa (2/5/2023). 

Buku setebal 311 halaman karya lelaki yang tinggal di Bantul, Yogyakarta ini terdiri dari empat bab, serta didahului dengan beberapa sambutan, pengantar, dan testimoni dari beberapa sahabat penulis. Empat bab tersebut adalah Ketamansiswaan yang terdiri 24 tulisan, Permuseuman (16 tulisan), Kemasyarakatan (9 tulisan) serta Pesan dan Harapan Pemimpin Negara, Tokoh Nasional dan Tokoh Tamansiswa dalam Buku Peringatan 30 Tahun sampai dengan 90 Tahun Tamansiswa. 

Sistem among ruh pendidikan Tamansiswa

Menurut Ki Bambang Widodo, pendidikan di Tamansiswa dilaksanakan menurut Sistem Among yakni suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluaargaan bersendikan Kodrat Alam dan Kemerdekaan. Kodrat Alam sebagai syarat untuk mencapai kemajuan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Sedangkan Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir batin peserta didik agar dapat memiliki pribadi yang tangguh dan dapat berpikir serta bertindak merdeka.

Sistem Among adalah ruh pendidikan Tamansiswa dan merupakan cikal bakal sistem pendidikan nasional Indonesia. Di zaman penjajahan Belanda, dengan sikap non kooperatif dan konfrontatif, Tamansiswa telah mendidik jiwa merdeka untuk mencapai Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sistem Among yang diciptakan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara untuk menggantikan sistem pendidikan kolonial Belanda yang didasari oleh perintah, hukuman dan paksaan, tidak sesuai dengan kebutuhan dan kepribadian Bangsa Indonesia.

Dengan Sistem Among, lanjut Bambang, Tamansiswa telah melahirkan anak didik yang berjiwa merdeka, mandiri, cerdas, berbudi pekerti luhur, cinta tanah air dan berwawasan kebangsaan. Tamansiswa tidak hanya mampu melepaskan masyarakat dari belenggu kebodohan, kemiskinan dan kemelaratan. Namun juga membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, merdeka lahir batin, luhur akal budinya, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani dan rohaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggungjawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya.  

Menurut Ki Bambang Widodo yang menerima Penghargaan Satyabakti Tamansiswa (pengabdian 40 tahun) dari Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa 2020 ini, Sistem Among menurut cara berlakunya disebut sistem Tutwuri Handayani yang menjadi semboyan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI. (mar)