bernasnews – Tata rias rambut berupa sanggul seorang wanita dalam khazanah budaya Jawa sangat lekat dengan pemakaian busana kebaya, sanggul atau gelung bentunya sangat bervariasi dan dalam proses pemakaiannya pun ada cara serta kaidah-kaidah tertentu untuk membedakan seorang wanita yang masih lajang atau sudah menikah.
Busana dan tata rias yang berakar dari budaya kearifan lokal ini menjadi sebuah persoalan khususnya bagi seorang muslimah saat ingin menggunakan tata rias rambut dan busana tradisional Jawa (busana kebaya dan bersanggul tekuk). Ia harus menutup kembali tatanan sanggut rambutnya yang sudah tertata indah indah dengan kerudung/ hijab lantaran memenuhi ketentuan dari agamanya.
Hal inilah yang menjadi gagasan diselenggarakannya giat Seminar Nasional, bertajuk ‘Ngabuburit Cantik Ramadan 1444H’, dengan mengangkat topik Inovasi Hijab Sanggul Jawa, menghadirkan nara sumber KRNgt. Ayu Purwowijoyo, S.Psi (Ayu Shinta Ayu Jogja). Seminar yang digelar secara hybrid (daring dan luring)tersebut bertempat, di Gedung F. Ruang Cinema Lt.2, Musium Beteng Vredeburg, Jumat (14/4/2023).

“Penggunaan rambut sintetis pada sanggul karena sangat mirip dengan rambut asli terkadang masih dianggap bukan penutup rambut. Sehingga tetap merasa perlu ditutup dengan kerudung. Proses pemasangan sanggul rambut memerlukan menyasak rambut yang terkadang dirasa sayang jika akhirnya harus ditutup kerudung,” terang Ketua II DPD Tiara Kusuma DIY.
Lanjut Ayu menjelaskan, tujuan inovasi sanggaul hijab adalah sebagai solusi bagi pecinta/ pelaku budaya yang berhijab yang ingin tetap tampil menggunakan sanggul tradisional. Sementara kelebihan penggunaan sanggul hijab seluruh bahan sanggul antara lain dakron, kain tipis elastis dan kain pashmina, serta tidak menggunakan rambut asli maupun sintetis.

“Bisa ditata menutup rambut sebagai hijab, bentuk tatanan sanggul hijab bisa ditata mengikuti bentuk-bentuk sanggul tradisional lainnya. Pemasangan tidak memerlukan menyasak rambut, sangat ringan di kepala dan bisa dipasangi asesoris sehingga sekilas akan tampak sama dengan tatanan hairdo sanggul tradisional,” kata pemilik Shinta Ayu Jogja Wedding Service.
Dikatakan, bahan-bahan yang harus disiapkan meliputi kain elastis warna sesuai kulit untuk penutup leher, kain elastis hitam hitam wadah cepol hijab, kain pashmina hitam, jarum pentul hitam, jepit lidi, jarum paku, peniti, karet rambut warna hitam, dakron untuk isi cepol hijab dan asesori sanggul.
Pada saat bernasnews menanyakan ide kreatif tersebut, Ayu mengungkapkan, bahwa karya inovasi hijab sanggul Jawa tersebut merupakan semacam hidayah dari Allah dimana saat bertemu sayidah Amani istri Syekh Ammar, Imam masjid Masjidil Aqso Palestina ketika hadir di Yogyakarta. Kala itu saya dipakaikan hijab sehingga seakan dibaiat, dimana mana sebagai seorang muslimah diharuskan taat dalam agama.

“Dari situlah saya berfikir untuk berinovasi bagaimana saya yang berprofesi sebagai perias pengantin dan penggiat budaya, serta bergerak dalam wedding service tentunya harus bisa berpenampilan cantik sesuai dengan nuansanya. Maka munculah inovasi sanggul hijab, yang dalam prosesnya melalui trial and error selama tiga bulan, termasuk menentukan bahannya,” bebernya.
Beberpa tokoh wanita di Jogja memberikan apresiasi kepada KRNgt. Ayu Purwowijoyo, S.Psi atas karyanya berupa inovasi hijab sanggul Jawa antara lain, Bunda Gusti Anglingkusumo kerabat Puro Pakualam, BRAy. Nuruida Joyokusumo dan BRAy. Hadiwonoto, keduanya merupakan kerabat Kraton Yogyakarta, serta Hj. Diah Suminar, pengusaha Toko Busana Muslim dan Salon Kecantikan. “Para kerabat Kraton Yogyakarta tersebut juga paring saran agar karya tersebut di-hak patenkan. Namun saya sudah niatkan Bismillah ilmu inovasi hijab sanggul itu telah saya wakafkan, artinya monggo yang pingin memakai silakan atau pingin belajar silakan hubungi saya,” pungkas Ayu. (ted)











