News  

Lingkungan yang Buruk, Menciptakan Perilaku Kejahatan pada Remaja

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto, dari Fraksi PDI Perjuangan saat menyampaikan paparan dalam forum ‘Dialog dan Buka Bersama Wartawan’ dengan Polda DIY dan unsur akademisi. (Foto: Kiriman Leni Sulistyaningsih)

bernasnews — Ada sejumlah penyebab yang membuat remaja bermasalah yaitu faktor ekternal dan internal. Hadirnya lingkungan remaja yang buruk menciptakan perilaku kejahatan, faktor internal karena remaja alami krisis identitas dan kontrol diri yang lemah.

Hal itu dikemukakan oleh Dr Sri Muliati, MA., selaku psikolog dalam forum ‘Dialog dan Buka Bersama Wartawan’ dengan Polda DIY dan unsur akademisi, bertempat, di Rumah Makan Nyonya Suharti, Gedongkuning, Kota Yogyakarta, hari Rabu, 5 April 2023.

“Kondisi kemiskinan yang dialami remaja di rumah, di lingkungan nya membuatnya memicu kriminalitas, apalagi kala terbiasa lihat kekerasan. Ada kebutuhan pengakuan yang salah dari kelompoknya selain kebutuhan perhatian dan penghargaan,” kata dia.

Lanjut Sri Muliati menjelaskan, langkah pencegahan kejahatan jalanan yang dilakukan remaja perlu dibuat peer counselor, online conseling, satuan syber untuk menelisik program kenakalan remaja di sosial media (sosmed). Pihak terkait pun harus bisa memahami dinamika remaja dan jalankan program pemberdayaan.

“Dukungan keluarga, penegakan hukum oleh kepolisian untuk patroli dan mewadahi kegiatan remaja seperti olahraga, ketrampilan lain. Juga berikan apresiasi apapun capaian yang dilakukan oleh remaja sangatlah penting,” terang Sri Muliati.

Sementara, AKBP Tri Novi Purwaningsih dari Kasubditbintibsos Ditbinmas Polda DIY mengungkapkan, bahwa keberadaan teknologi informasi telah menghadirkan masalah baru. Ada tantangan identitas remaja yang digempur oleh serangan F-7 yaitu fuel, fashion, food, film, fantasi, filosofi dan finansial.

“Ada kecanduan gadget, kurangnya bersosialisasi, adanya kecenderungan serba instan dan kurangnya mencintai budaya sendiri. Pengaruh budaya luar dan lupakan budaya tradisional yang dianggap ketinggalan zaman. Ini tantangan yang dihadapi remaja kita,” kata AKBP Tri Novi Purwaningsih. 

Berkaitan dengan kejahatan remaja maka keberadaan Perda No 1/2022 Tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan penting dilaksanakan secara nyata. “Pendidikan Pancasila yang integral, progresif dan fungsional kepada remaja penting agar mereka bisa lalui masa remaja dengan penuh prestasi dan berbudi luhur,” tandasnya.

Menurut Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto, khusus guna mencegah adanya kejahatan remaja tidak berkembang lebih jauh, Pemda DIY sebenarnya sudah memiliki instrumen pencegahan dengan adanya Perda Ketertiban Umum, Perda Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang perlu diimplementasikan dalam program kerja.

“Langkah pencegahan penting ini yang kita terus dorong agar pemda dan lembaga terkait bekerja lebih keras lakukan pencegahan. Remaja butuh diberi porsi proses belajar Pancasila, metode formal, informal ada tapi tidak cukup karena faktanya masih saja terjadi kejahatan oleh remaja di DIY,” terang Eko Suwanto, dalam kesempatan yang berbeda.

Politisi PDI Perjuangan ini menambahkan, bahwa akar masalah dari hadirnya kejahatan jalanan oleh remaja adalah masih adanya kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan yang tinggi di DIY. Kemiskinan jadi pemicu segala hal kekerasan, perasaan tidak puas dan lain sebagainya.

“Ada perda ketahanan keluarga, kenapa masalah terjadi? Maka urusan law inforcement, jangan ragu tegas dan terukur untuk tindakan kekerasan anak jalanan. Penegakan hukum, pembentukan Satgas serta adanya kejahatan luar biasa, perlu didukung anggaran sarana prasarana yang kita harapkan bisa dialokasikan,” bebernya. (Leni Sulistyaningsih)