bernasnews – Setelah menjalani masa Prapaskah, umat Katolik di seluruh dunia memulai perayaan Sabtu/Minggu Palma (1 dan 2 April 2023). Tidak terkecuali umat Katolik di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ini sebagai awal dari perayaan Pekan Suci atau Tri Hari Suci yakni Kamis Putih (6/4), Jumat Agung (7/4) dan Sabtu/Minggu Paskah (8-9/4).
Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM dalam buku Samudera Kasih Allah mengemukakan, Minggu Palma dan hari-hari Pekan Suci menampilkan wajah Allah yang tidak lazim. Allah yang pada umumnya digambarkan sebagai Yang Mahamulia, Mahabesar, dan Mahaluhur, tampil dalam diri seorang manusia yang biasa, manusia Yesus Kristus.
Dia Raja Mesias, Putra Allah yang Mahatinggi, Yang Kudus dari Allah. Namun Dia tampil bukan dengan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan. Penampilan-Nya tidak sejalan, bahkan berlawanan dengan corak Dirinya yang Mahakuasa dan Mahaluhur.
Sementara orang banyak mengelu-elukan dengan bersorak, “Hosaanna! Terpujilah yang Mahatinggi!”, Dia justru duduk di punggung seorang anak keledai yang lemah dan bukan menungang kuda yang kuat dan gagah.
Dia masuk ke Yerusalem, kota Raja Daud untuk menduduki takhta Daud, Bapak leluhur-Nya. Namun yang disebut takhta itu adalah salib. Di salib itu, Dia ditinggikan sebagai Raja.
Tentang daun palma atau palem, menurut sebuah situs, adalah simbol kemenangan, kedamaian dan kehidupan kekal.
Umat Katolik merayakan Minggu Palma sebagai ungkapan sukacita atas kedatangan Yesus Kristus yang agung, suci dan mulia. (mar)











