News  

APP Prapaskah 2023 Ajak Komitmen dan Aksi Damai

Suasasana sarasehan APP Prapaskah 2023 di Lingkungan Mateus Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping, Sleman, DIY. (Foto : Humas Lingkungan Mateus)

bernasnews – Aksi Puasa Pembangunan (APP) Prapaskah 2023 pada akhirnya mengajak umat Kristiani dalam hidup menggereja, bermasyarakat dan bersama alam ciptaan untuk memiliki komitmen dan aksi nyata damai. Damai dimulai dari pribadi, keluarga dan lingkungan.

Pertemuan kelima sarasehan APP pada Minggu (26/3/2023) mengambil topik Melangkah, Mewujudkan Damai. Ini bagian dari tema besar APP 2023 Keuskupan Agung Semarang (KAS) yakni Tinggal Dalam Kristus : Hadirkan Damai bagi Sesama dan Alam Ciptaan.

Seusai sarasehan APP, Lingkungan Mateus Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama umat se-Keuskupan Agung Semarang khususnya dan Gereja universal mempersiapkan diri memasuki Pekan Suci Paskah. Pekan suci dimulai Minggu Palma (2/4), Kamis Putih (6/4), Jumat Agung (7/4) dan Sabtu/Minggu Paskah (8-9/4).

Ketua Lingkungan Mateus L. Widodo melalui WAG lingkungan mengucapkan terima kasih kepada pemateri sarasehan APP di lingkungan setempat yaini Bambang Kiswantoto, Ny Th. Supadmi Widyastuti, Daryadi, Anselmus Sudirman, Novianto. Juga kepada Ny Daryadi, Ny Nuryatmini, Ny Wargiyanto, Ny Ari Rusman dan Ny Bambang Linus yang telah menyediakan tempat dan pasugatan sarasehan.

Kesempatan bertobat

Menurut Ketua Panitia APP KAS Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr., masa Prapaskah adalah empat puluh hari umat Kristiani mempersiapkan perayaan Paskah. Masa Prapaskah menjadi kesempatan yang baik bagi umat untuk membangun pertobatan dalam menanggapi perdamaian.

Sedangkan Paskah merupakan puncak karya keselamatan Allah kepada manusia. Melalui Yesus Kristus lewat sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, umat diperdamaikan kembali dengan Allah, sesama dan alam ciptaan.

Tentang ajakan menghadirkan damai bagi sesama dan alam ciptaan itu, menurut Panitia APP KAS karena memiliki beberapa alasan. Khusus di tanah air Indonesia, disadari dan dirasakan perbedaan masih berpotensi menimbulkan konflik dan perselisihan.

Politik identitas demi kekuasaan yang berpotensi memecah belah bangsa kemungkinan masih akan dimainkan. Berita-berita hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, radikalisme dan terorisme juga masih menjadi ancaman kedamaian. Alam ciptaan juga semakin rusak, iklim dunia semakin panas sebagai akibat dari keserakahan manusia mengeruk kekayaan alam dan ketidakpedulian manusia menjaga kelestariannya. (mar)