bernasnews — Suster (Sr) Alfonsa, PI bisa disebut pahlawan TK (Taman Kanak -kanak) sebab selama berkarya dalam komunitas Kongregasi Suster Penyelenggaraan Ilahi (SDP) selalu terkait dengan sekolah TK dan anak-anak. Seperti halnya Yesus, yang mencintai dan mengasihi anak-anak.
Demikian sambutan salah seorang suster, saat menyampaikan sambutan dalam acara prosesi pemakaman Sr. Alfonsa, PI usai pelaksanaan Perayaan Ekaristi Misa Requim, Gereja St. Theresia Bongsari, Semarang, Jawa Tengah, bertepatan perayaan hari Valentine, Selasa (14/2/2023).
Di gereja yang sama itu, Sr. Alfonsa, PI merayakan 60 tahun sebagai biarawati bersama dua suster lainnya, bertempatan dengan peringatan Perayaan Ekaristi 180 tahun Kongregasi Suster Penyelenggaraan Ilahi (SDP), pada tanggal 3 November 2022 lalu.
Dalam perjalanan usianya yang ke 85 tahun ternyata Tuhan Yang Maha Kasih berkendak lain, Sr. Alfonsa diiringi doa oleh beberapa suster, pahlawan TK itu berpulang dalam damai, di Rumah Sakit Elisabeth, Semarang, pada hari Senin (13/2/2023), Pukul 18:05 WIB.
Sr. Alfonsa, PI adalah seorang Suster Penyelenggaraan Ilahi (SDP) yang senantiasa berusaha memelihara hidup rohani dengan sungguh-sungguh. Ia sangat mencintai Ekaristi dan setia berdoa ibadat harian dan bermeditasi, juga di saat-saat sakitnya. Tidak mengherankan ia tumbuh menjadi pribadi yang memiliki iman teguh, disiplin, tanggung jawab, dan tidak mudah menyerah serta berusaha mandiri, juga di usia lanjutnya.
Fisiknya yang cukup tinggi tidak menjadi penghalang bagi Sr. Alfonsa, PI untuk mendampingi anak-anak di Taman Kanak-kanak. Hampir seluruh pengutusannya sebagai Suster Penyelenggara Ilahi dilalui sebagai pemimpin TK dan pemimpin komunitas. “Dengan pelbagai cara dan kreativitas ia melaksanakan pengutusannya, menampingi para guru dan juga ana-anak yang sangat dicintainya,” bebernya.
Berikut riwayat hidup Sr. Afonsa, SDP atau Rr. Rusdilah. Lahir di Yogyakarta, 14 Agustus 1937 sebagai purti bungsu dari 7 bersaudara putra pasangan R. Suwandi Djojosastropontjo dan RA. Monika Suprati Djojosastropontjo. Ia dibaptis dengan nama Anastasia Maria, di Paroki Hati Kudus Yesus, Pugeran, Yogyakarta, pada tanggal 28 Maret 1956.
Kemudian ia bergabung dengan Kongregasi Suster Penyelenggaraan Ilahi (SDP), di Semarang, pada tanggal 15 Oktober 1962. Mengikrarkan kaul sementara pada, 12 Juli 1965 dan kaul kekal pada tanggal 29 Desember 1970. Pengutusan pertama ia laksanakan dengan penuh semangat sebagai Pemimpin TK Cor Jesu dan PA Bethlehem, Kabupaten Temanggung, Juli 1965 – Desember 1972.
Dari kota kecil Tmanggung, Sr. Alfonsa diutus menjadi Pemimpin TK St. Yoseph Jakarta, dan sebagai guru agama di SMP St. Joseph, Januari 1973 sampai dengan 31 Juli 1980. Panggilan sebagai pemimpin TK dilanjutkan di TK Puspa Ria, Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Juga sebagai pemimpin komunitas selama satu tahun lantaran ia diutus untuk mengikuti kursu di ARFI, negara Philipina, bulan Juli 1981 – April 1982. Sekembalinya dari kursus, ia menjadi Pemimpin Komunitas di Kebon Dalem, Semarang, sampai dengan bulan Juli 1984.
Dari Semarang ia kembali ke Jakarta, menjadi Pemimpin Komunitas dan Kepala Sekolah TK St. Yoseph, juga sebagai suster BP di SMP St. Yoseph sampai dengan Agustus 1988. Setelah itu, diutus sebagai Pemimpin Komunitas dan Kepala Sekolah TK MBL, serta sebagai guru agama di SMA Trinitas, Bandung, sampai dengan Juli 1991.
Lantaran adanya kebutuhan di kota kecil Temanggung untuk memanggilnya kembali, Sr. Alfonsa menanggapinya dengan hati gembira, sebagai Kepala Sekolah TK Cor Jesu dan Pemimpin Komunitas selama 6 tahun, sampai dengan Oktober 1997.
Ia pun terbuka saat menanggapi kebutuhan di luar Jawa, untuk diutus ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan juga sebagai Pemimpin Komunitas dan Kepala Sekolah TK Miriam, sampai dengan Oktober 2002. Selanjutnya, ia diutus ke Kota Kudus. Kali ini sebagai tenaga administrasi di RB/BP Miriam, sampai akhir tahun 2006. Setelah dibebaskan dari tugas ini, Sr. Alfonsa tetap tinggal di komunitas Kudus, dengan tugas pembukuan komunitas dan rumah tangga, sampai Agustus 2011.
Pengutusan aktifnya ia lepaskan dengan bebas ketika menjadi anggota komunitas Pondok Harapan, Bongsari, Semarang. Yakni sebagai pendoa dan pemberian pelayanan bagi sesama suster dan bagi komunitas. Hingga dipanggilnya pulang kembali menghadap Tuhan, serta jasadnya dimakamkan, di Makam Krekhop, Ambarawa, Kabupaten Semarang bersama suster-suster lain yang telah mendahului. Swarga langgeng. (ted)












