News  

Trah Suryo Sudirjo “Ngumpulke Balung Pisah” dan Merawat Kekeluargaan

Anggota Trah Suryo Sudirjo dari keluarga Siti Surtiwi (alm) dan Siti Samtari (alm) dalam pertemuan keluarga di kampung Surokarsan, Yogyakarta, Sabtu (28/1/2023). Mereka membahas pentingnya upaya “ngumpulke balung pisah”. (Foto : Trah Suryo Sudirjo)

bernasnews – Salah satu kebutuhan dan sekaligus tantangan setiap keluarga adalah menjaga hubungan kekeluargaan. Seiring dengan perjalanan waktu, keluarga inti akan bertumbuh besar dan tidak dapat  kumpul bersama lagi. Apalagi, anggota keluarga bersangkutan bertempat tinggal jauh dari keluarga inti.

“Kami sebagai generasi penerus menyadari bahwa tanpa ada upaya untuk menyatukan kembali hubungan keluarga atau ngumpulke balung pisah, maka keluarga besar kami dapat tidak saling kenal. Padahal, kami dari eyang yang sama namun karena putera-puteri eyang itu banyak dan tersebar di berbagai wilayah, harus ada tindakan nyata untuk merawat kekeluargaan,” kata Pengurus Trah Suryo Sudirjo di Jakarta  A. Hadi Siswanto dan V. Rino Hermawanto, dari keluarga almarhum Surodiharjo dan almarhumah Siti Surtiwi, kepada bernasnews di Yogyakarta, Sabtu (28/1/2023).

Mereka adalah dua dari delapan bersaudara keluarga Surodiharjo asal Yogyakarta yang kemudian menetap  di Jakarta. Ibu mereka adalah sulung dari sepuluh bersaudara dari almarhum Suryo Sudirjo dan almarhumah Siti Samsirin. 

Kesepuluhan bersaudara Trah Suryo Sudirjo yang hampir semua sudah almarhum itu adalah Siti Surtiwi, Siti Surdiyati, Haryosuseno, Siti Samyati, Samtanus, Samsuhadi, Siti Samtari, Sri Kabul Wahyuni, Kusdarwanto, dan Widiyastuti.  

Dalam pertemuan dua kali di Yogyakarta, di kediaman RB Marsamtoro dari keluarga almarhum Drs  Margono dan almarhumah Siti Samtari di kampung Jagalan Beji dan di kampung  Surokarsan, selain dimaksudkan sebagai temu kangen juga membahas  upaya merawat kekeluargaan itu.

Merawat kekeluargaan itu antara lain dilakukan dengan rencana membuat  buku trah dan atau keluarga masing-masing, membahas perlunya zoom meeting berkala trah, membahas temu darat secara berkala satu atau tiga tahun sekali, dan sebagainya.

Dalam pertemuan kangen-kangenan menyambut kunjungan R. Ruwiyantoro dari Amerika Serikat  itu diungkapkan kisah dan keteladanan  orangtua mereka yang berkesan sampai kini. Keteladanan berupa nilai-nilai keutamaan hidup itu dapat menjadi bekal bagi anak cucu di kemudian hari. Nilai itu antara  lain tentang kasih sayang  keluarga, kejujuran, keuletan, solidaritas, berbagi, dan srawung dengan sesama.   

“Nilai-nilai keutamaan hidup itu perlu dimasukkan dalam buku trah.  Nilai-nilai itu tetap relevan dalam kehidupan meski zaman semakin maju. Memang butuh keteladanan terus menerus,” kata O. Yoyok Suroso.

Wiwiek Widyastuti menambahkan pentingnya anak cucu memiliki kecerdasan sosial yang dapat mendukung kesuksesan hidup. “Tekuni  dan kembangkan talenta apapun yang kita miliki. Ke depan, talenta itu dapat membuahkan hasil yang  membanggakan,” kata dia. (mar)