bernasnews – Satu persatu kelompok “wartawan kagetan” yang ditugaskan “redaktur peliputan” dalam Pelatihan Humas Marsudirini Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Rumah Retret Fransiskus, Jalan Kartini 11 Muntilan, Kabupaten Magelang, Jateng, Rabu (25/1/2023) pulang dari lapangan. Modal mereka di lapangan adalah keberanian menembus aneka narasumber. Ada juga yang kemudian muncul rasa empati melihat perjuangan narasumber.
Raut wajah mereka menyiratkan suka cita karena berhasil memperoleh bahan berita. Ada kelompok yang membawa jajanan dari luar luar. Jajanan itu untuk mereka makan bersama sambil mengetik berita di laptop kelompok. Sesekali terdengar tawa kecil kelompok yang menulis di dalam ruang, sebagian tawa lepas berderai yang menulis di taman dekat Kali (sungai) Lamat (terusan dari Kali Putih), dan selebihnya bampak serius mengerjakan tugas.
“Silakan bapak ibu praktekkan materi yang diperoleh narasumber untuk memperoleh bahan berita di lapangan. Begitu selesai tugas lapangan, segera kembali ke news room editor untuk menulis. Hasilnya kita lihat dan evaluasi bersama,” kata panitia diklat Ir. Yosef Adiwahyanta dan Okto Priyo Nugroho.
Sebanyak 14 komplek tim peliputan ditugaskan panitia dan narasumber. Dari utusan Kota Semarang adalah komplek Gedangan, Bukit Semarang Baru (BSB), Poncol, Bangkong, dan Banyumanik. Kemudian komplek Ambarawa, Bawen, Bedono, Salatiga, Surakarta, Yogyakarta, Boro (Kulonprogo), Muntilan dan Bali.
Ada komplek yang beranggotakan satu orang dan ada yang sampai dibagi dalam kelompok besar. Komplek satu orang dari Gedangan dan Bali. Sedangkan komplek paling besar adalah Bangkong dengan enam kelompok.
Perpaduan dua ilmu
Dalam menjalankan tugas di lapangan, para “wartawan kagetan” Pelatihan Humas Marsudirini 2023 itu memperoleh bekal dua ilmu. Yakni ilmu jurnalistik dari narasumber Y.B. Margantoro dan ilmu kehumasan dari GM Bambang Susetyo Hastono, S.IP.,M.M.
Ilmu jurnalistik menekankan perencanaan liputan, keberanian, semangat pantang menyerah dan segera mengubah rencana ketika mengalami kegagalan. Perjuangan berikutnya adalah kemampuan menuliskan bahan liputan yang diperoleh di lapangan.
Ilmu kehumasan menekankan komunikasi persuasif sebagai lobi atau negosiasi. Lobi dianggap cenderung informal dan terjadi sebelum proses negosiasi dilakukan. Namun keduanya bertujuan mencapai suatu kesepakatan bersama dari perbedaan kepentingan dua belah pihak atau lebih.
Dari beberapa kelompok yang datang awal, bernasnews menemui tim komplek BSB yakni Setiyawan dan Mirabella Dian Wahyudi Putri. Mereka semula merencanakan meliput pedagang lato-lato yang viral belakangan ini. Namun ditunggu cukup lama, si pedagang mainan itu tidak lewat. Ide baru muncul setelah melihat sopir angkot jurusan Magelang-Mungkid-Blabak yang ngetem sekitar 15 menit menanti penumpang. Tim memberanikan diri menghampiri sopir bernama Jumadi (63) yang berkarya sejak tahun 1979.
“Dari wawancara kami selama sepuluh menit terungkap, pak Jumadi mengalami penurunan penghasilan hariannya setelah muncul angkutan online. Semula, setiap hari dia dapat membawa pulang ke rumah bersih uang Rp 70 ribu. Kini hanya Rp 40 ribu dan itupun tidak ajeg. Hasil itu sudah dipotong setoran angkot Rp 40 ribu per hari, bensin dan makan dua kali.
Kami tanya bagaimana kesan selama menjadi sopir angkot selama ini. Dia hanya menjawab banyak duka, dan tidak ada sukanya. Dia tidak mampu ganti profesi karena tidak memiliki keterampilan yang lain,” kata Setiyawan.
Ditanya kesan tim sebagai “wartawan kagetan” setelah mendengar kisah perjuangan narasumber itu, serempak tim menjawab muncul rasa prihatin. Betapa banyak wong cilik di masyarakat yang menghadapi kenyataan hidup kian berat saat ini. Untuk itu, diiperlukan solidaritas dan kepedulian bersama antarwarga demi kehidupan lebih baik.
Materi liputan yang masuk ke news room editor Pelatihan Humas Marsudirini antara lain : Pejuangan Seorang Janda Tua Menghidupi Keluarga (Yohanes Tri Utomo, SDK Marsudirini Negara Bali); Bolehkah Saya Juga Memiliki Impian? (Yuliana Tusmiati dan Stephani Ratnasari Indriastuti, KB-TK Boro); Kisah Seorang Penyapu Lapangan Pemda Muntilan (Heribertus Setyawan, Rori Hermawan, dan Margareta Esthi Supatmi, TK-SD Saverius 78 Salatiga); Modernisasi “Memangkas Rejeki” (Setiyawan dan Mirabella Dian Wahyudi Putri, TK-SD BSB).
Kemudian liputan Nderek Kersane Gusti ing Marsudirini (Katarina Titik Kristiana, Agnes Wahyuni Saptarini dan Agustina Dian Hangesti, tim Muntilan 2); Cendol Dawet yang Melegenda (Agustinus eko Wisnu A dan Silverius Reynaldo A, SD Cor Jesu Semarang); Othok-othok Sang Penyambung Hidup (Astuti Purwaningsih dan Siwi Purnamaningtyas (SMA Santa Maria Yogyakarta).
Selanjutnya Always Marsudirini (Budi Riyanto, SD Marsudirini Gedangan); Nasi Goreng Mbak Dian : Penjual Ramah Pelanggan pun Senang (Fajar Arlina Sari dan Budi Haryani, KB-TK Marsudirini Surakarta); Perjuangan Tukang Sayur (V. Sri Winarni, C Monika dan FX Iskin Triyanto, TK-SD Poncol); Games Penyemangat Belajar (Cicilia Dwi Ariansih dan Sulastri, TK Cor Jesu dan TK Martinus, Bangkong); Senyum di Balik Kumis Putih (Agnes Endah Mulyaningsih, Josephin Epsilona Yustisia dan Marini Br. Sitepu, TK-SMP Marsudirini Yogyakarta).
Kemudian Humas Never Die (Leksono Subagyo dan Yanuar Wibisono, SD Marsudirini Surakarta); Durian Pak Nur : Kucing dalam Karung (Lusia Ninik W dan Agustinus Dheny Budioni, SMA Sedes Sapientiae, Bangkong); Semangat Berkarya Selama Dipercaya (Antonius Sukata dan Heni Susanti, SD Santo Antonius 02 Banyumanik); Penjual Minumas di Sudut Lapangan (Y. Setyo Wibowo dan Arsa Mahardhita Sancoko, KB-TK Virgo Maria 1 Ambarawa); Semangat Penjual “Pentol Mewo” (R. Wiryatmoko, S.Pd. dan K. Ardy Barata, S.Pd., SMP Maria Mediatrix Bangkong). (mar)











