bernasnews — Kata kesambet kekinian menjadi viral di media sosial setelah seorang budayawan mempergunakan diksi kesambet untuk mengungkapkan, bahwa dirinya keseleo lidah atau diluar rencana saat ceramah, dengan menyamakan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dengan Firaun, seorang raja yang zalim terhadap rakyat seperti yang dikisahkan dalam kitab suci.
Kesambet menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sakit dan mendadak pingsan karena gangguan roh jahat (orang halus, hantu). Dengan demikian kesambet berarti sama dengan orang sakit, yang tentu juga ada obatnya atau penangkalnya.
Menurut perspektif agama, cara pengobatan pun juga bermacam-macam diantaranya, dengan cara ruqiyah dibacakan ayat-ayat suci yang bertujuan untuk mengusir roh halus, setan maupun jin. Juga ada dengan pembacaan mantra-mantra yang disertai dengan ritual tertentu. Tentunya dilakukan oleh pemuka agama yang benar-benar paham.
Selain itu, dalam khazanah buda Jawa sakit disebabkan oleh orang halus atau disebut lelembut itu juga ada obatnya berupa tolak bala. Hal itu, dapat ditemukan dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, yang berbunyi, “Lara marga lelembut, tetulake slametan: jenang abang, jenang putih, jenang baro-baro, lan kathul dithiwul”.
Artinya, sakit yang dikarenakan makhluk halus, tolak balanya membuat selamatan dengan membuat bubur merah, bubur putih, bubur merah putih, dan bekatul yang dikukus serupa membuat thiwul. Sementara yang dimaksud bubur adalah lazimnya bubur beras (nasi), untuk warna merah, adonan bubur dimasak dengan campuran gula merah atau gula Jawa. (ted)












