Redaksi MIB Terus Kembangkan Diri sebagai Jurnalis Sekolah BODA

Sebagian tim redaksi Majalah Idola Boda (MIB) SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun 2023 foto bersama sesudah mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik di sekolah, setiap hari Senin. (Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews)

bernasnews – Salah satu ekstrakurikuer di SMA BOPKRI 2 (BODA) Yogyakarta adalah jurnalistik yang diikuti sejumlah siswa kelas X dan XI. Selain memperoleh materi ilmu jurnalistik dari guru pengampu, para siswa ini diberi tanggungjawab oleh kepala sekolah mengelola penerbitan sekolah bernama Majalah Idola Boda (MIB). Media ini hadir dua kali setahun dan kini sudah terbit lebih dari 60 edisi.

“Oleh guru pengampu kami, tim MIB diberikan pengajaran pentingnya siswa memiliki kesadaran bermedia dan kesadaran berliterasi. Setelah itu, kami juga harus mampu mempraktekkan ilmu jurnalistik di MIB. Di media sekolah ini, ada penulisan fakta, opini dan fiksi. Kami semangat belajar dan berkarya, bukan hanya demi nilai akademik dan MIB, namun juga pengembangan diri kami masing-masing,” kata ketua kelas jurnalistik SMA BOPKRI 2 Yogyakarta sekaligus Pemimpin Redaksi MIB Cameylia Shintya Pawestri (kelas XI MIPA) kepada bernasnews, Senin (16/1/2023). 

Dalam dua pekan setelah libur semester ini, tim MIB melakukan evaluasi isi media sekolah selama ini guna peningkatan kualitas edisi berikutnya. Di luar jam ekskul, tim melakukan liputan bersama di lapangan.

Tim 1 Fransiska Adelia Sagita Okta Tri Hapsari (kelas X IPS 2) dan Laurentius Bima Setya Pamungkas (kelas (X IPS 2) meliput Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Tim 2 Raden Roro Vincentia Nathania Pualani (kelas X IPA 1) dan Merlince Nailage Naomi Walilo (kelas X MIPA). Tim 3 Cameylia Shintya Pawestri (kelas XI MIPA), Raden Roro Cindy Maulikam Asriningtyas (kelas XI MIPA) dan Locheim Amor Yewun (kelas XI MIPA) meliput Kawasan Ganjuran.   

Laporan Benteng Vredeburg

Salah asatu obyek wisata terkenal di Yogyakarta adalah Benteng Vredeburg. Museum ini berada di Kawasan Malioboro, Yogyakarta yang menjadi tempat utama turis menikmati aneka sajian wisata. Menempati tanah seluas 46.574 m persegi, museum ini juga ramai dikunjungi turis mancanegara maupun warga lokal. Hal ini karena obyek wisata ini menyimpan banyak benda sejarah penting.

Merlince Nailage Naomi Walilo (kelas X MIPA 2) dan RR Vincentia Nathania Pualani (kelas X IPS 2) melaporkan, jika kalender tanggal merah atau hari libur, museum ini ramai pengunjung. Kawasan ini mulai dibangun pada tahun 1760, difungsikan untuk benteng Kompeni yang disahkan pada tahun 1767 dan disebut benteng Rustenburgh yang artinya tempat istirahat. 

Pada tahun 1867 Yogyakarta mengalami gempa bumi sehingga benteng itu memerlukan perbaikan. Setelah pemugaran selesai oleh Daendels, nama benteng Rustenburgh diubah menjadi benteng Vredeburg yang artinya “perdamaian”.

Tempat ini kini masih sangat terawat dengan perpaduan nuansa bangunan Jawa dan Barat. Selain itu, obyek wisata ini menjadi museum yang menyimpan banyak cerita di masing- masing diorama dan ilustrasinya dengan barang-barang bersejarah. 

Seperti misalnya, cerita tentang berdirinya Muhammadiyah, Kongres Wanita, pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, terciptanya sang merah putih, aneka senjata, dan peralatan pada zaman dahulu yang dipakai Jenderal Soedirman. Juga dokumen milik dokter Soetomo yang dapat menjadi salah satu media belajar utama dan kenangan perjuangan bangsa Indonesia dalam perang melawan Belanda dan Jepang. (mar)