bernasnews — Pencanangan program zero sampah anorganik oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta pada tahun 2023 guna mengurangi beban TPA Piyungan semakin hangat menjadi pembicaraan warga kota yang memiliki semboyan ‘Berhati Nyaman’ ini.
Sosialisasi berkenaan sampah anorganik pun secara masif dilakukan oleh para pengampu wilayah baik oleh RT dan RW maupun oleh keberadaan Bank Sampah di masing-masing wilayah RW, yang beberapa tahun silam telah dicanangkan oleh Pemkot Yogyakarta guna menjawab persoalan tentang sampah anorganik.
Sampah Anorganik merupakan sampah yang sulit terurai atau membusuk tetapi dapat dimanfaatkan ulang dan masih dapat didaur ulang. Contoh, kertas, plastik, logam, kaca, dan sebagainya. Cara pengolahan sampa anorganik antara lain, dengan dibersihkan dan digunakan kembali, dibersihkan dan dibuat kerajinan, atau dibersihkan dan dibawa ke bank sampah.
Sementara kapasitas dan keberadaan bank sampah antara masih-masing juga berbeda, tergantung dari sumber daya manusia (SDM) dan manajemennya, yang semua bertumpu pada pengepul atau lapak yang menerima/ mau membeli sampah hasil pilahnya.
Salah satu contoh adalah Bank Sampah Surya Indah (BSSI) RW 08 Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta. Dalam setiap operasionalnya BSSI hanya menerima sampah pilah anorganik sekitar 45 item jenis, salah satunya minyak jelantah (minyak goreng bekas).
“Selain sampah pilah anorganik berupa barang-barang yang keras seusai dengan ketentuan dari BSSI, kami juga siap menampung minyak jelantah atau minyak goreng bekas dari warga asalkan minyak jelantah disaring terlebih dahulu dan dikumpulkan per 5 liter,” ungkap Bu Anis selaku Bendahara BSSI, didampingi oleh Bu Angkatri selaku Bagian Penimbangan.
Menurut aktifis BSSI ini, banyak warga yang belum tahu bahwa minyak jelantah juga laku untuk dijual setelah melalui proses penyaringan dari kotoran sisa makanan. Minyak jelantah termasuk limbah atau sampah anorganik yang juga dapat mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
“Dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan tidak jauh beda dengan plastik apabila dibuang sembarangan. Minyak jelantah juga bisa merusak ekosistem perairan, mencemari tanah, dan dapat menyumbat saluran air. Padahal masih ada nilai ekonomis lantaran bisa didaur ulang menjadi biodesel bahan bakar kendaraan atau pun untuk membuat sabun dan lilin,” pungkasnya. (ted)












