bernasnews – UniversitasWidya Mataram (UWM) Yogyakarta menggelar acara Diskusi Terbatas, Out Look Ekonomi Indonesia 2023, bertempat di Ruang Sidang Kampus Terpadu UWM, Jalan Tata Bumi Selatan, Banyuraden, Gamping, Kabupaten Sleman, DIY, Kamis (5/1/2023).
Diskusi bertajuk ‘Bagaimana Proyek Ekonomi Yogyakarta Tahun Depan’ ini dihadiri puluhan peserta dari kalangan akademisi dan umum. Menghadirkan nara sumber Prof. Mahfud Sholihin, M.ACC, PHD (UGM); Dr. Y. Sri Susilo, M.Si (UAJY); Dr. (Cand) Bangun Putra Prasetya, M.Sc, MM (UWM). Sebagai Keynote Speech Rektor UWM Prof Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec.
Dalam catatan yang diberi judul ‘Tetap Optimis di Bawah Bayang-bayang Ketidakpastian dan Resesi Ekonomi Global, Prof Edy memaparkan 16 poin antara lain, terkait geopolitik dampak perang Rusia dengan Ukraina terhadap ekonomi global. Juga bayang-bayang pandemi Covid-19 yang telah menimbulkan resesi ekonomi dunia tahun 2020, termasuk Indonesia dan DI Yogyakarta.
“Namun demikian perekonomian Indonesia dan DIY sudah bangkit dan melepaskan diri dari resesi sejak 2021. Tahun 2022, di tengah gejolak ekonomi dunia, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sekitaran pada angka 5,2 perseb dan untuk DIY juga pada kisaran yang sama,” kata Prof Edy.
Dikatakan, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 2022 jauh melampaui pertumbuhan 2021 yang hanya 3,69 persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi DIY 2022 sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya yang cukup fantastis 5,53 persen.
Rektor UWM juga memaparkan hasil riset lembaga ekonomi dan riset terkenal, Bloomberg tentang terjadinya resesi ekonomi dunia 2023. Utama yang akan terjadi di berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. Tingkat resesi negara-negara ASEAN, serta kawasan Asia pasifik.
“Kalau kita berpikiran lebih optimistik, meyakini prediksi Bloomberg, dan juga melihat kinerja ekonomi 2022, maka seharusnya tidak perlu mengalami ketakutan berlebihan, seperti yang disampaikan sebagian petinggi Indonesia,” ujar dia.
Prof Edy juga menyoroti kebijakan-kebijakan pemerintah utamanya terkait kebijakan moneter dan finasial, kerawanan politik dan keamanan negara jelang pemilu. Membangun optimisme dan mendorong pertumbuhan ekonomi DIY dari sektor pariwisata dan pendidikan.
Sementara Prof. Mahfud Sholihin dalam paparan yang diberi judul ‘Perekonomian DIY 2023: Doa & Harapan’ lebih menyoroti perkembangan DIY sebagai Kota Wisata dan Kota Pendidikan. Perkembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia di tingkat global.
“Dalam lanskap Keuangan Syariah Global, Indonesia berada dalam urutan ke-7 sebagai negara teratas dalam asset keuangan syariah,” beber Prof. Mahfud.
Dikatakan, dalam lanskap Keuangan Syariah Indonesia total asset keuangan dari perbankan syariah, asuransi syariah, pembiayaan syariah, Lembaga non bank syariah lainnya, sukuk korporasi, reksa dana syariah, dan sukuk negara, dari tahun 2018 hingga 2021 mengalami kenaikan.
Nara sumber kedua, Y. Sri Susilo menyampaikan paparan berupa ‘Mendorong Pertumbuhan Ekonomi DIY Tahun 2023’, yang terkait dengan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2023, berupa predksi pertumbuhan ekonomi oleh Bank Dunia, IMF, ADB dan OECD.
“Lembaga-lembaga tersebut telah memprediksi perekonomian Indonesia akan tumbuh atara 4,7 – 5,1 persen pada tahun 2023. Pemerintah Indonesia sendiri mempredisksi tumbuh sekitar 4,7 – 5,3 persen. Sementara proyeksi Bank Indonesia tumbuh antara 4, 5 – 5,3 persen,” ujar dosen yang juga penggiat pariwisata.
Dalam catatan penutup, Y. Sri Susilo lebih menekankan perlunya disusun roadmap pengmbangan produk ekspor DIY, pelatihan dan pendampingan UMKM dalam pemasaran digital dan permodalan, kebijakan pariwisata lebih fokus kepada pariwisata berkualitas dengan minat khusus wisata budaya dan wisata alam.
“Ketiga hal tersebut diperlukan keterlibatan nyata pemangku kepentingan seperti perguruan tinggi, dunia bisnis, BI, OJK, komunitas dan media massa. Keterlibatan perguruan tinggi harus dioptimalkan melalui program MBKM,” tandas Y. Sri Susilo, yang juga pengurus KADIN DIY.
Sementara itu, Bangun Putra Prasetya selaku naras umber ketiga lebih berbicara bagaimana proyeksi ekonomi Yogyakarta tahun 2023. Dosen Fakultas Ekonomi UWM lebih banyak mengupas geopolitik dunia, juga memaparkan hasil kunjungan Presiden RI Joko Widodo.
Adapun Gambaran Ekonomi Indonesia 2023, Bangun Putra lebih pada perbandingan tingkat inflasi negara maju, dan negara perkembang. Sedangkan proyeksi perekonomian Yogyakarta 2023 lebih menyoroti perkembangan pendapatan daerah, utamanya sektor pajak.
“Sektor pajak terbesar masih didominasi dari hotel dan restoran, dari tahun 2019 hingga 2022. Sementara tiga tantangan Pemda DIY pada tahun 2023 yakni, perlambatan ekonomi global yang dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, ketahanan pangan akibat fktor cost push, serta daya beli masyarakat dan mendorong penguatan social finance,” ujarnya. (nun/ ted)












