bernasnews – Berita singkat di rubrik “Langkan”, halaman Humaniora, sebuah koran ibukota edisi Kamis (15/12/2022) cukup menarik. Berita itu bertajuk Tantangan Humas Semakin Kompleks.
Ditulis dalam berita itu, tantangan praktisi hubungan masyarakat (humas) ke depan akan semakin kompleks, antara lain transformasi digital dan dinamika demografi. Kompetensi humas pun perlu ditingkatkan.
Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia Boy Kelana Soebroto, Rabu (14/12/2022), mengatakan, salah satu tantangan pelaku kehumasan adalah meluasnya era post-truth.
Penulis katakan menarik, pertama karena berita itu dimuat oleh koran nasional itu. Dalam teori berita, salah satu unsur yang harus dipertimbangkan dalam pemuatan berita adalah daya tarik. Kedua, menarik untuk dan kepada siapa? Dalam hal ini, terutama adalah bagi kalangan kehumasan di lingkungan lembaga pendidikan sampai kenegaraan. Ketiga, kompleksitas tantangan ke depan tidak hanya akan dialami oleh kalangan kehumasan, namun hampir semua elemen dalam kehidupan.
Lalu apa yang harus dilakukan? Secara internal, kalangan kehumasan harus terus belajar, berkarya dan siap beradaptasi dengan situasi yang tidak terduga. Secara eksternal, melakukan kolaborasi dengan para pihak khususnya lembaga sejenis dan masyarakat umum.
Yang dimaksudkan lembaga sejenis dengan kehumasan di sini adalah media massa. Dari sisi keilmuan, Ilmu Jurnalistik dan Ilmu Kehumasan atau Public Relations (PR) biasanya berada di satu program studi (prodi) dan satu fakultas. Dalam hal ini, Prodi Ilmu Komunikasi dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Kata kunci dari jurnalistik dan kehumasan adalah komunikasi. Keduanya sama-sama memerlukan media sebagai saluran komunikasi, sarana penghubung dan alat-alat komunikasi. Visi dan misi kedua elemen itu pun ada yang serupa, meski tidak sama persis. Beda keduanya antara lain, jurnalisik/media massa mewakili masyarakat dan lembaga, sedangkan humas atau Public Relations Officer (PRO) terutama mewakili lembaga atau organisasinya.
Berkaitan dengan hal itu, pernyataan Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia Boy Kelana Soebroto di atas juga menjadi menarik bagi akan diselenggarakannya Mini Class bertajuk Great Collaboration between Journalist and Public Relations di Ruang Auditorium Kampus 4 Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Babarsari, Yogyakarta, Rabu (21/12). Mini Class ini merupakan program PR Comm FISIP UAJY yang akan berkolaborasi dengan TERAS PERS FISIP UAJY.
Pernyataan Boy Kelana Soebroto itu kiranya dapat menjadi pemantik refleksi, diskusi atau rencana tindak lanjut PR Mini Class ini.
Media darling, perlukah?
Karena salah satu unsur titik temu jurnalistik/media pers dan kehumasan adalah media, maka pertanyaan berikutnya, perlukah humas menjadi media darling? Menjadi media darling artinya menjadi kekasih atau disukai media. Artinya pula, humas suatu lembaga atau organisasi memperoleh perhatian dan layanan pemberitaan (secara benar dan baik) lebih dari yang lain.
Retno Wulandari dalam buku bertajuk Media Darling ala Jokowi – Menjadi Sosok yang Disukai Media (2014) secara gamblang mengisahkan bagaimana seorang Jokowi menjadi pribadi yang disukai dan banyak diberitakan media dalam dan luar negeri. Untuk dapat disukai media, humas atau pribadi orang harus memiliki personal branding, memahami media, komunikasi efektif menuju media darling dan how to handle journalist?.
Memahami media perlu memperhitungkan digital disruptions alias gangguan-gangguan digital. Artinya, kita harus memahami media digital yang ritme kerjanya berbeda dengan media konvensional seperti media cetak.
Media mempunyai ciri berbeda pada masing-masing zaman. Orde Baru melahirkan ciri tersendiri dan era reformasi pun memberi warna pada media . Ada yang mengatakan, reformasi membuat kebebasan media menjadi “kebablasan”. Ciri inilah yang patut dipahami manakala ingin mendekati media.
Mengapa kita perlu memanfaatkan media? Alasannya sederhana, media merupakan pembentuk pendapat umum sehingga jika menginginkan pendapat kita diketahui oleh umum, maka sepantasnyalah kita menggunakan media.
Kemudian berkomunikasi efektif menuju media darling, pada hakikatnya adalah kesediaan mendengarkan, terbuka terhadap masukan sehingga terjadilah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik dari penerima.
Selanjutnya, how to handle the journalist? Pada dasarnya, hubungan dengan jurnalis bukan sekadar hubungan profesi, namun juga hubungan yang saling membutuhkan; hubungan kerja dan hubungan professional; percaya diri dan kompeten; ramah; be human (memanusiakan orang); menjauhkan dari sikap arogan; berterima kasih dalam berbagai kesempatan; sering berdiskusi dengan jurnalis; memelihara dan memperbarui kontak media; jangan katakan off the record; jangan berbohong; tidak menyogok jurnalis; tidak mendiskriminasikan jurnalis; memberi jurnalis lebih dari apa yang mereka butuhkan.
Salah satu contoh humas lembaga yang (pernah) menjadi kekasih media adalah SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Bukti kongkrit atas hal ini adalah terbitnya buku De Britto dalam Liputan Media (2016), Pengantar : Y.B. Margantoro, Editor : A.M. Henky Irawan. Buku ini memuat 17,7 item liputan media selama 18 tahun (dari tahuin 1998 – 2016).
Pada akhirnya, perjuangan secara umum humas lembaga (untuk menjadi kekasih media) adalah langkah untuk memulai dan konsisten menjalani tugas pokok fungsinya dengan baik. (Y.B. Margantoro, Wartawan bernasnews dan Direktur bernasnews Digital Academy)











