bernasnews – Balai Pelayanan Sosial Tresna Wreda DIY unit Budi Luhur yang beralamat di Kasongan, Kasihan, Bantul pada Sabtu (17/12/22) mendapatkan kunjungan dari perwakilan ibu-ibu pengajian Arrohmah dari Perum Jatimas dalam rangka silaturahmi dan memberikan sedikit hiburan bagi para penghuni BPSTW yang berjumlah kurang lebih 95 orang mulai dari umur 60 tahun ke atas.
Dalam sambutannya ketua rombongan Lilis Haryati menyampaikan bahwa salah satu program dari kelompok pengajian Arrohmah adalah sosial, makanya untuk melaksanakan program ini diadakan kunjungan silaturahmi ke BPSTW.
“Kami dari sie sosial berkunjung ke sini selain silaturahmi juga ingin sedikit berbagi dan menghibur kakek nenek yang berada di sini,” ujarLilis.

Sementara itu Aris Subagyo, S.Sos sebagai Kasie PJS (Perlindungan dan Jaminan Sosial) mewakili Kepala BPSTW yang berhalangan hadir menyampaikan rasa terima kasihnya atas kunjungan dari ibu-ibu pengajian Arrohmah ke BPSTW ini yang bisa untuk menghibur para lansia yang berada di BPSTW.
“Selain bisa sebagai hiburan bagi simbah-simbah di tempat ini juga ibu-ibu bisa mengetahui dan mengenal keadaan tempat ini,” kata Aris.
Selanjutnya sebagai ibu di tempat ini Bunda Sri Hartinnovmi yang merupakan Peksos (Pekerja Sosial) menyampaikan beberapa hal tentang tempat ini.
Diantaranya tentang syarat menjadi penghuni panti ini diantaranya ber KTP DIY, Usia minimal 60 tahun dan ada permasalahan baik secara fisik, sosial maupun spiritual, karena Balai ini merupakan tempat rehabilitasi.

“BPSTW ini mempunyai program Reguler yang semuanya dibiayai oleh APBD DIY seperti pangan, papan dan sandang, sedang program yang kedua adalah program pelayanan khusus. Program ini ditujukan bagi warga Balai ini dengan biaya 2,5 juta yang berlaku mulai bulan Januari yang akan datang,” ujar Bunda Titin panggilan akrabnya.
“Program pelayanan khusus ini ada fasilitas khusus seperti tempat dan pramu baktinya,” lanjut Titin.
Dalam melewati hari harinya para lansia ini setiap hari ada jadwal khusus yang dilakukan seperti menyanyi, bimbingan keterampilan, bimbingan psikologis, bimbingan agama/spiritual dan pemeriksaan kesehatan karena lansia yang menempati Balai ini ada dibagi beberapa klaster yaitu klaster potensial yang merupakan lansia yang mandiri, klaster yang resiko tinggi yaitu lansia yang kondisinya mempunyai penyakit akut atau yang gangguan mental serta yang terakhir klaster dari kelompok lansia yang semua kegiatannya harus di bantu. (Nun)











