bernasnews – Sekolah Dasar (SD) Joannes Bosco Yogyakarta mengajak siswa-siswi untuk lebih peka terhadap bencana yang terjadi di dunia khususnya di Indonesia. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan simulasi bencana untuk mengisi waktu setelah Penilaian Akhir Semester (PAS).
“Bukan sekadar tahu, lebih jauh kita mempersiapkan siswa-siawi yang tanggap, tangkas, dan tangguh dalam menghadapi bencana,” kata Kepala SD Joannes Bosco Yogyakarta Tarcisius Tri Indartanto, S.Sos. kepada bernasnews.
Menurut dia, simulasi bencana yang dilaksanakan di SD Joannes Bosco Yogyakarta, Kamis (15/12/2022) ini bukan hanya memberikan pengetahuan teoritis tetapi juga penyadaran berupa keterampilan untuk menghadapi bencana.
Simulasi bencana kali ini difokuskan untuk bencana gempa bumi. Setelah diberikan pemahaman apa itu gempa bumi, bagaimana suasana serta gambaran ketika gempa bumi itu terjadi, dan bagaimana kita dapat menyelamatkan diri ketika gempa bumi itu terjadi, kemudian anak-anak mempraktekkan simulasi bencana gempa bumi.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak bukan hanya dilatih pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga empati. Bagaimana dapat berempati dengan masyarakat yang terkena dampak dari bencana tersebut. Bencana adalah hal yang tidak dapat kita hindari, tetapi bencana dapat kita siasati,” kata Tri.
Siswa siswi kelas 1-6 mengikuti kegiatan ini dengan tertib. Kegiatan dilaksanakan di dalam kelas dan juga di luar kelas untuk proses evakuasi.
Guru Olahraga Hengky membuat alur simulasi bencana gempa bumi. Pertama, guru beserta anak-anak sedang belajar, kemudian terasa goncangan yang sangat hebat dan meja-meja pun mulai berbenturan satu sama lain. Pada saat itulah, sirine tanda bahaya dibunyikan. Salah seorang siswa meneriakkan kata “gempa… ada gempa”. Kemudian guru meminta anak-anak untuk tetap waspada dan mencari tempat perlindungan sementara yaitu di bawah meja, karena benda tersebut kokoh untuk menutupi bagian kepala kita.
Setelah gempa dirasa sudah hilang, barulah anak-anak dan guru keluar dengan hati-hati melalui jalur evakuasi dan mencari tempat yang lebih aman dan jauh dari bangunan atau pohon besar untuk menghindari gempa susulan. Demikian Tarcisius Tri Indartanto, S.Sos. (*/mar)











