Pentingnya Sadar Sehat, Sadar Bahagia dan Sadar Literasi

Buku bertajuk dr. Asdi Yudiono 30 Tahun Berkarya – Profesi yang Menginspirasi. (Foto : Humas Mitra Mekar Berkarya).

bernasnews – Sebagaimana harapan dan perjuangan setiap insan, memiliki kesehatan pribadi adalah sebuah karunia yang harus disyukuri. Di sisi lain, dalam suasana batin yang senang dan bahagia, akan sangat mendukung terwujudnya kesehatan. Kalau setiap individu sehat lahir dan batin, maka masyarakat, bangsa dan Negara juga sehat.

“Untuk menuju sehat, setiap pribadi perlu memiliki sadar sehat dan sadar senang atau bahagia, serta melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, kita juga perlu sadar literasi khususnya di bidang kesehatan sehingga kita memiliki pengetahuan atau wawasan kesehatan,” kata Penanggungjawab Klinik Intan Yogyakarta dr. Asdi Yudiono kepada bernasnews, Sabtu (3/12/2022).

Terkait dengan literasi kesehatan, dalam praktek sehari-hari di kliniknya Jalan Masjid Nomor 3 Pakualaman, Yogyakarta, dr. Asdi tidak hanya memberikan informasi kesehatan kepada pasien secara baik, namun juga melalui cara lain. Cara lain itu adalah edukasi kesehatan melalui video di layar televisi, berbagai informasi tertempel rapi di klinik, tulisan di media massa, media sosial, dan buku.

Menandai 30 tahun sebagai dokter pada bulan Desember 2022, suami Yovita Sri Setyaningsih memperoleh kado buku dari keluarganya. Buku itu bertajuk dr. Asdi Yudiono 30 Tahun Berkarya – Profesi yang Menginspirasi yang ditulis oleh Y.B. Margantoro (Penerbit Mitra Mekar Berkarya, 2022).

Buku setebal 148 halaman itu terdiri dari tiga bagian. Bagian I : 30 Kisah Asdi Yudiono, Bagian II : Edukasi, Kebersamaan dan Pelayanan Kesehatan, Bagian III : Apa Kata Mereka.

Dokter Asdi Yudiono, Yovita Sri Setyaningsih dan lima putera-puteri mereka. Asdi dalam bulan Desember 2022 genap 30 tahun menjadi dokter. (Foto : Dokumentasi keluarga).

Pribadi yang disenangi

Pada bagian I, putera ketiga Raditya Dion Mahendra yang kini sedang menuntut ilmu di Jerman, menyatakan ayahnya adalah dokter yang terpercaya. Dia masih ingat ketika kecil selalu menemani ayahnya berkunjung ke pasien di wilayah kota Yogyakarta. Pasien ayahnya dari luar kota juga gemar mengunjungi klinik di kota.

“Papa selalu siap sedia dalam menanggapi panggilan pekerjaan, terutama jika sesuatu yang penting dan mendadak datang dari rumah sakit. Menurut saya, papa adalah pribadi dokter yang disenangi oleh para pasiennya. Contoh yang baik dari papa juga saya terapkan dalam pekerjaan dan studi saya walaupun bidang medis bukan menjadi ketertarikan saya. Papa memberikan saya contoh dalam menentukan prioritas dalam hidup dan pengambilan keputusan yang tegas dalam tugas kelompok,” kata Dion.

Dokter Dimas Adhi Pradita, putera pertama Asdi yang sedang menempuh studi lanjut, menyatakan papanya adalah sosok yang berharga bagi lima orang anaknya. “Papa selalu bekerja keras agar keluarga dan orang yang dicintainya bahagia. Tiap perjuangan dan pengorbanan papa di dalamnya juga selalu ada doa dari mama. Bagi dunia, papa mungkin seorang dokter, namun bagiku papa adalah dunia itu. Kekuatan cinta dan bimbingannya telah membuatku mencapai di titik ini dalam hidup,” kata Dimas.

Di bagian I dalam pernak-pernik perjalanan sebagai dokter, Asdi Yudiono menyatakan terkesan dengan komitmen dari Santa Teresa Kalkuta, India. “Berikanlah yang terbaik dari apa yang engkau miliki dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi tetaplah berikan yang terbaik. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikirkan atas perbuatan baik yang engkau lakukan,” demikian Santa Teresa.

Menurut Asdi, pernyataan itu sungguh menyentuh dan inspiratif. Tidak mudah memang untuk melakukannya. Namun bukan tidak mungkin untuk diwujudkan.

Pada bagian II Edukasi, Kebersamaan dan Pelayanan Kesehatan mengisahkan dinamika pelayanan Asdi yang bernuansa komunikatif dan inspiratif. Maka dia sepakat atas judul buku ini Profesi yang Menginspirasi, karena profesi dokter memberikan inspirasi baginya dan sesama dalam karya kemanusiaan yang paling hakiki yakni kesehatan.  

Interaksi dan relasi Asdi sebagai seorang dokter selama 30 tahun sudah cukup banyak dan luas. Baik tim dan karyawan Klinik Intan Yogyakarta, juga mitra, sahabat, dan masyarakat umum. Mereka bicara tentang kebersamaan dengan ayah dari lima putra putri yang menanti kehadiran seorang cucu ini. Komentar mereka terangkum di Bagian III : Apa Kata Mereka. Dimulai kelompok dokter dan perawat, serta diakhiri kelompok tukang parkir dan pedagang sekitar klinik. (mar)