bernasnews – Berita singkat di halaman humaniora sebuah koran ibukota edisi Jumat (18/11/2022) mengabarkan, maestro tari Didik Nini Thowok menerima penghargaan Akademi Jakarta 2022. Selain Didik, penghargaan juga diberikan kepada kelompok paduan suara Dialita.
Ketua Akademi Jakarta Seno Gumira Ajidarma di Jakarta, Rabu (16/11) mengatakan, penghargaan ini merupakan bagian dari pemahaman Akademi Jakarta bahwa kebudayaan adalah segala bentuk pembermaknaan manusia atas dunianya seperti yang dilakukan Didik dan Dialita.
Bagi warga Yogyakarta, khususnya pemerhati seni tari, siapa tidak mengenal Didik Nini Thowok yang bernama asli Didik Hadiprayitno? Dia mampu memanfaatkan kondisi tubuhnya yang begitu lentur untuk menampilkan sebuah karya yang menarik. Kreativitas memang muncul dari orang-orang yang tidak “dipandang” dalam masyarakat.
Sejak tahun 1970-an, di Yogyakarta telah tumbuh dan berkibar seorang seniman tari pria yang namanya kini tidak hanya diakui secara nasional, tetapi juga internasional. Dialah Didik Nini Thowok. Pria asal Temanggung, Jawa Tengah yang pada tahun 1972 mulai belajar tari di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta.
Tarian Nini Thowok karya Bekti Budi Hastuti yang dia bawakan bersama teman-temannya di masa itu telah mengawali ketenarannya hingga mendapat julukan Didik Nini Thowok. Waktu itu, Bekti Budi Hastuti senior Didik di ASTI Yogyakarta sengaja merekrut Didik mahasiswa baru yang lucu dengan gaya perempuannya untuk melengkapi peran dalam tariannya.
Tidak disangka, tarian Nini Thowok langsung melejit dan semakin banyak diminati masyarakat. Rupanya kehadiran Didik dengan gaya kocak keperempuan perempuannya menjadi daya tarik tersendiri. Maka tidak mengherankan jika hingga kini Didik Hadiprayitno sangat menghormati Bekti Budi Hastuti seniornya itu.
Buku bertajuk Break The Rules Menjadi Penari Humor ala Didik Ninio Thowok Kiat Sukses & Latar Dukungnya karya Dra. Daruni, M.Hum dengan kata pengantar GKR Mangkubumi (Penerbit Pohon Cahaya, 2022) ini menceritakan dengan menarik dan gamblang perjalanan hidup dan karya Didik. Penulis buku Daruni adalah dosen tetap di Jurusan Tari FSP Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Buku setebal 124 halaman dan ber-ISBN : 978-602-4913-30-4 ini memuat empat bagian. Bagian 1 Masa Muda Didik Nini Thowok yang menguraikan kelahiran dan masa kanak-kanak Didik, mencari jati diri, menekuni tari humor sebagai kekhasan, dan sisi lain kepribadian Didik.
Bagian 2 Didik dan Sanggar Tarinya, mengisahkan proses membentuk sanggar tari, karya tari Didik Nini Thowok, dan kiat-kiat mengelola “dunia” tari. Bagian 3 Pengalaman Didik Malang Melintang di Panggung Pertunjukan, mengisahkan pula faktor-faktor pendukung keberhasilan. Bagian 4 Belajar dari Pengalaman Didik Nini Thowok. Buku dilengkapi dengan daftar Pustaka, biodata penulis dan galeri foto.
Hal menarik bagian pengalaman Didik di panggung pertunjukan antara lain pergelaran Langen Beksa, ahli rias merias, melanglang buana, menata tari untuk WS Rendra, menjadi bintang tamu Srimulat, menjadi penari serba bisa, tidak pilih-pilih panggung, menari untuk Kaisar Hirohito. Ini semua menunjukkan jam terbang, kemampuan, dan kesetian menari humor Didik.
Meski Didik senang berbagi ilmu dan karya, namun sebagaimana dikemukakan GKR Mangkubumi di kata pengantar, barangkali memang tidak mudah menjadikan Didik sebagai model untuk sukses di dunia tari. Mengapa? Karena talenta Didik yang luar biasa dari sisi fisik, kecerdasan, mental dan sebagainya.
Di sisi lain, tujuan diciptakannya sebuah buku selain mengisahkan tentang sosok dan kiprah Didik, buku ini dirancang untuk memotivasi kaum muda khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya. Maksudnya agar mereka berani menekuni dunia seni, khususnya tari, sebagai profesi yang menghidupi. Selain itu, dipaparkan juga pergulatan mengubah “kelemahan” menjadi “kekuatan”, dan “cercaan” menjadi “pujian” bahkan kekaguman.
Terima kasih maestro tari Didik “Nini Thowok” Hadi Prayitno atas karya seni tari selama ini, dan penulis Daruni atas karya buku ini. (mar)












