bernasnews – Sekolah Tinggi harus dijawab dengan berpikir idealis yakni apa yang baik dan benar, dan bertindak realis yakni apa yang mungkin bisa dilakukan untuk mencapai kebaikan dan kebenaran. Orang tua juga selalu berpesan kepada anaknya, ‘Nak kalau kamu pintar berilmu,maka kamu tidak akan terlantar.’
“Demikian pula dengan pesan konstitusi : kecerdasan bangsa akan membawa Indonesia berdaulat, adil dan makmur. Dengan begitu, saya meyakini idealisme sebagai hidayah dan tenaga bagi perubahan Sekolah Tinggi menuju ‘APMD Jaya’,” kata Ketua STPMD “APMD” Yogyakarta Dr. Sutoro Eko Yunanto dalam Pidato Kelembagaan Ketua pada Dies Natalis ke-57 STPMD “APMD” bertema Berdiri, Jati Diri, Berdikari di ruang M. Sutopo kampus setempat, Jalan Timoho 317 Yogyakarta, Rabu (16/11/2022).
Selain pidato kelembagaan ketua, acara ini juga diisi dengan launching buku Membangun Negeri Memuliakan Desa : Kiprah Alumni STPMD “APMD”. Peluncuran buku dilanjutkan sarasehan dengan pembicara Bupati Tapanuli Utara Drs. Nikson Nababan, M.Si. dan Yudi Ismono, S.Sos, M.Acc. dari Biro Pengembangan Infrastruktur dan Pembiayaan Pembanguinan Setda DIY.
Hadir pada kesempatan ini sesepuh STPMD “AMPD” Ny. M. Sutopo, Ketua Umum Yayasan Pengembangan Pendidikan “Tujuh Belas” beserta Pembina, Pengurus dan Pengawas serta para wakil ketua, civitas akademika dan undangan.
Dinamika masyarakat
Menurut Sutoro, frasa berdiri pada tema dies kali ini adalah perkara posisi, sikap dan nada dasar Sekolah Tinggi dalam menghadapi berbagai obyek, seperti aturan, standar, pengetahuan, proyek, pasar, dinamika masyarakat dan lain-lain.
Kemudian jati diri bukan sekadar identitas patriotik, melainkan martabat intelektual yang dibentuk oleh posisi berdiri, dengan menghadirkan ilmu, karya, kalimat-kalimat kunci bertenaga, branding, ikon dan lain-lain yang mencerahkan dan membuat kita menjadi kuat.
Paduan antara berdiri dan jati diri membentuk berdikari yakni berdiri di atas kaki sendiri. Dengan kalimat lain, berdikari berarti berdiri tegak lurus dengan jati diri, sekaligus berdiri membentuk dan menghadirkan jati diri.
“Hari ini orang kerap menyebut kemandirian identik dengan berdikari, namun kemandirian berbeda dengan kedirian yang egois. Kemandirian adalah soal keberanian dalam berprakarsa, bersikap, berilmu, berkarya, berdialektika yang berguna untuk membentuk jati diri secara kokoh serta memajukan institusi.” kata dia.
Selanjutnya Sutoro menyampaikan empat ranah sebagai penantang posisi “berdiri, jati diri, berdikari”. Ranah pertama, aturan yang datang dari luar dan membentuk aturan internal Sekolah Tinggi.
“Yen kabeh diatur pusat, aku njuk kon ngapa? (Kalau semua diatur pusat, lalu saya disuruh apa lagi?), demikian ungkap Gubernur DIY dalam sebuah kesempatan yang menjadi salah satu ilham bagi saya untuk menghadapi aturan,” katanya.Ranah kedua adalah ilmu pengetahuan. Ranah ketiga adalah rencara strategis yang mengandung visi, misi, strategi, program, kegiatan, capaian, dan lain-lain. Sedangkan ranah keempat adalah pasar dan animo. (mar)












