bernasnews — Rendra, yang dijuluki sebagai Burung Merak, selain dikenal sebagai penyair, ia adalah seorang aktor, penulis naskah teater dan sutradara teater. Ia mempunyai kelompok teater bernama Bengkel Teater. Dia telah meninggal bulan Agustus 2009, tetapi puisi-puisinya terus dibacakan oleh generasi berbeda-beda.
Saat Rendra membaca puisi, orang dengan segera akan terpikat kemampuannya membaca puisi. Bukan hanya terpikat, namun seperti tersihir. Penampilannya dalam membaca puisi penuh pesona, dan setiap kali dia tampil membaca puisi, panggung selalu penuh. Padahal untuk masuk, penonton harus membeli tiket yang tidak murah. Namun orang berbondong-bondong memenuhi panggung.
Kali ini, Sastra Bulan Purnama (SBP) edisi spesial akan diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya, Jalan Parangtritis Km 8,4, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (19/11/2022) pukul 15.00 WIB diisi pembacaan puisi-puisi Rendra. Sanggarbambu, yang sudah berusia 63 tahun, mengenang Rendra dengan membacakan puisi karyanya. Para pembaca adalah aktor teater, penyair, perupa, yang sudah lama bersentuhan dengan Sanggarbambu.
Mereka adalah Gentong Hariono, Nasirun, Agus Istianto, Eko Winardi, Ana Ratri Wahyuni, Kumbo, Teguh Eswe, Untung Basuki, Ocong Suroso, Liek Suyanto, Ami Simatupang.
Gentong Hariono, salah seorang inisiator acara dan anggota Sanggarbambu menyebutkan, memilih Rendra untuk dikenang, karena Rendra adalah keluarga Sanggarbambu. Pada pentas Oidipus Sang Raja pada tahun 1962 Rendra bersama study grup drama dibantu Sanggarbambu yang bertindak sebagai produser. “Bahkan perancang disain artistik panggung dan grafis para perupa Sanggarbambu, ialah Danarto dan Handogo,” kata dia.
Koordinator SBP Ons Untoro mengatakan, selain edisi spesial ini pada 16 Oktober 2019 sebelum ada pandemi covid 19, anak-anak Rendra membacakan puisi karya bapaknya. Bahkan cucu Rendra anak dari dari Tedy putra sulung Rendra, ikut tampil membacakan puisi karya eyang kakungnya. “Belum pernah anak-anak Rendra, dari Sunarti Suwandi dan Sitoresmi, tampil membacakan puisi-puisi karya ayahnya, dan Sastra Bulan Purnama memberi ruang untuk mereka,” kata dia.
Rendra memiliki sikap kritis terhadap kekuasaan. Karya-karyanya, terutama naskah drama, selalu penuh kritik terhadap kekuasaan, sehingga semasa rezim orde baru, Rendra seringkali dilarang pentas.
Sejak tahun 1950-an, puisi-puisi karya Rendra sudah dikenal luas. Beberapa judul puisi yang dikenal dari sejumlah puisi yang sudah ditulis dan diterbitkan menjadi buku ialah ‘Kotbah Di Atas Bukit’. ‘Blues Untuk Bonie’ dan lain-lain. (*/mar)












