News  

INTELIJEN : Memoar Hario Kecik tentang Revolusi Kemerdekaan

Buku INTELIJEN – Sebuah Memoar Revolusi Kemerdekaan karya Hario Kecik (Penerbit Abhiseka Dipantara, Yogyakarta 2021). (Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews)

bernasnews – Tanpa bayaran, tanpa bintang jasa, sejumput kecil Arek mengingatkan mana yang sesat dan mana yang setia pada Republik. Faceless. Nameless. Sebuah sejarah yang patetis dan menembus heroisme – Dr. Emmanuel Subangun.

Momentum Hari Pahlaman 10 November, dan terlebih Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, adalah peristiwa sejarah yang tidak boleh dilupakan oleh anak-anak bangsa ini sampai kapanpun. Bahwa semua yang dapat kita nikmati dengan penuh syukur sampai saat ini, dan ke depan, antara lain berkat jasa para pahlawan kita.

Kutipan teks di atas menghiasasi cover belakang buku bertajuk INTELIJEN: Sebuah Memoar Revolusi Kemerdekan karya Hario Kecik (Penerbit Abhiseka Dipantara, 2021). Buku setebal 481 halaman, ber-ISBN 9786239624033 ini merupakan cetakan kedua. Cetakan pertama terbit tahun 2012.

Setiap buku memoar seseorang, entah orang biasa atau tokoh, diharapkan memberikan sesuatu yang bermakna bagi pembaca khusus maupun pembaca umum. Pembaca khusus adalah mereka yang berada di lingkaran utama penulis, misalnya keluarga, lembaga, komunitas. Pembaca umum tentu saja mereka yang membaca buku ini, di ruang dan waktu yang berbeda. Dengan demikian, sebuah karya buku dapat turut melestarikan sebuah peradaban, menginspirasi, memotivasi.

Pengalaman militer pertama Hario Kecik, yang bernama lengkap Mayjen Suhario Padmodiwirio, terjadi di usia 24 tahun saat Pertempuran Surabaya 1945. Dalam Perang Kemerdekaan, dia menjadi komandan tim gerilya counter intelligence di front Jawa Timur.

Sebagai Panglima Kodam di Kalimantan Timur (19591964), dia aktif dalam Perang Konfrontasi, ‘perang minyak’ dengan imperialis Inggris. Pendidikan tingginya di Fakultas Kedokteran Ika daigaki, Jakarta (1945).
Hario Kecik yang menguasai bahasa Belanda, Jerman, Inggris, dan Rusia ini merupakan perwira tinggi TNI lulusan Fort Benning, Amerika Serikat (1957),dan Akademi General Staff Suvorov, Uni Soviet (1968). Ada 30 buku dan lukisan telah dia ciptakan. Sebagai penerima Bintang Gerilya, dia dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Surabaya tahun 2014.

Lukisan bersumber dari foto perang kemerdekaan koleksi Hario Kecik, karya kreatif seniman Boli dari Yogyakarta. (Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews)

Tentang bukunya ini, Hario Kecik menulis, “Akhirnya saya menulis tentang ‘Intelijen’, setelah bulan Agustus 1945 hingga usai Perang Kemerdekaan. Inilah INITIAL CONDITION terjadinya Intelijen Negara kita. Saya berusaha keras bercerita tentang perkembangan Intelijen kita dengan segala kekurangan dan kelebihannya; kecerobohan, kebodohan, dan daya humoristiknya; tetapi juga tentang segi ‘kemanusiaan’ beserta ‘moral’ dan ‘etik’ yang dipatuhi. Mudah-mudahan generasi abad ke-21 bangsa kita dapat menarik pelajaran yang berguna.” – Hario Kecik, Jumat 21 Oktober 2011.

Buku yang disunting Primanto Nugroho ini terdiri 21 bab. Dimulai dari kisah Yogyakarta, Januari 1946, sampai renungan futuristik. Karya dilengkapi peta, keterangan tematik, daftar singkatan, pengantar, lampiran, glosari, dan indeks. (mar)