bernasnews – Dari sebelas hal Sumpah Dokter di Indonesia yang tercantum dalam Pasal 1 KODEKI 2012, yang pertama adalah komitmen untuk membaktikan hidup guna perikemanusiaan. Ada lagi sumpah untuk menghormati setiap hidup insani mulai dari pembuahan. Selain itu, ada juga komitmen untuk mengutamakan kesehatan pasien dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.
“Sebagai dokter umum, yang 31 Desember 2022 genap 30 tahun mengabdi profesi ini, saya berusaha mengobati pasien dengan hati, rasa dan cinta. Saya berusaha meringankan penderitaan dan memperpanjang usia kehidupan. Tentu untuk melakukan hal ini semua, peran keluarga, tim kerja dan masyarakat khususnya para pasien saya sangat mendukung,” kata Penanggungjawab Klinik Intan dr. Asdi Yudiono kepada bernasnews di kantornya, Jalan Masjid Nomor 3 Pakualaman, Yogyakarta, Kamis (10/11/2022).
Patut disyukuri
Puskesmas Tempel 1 Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada tahun 1994 – 1995 adalah tugas pertama suami Yovita Sri Setyaningsih yang berputera lima orang dan tengah menanti kelahiran cucu ini.
Bagi dia, ini sebuah tugas pengabdian yang patut disyukuri, menantang dan memberikan banyak pengalaman yang berguna di kelak kemudian hari. Mengenal kehidupan masyarakat desa yang plural, lugu, tulus, apa adanya membuat inspirasi untuk dirinya menyelami kehidupan mereka. Ini sebagai dasar awal memaknai hidup.
“Tidak jarang pasien membawakan salak pondoh sebagai buah tangan untuk saya saat menjadi Dokter Puskesmas Pembantu di Merdikorejo, Mororejo dan Puskesmas Induk di Ngebong.
Banyak peternak Kambing Etawa di sekitar puskesmas. Hal ini membuat hati ingin pula mencoba beternak dengan cara nggaduh, bagi hasil dari keuntungan. Ada dua sapi juga saya pelihara, sampai melahirkan anak sapi, tapi akhirnya mati,” kata dokter alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta ini.
Pada tahun yang sama berkarya di Puskesmas Tempel, dia memperoleh kesempatan menjadi Dokter Jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta tahun 1993-1994. Saat mengawali menjadi dokter, dia baru saja lulus. Dia ingat di hari pertama bertugas saat itu pada tanggal 11 Januari 1993. Artinya, 11 hari setelah Pelantikan Dokter 31 Desember 1992 dari Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.
“Jadi dokter jaga sebuah rumah sakit swasta di pusat kota, merupakan dunia yang menyenangkan. Sampai tiga hari kadang tidak pulang ke rumah karena saking sukanya jaga dari pagi, sore, malam, dan seterusnya.
“Oh iya, ada hal yang sangat patut saya syukuri saat dinas di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Di sinilah saya diperjumpakan dengan wanita cantik yang akhirnya menjadi isteri, belahan jiwaku. Kami menikah pada tanggal 11 November 1994 dan memberikan kebahagiaan ganda dengan hadirnya lima anak, dua putera dan tiga puteri,” kata Asdi yang juga pernah menjabat Kepala Puskesmas Minggir, Sleman, bulan Januari – Oktober 1996.
“Saat dinas di Puskesmas Minggir bertepatan dengan kehadiran sepasang anak kembar kami, Dimas dan Ajeng yang berumur tiga bulan. Tiap hari kami tempuh perjalanan satu jam dan acapkali membuat rindunya hati untuk segera pulang kerja untuk menggendong anak tersayang,” kata dia.
Selanjutnya, 25 tahun perjalanan hidupnya dia persembahkan dan mengabdi di Yayasan Panti Rapih yakni di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta tahun 1996-2002 dan Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta tahun 2002-2021.
“Keputusan untuk mengambil pensiun dini di usia 54 tahun sebagai langkah tepat untuk fokus pengabdian yang lebih maksimal di Klinik Intan dan kegiatan sosial kemasyarakatan di Wilayah Kelurahan Purwokinanti Yogyakarta. Berat dalam memilih, tapi harus ditentukan pada saat yang tepat dan tiada kecewa ataupun ragu dalam memutuskan,” tambahnya.
Perjumpaan yang berbuah
Kini bersama Klinik Intan Yogyakarta, dia merasa hanya sekelumit kecil yang dapat disinggahi oleh para pasien. Meski beberapa menit dalam perjumpaan, namun nama klinik ini tidak akan pudar ditelan waktu. Hal ini karena adanya komitmen dan kesan yang indah dalam pelayanan kesehatan.
Selain itu, dengan segala upaya dan kemampuan pihaknya siap untuk menghantarkan konsep kesehatan yang penuh dengan deferensiasi dan holistik hingga ke segenap penjuru negeri.
Bagaimana motto sebagai dokter? Asdi Yudiono menjawab, menghargai hidup lebih bermakna, meringankan penderitaan, meningkatkan kualitas hidup bagi mereka yang sakit, dan menambah persaudaraan. “Karena dari situlah kita membuat kehidupan menjadi hidup, untuk diriku dan sesama,” kata dia. (mar)












