bernasnews – Mengkado karya buku kepada seseorang atau lembaga adalah langkah bagus. Ini sebentuk apresiasi yang dapat memberikan makna lebih karena buku merupakan hasil pemikiran dan kreasi budaya.
Namun ketika seseorang itu adalah tokoh masyarakat yang dihormati, kiranya perlu sebuah cara khusus untuk mewujudkannya. Hal ini menjadi pertimbangan penyunting buku antologi crita cekak Dayinta, Budi Sardjono dan Ratun Untoro. Mereka sengaja tidak memberitahu hal itu kepada 25 orang penulis buku yang berbenang merah tentang sosok wanita Yogyakarta tersebut.
“Mohon izin saya sampaikan pada kesempatan ini. Bahwa buku antologi crita cekak Dayinta ini kita haturkan sebagai kado ulangtahun ke-70 Ibu GKR Hemas pada 31 Oktober 2022. Sengaja hal ini tidak kita beritahukan terlebih dulu kepada para penulis supaya mereka bebas berimajinasi dan berkreasi,” kata Budi Sardjono pada acara diskusi dan bedah buku 20 buku anak dan antologi crita cekak Dayinta di Kraton Yogyakarta, Senin (31/10/2022).
Pada Senin (31/10), Senator Republik Indonesia GKR Hemas genap berusia 70 tahun. Lahir di Jakarta pada 31 Oktober 1952, pasangan Sultan Hamengku Buwono X dan ibunda lima orang puteri yang sudah berkeluarga semua ini tidak hadir pada acara tersebut. Dari pihak kraton diwakili Wakil Penghageng Kalih Widya Budaya KRT Rinto Isworo.
Identitas (baru) perempuan
Dosen Departemen Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta Dr. Wiwien Widyawati Rahayu, M.Hum dalam pembahasan atas buku Dayinta tersebut mengemukakan, tidak semua pengarang dalam karya sastra Jawa ini dianggap sebagai penulis feminis. Namun karya-karya yang dihasilkan setidaknya dapat dianggap memberikan semangat bahwa cara mengungkapkan dan keterusterangan sebagai buah pikirnya penuh makna dan berfungsi sosial.
“Dominasi dan marjinalisasi perempuan dalam karya ini tidak lagi menjadi prioritas untuk diperdebatkan. Sebaliknya, justru menengok dan mencermati kembali karangan perempuan atau tentang perempuan yang menunjukkan perhatian serius terhadap berbagai problematika yang berkaitan dengan identitas keperempuannya patut dilakukan,” kata dia.
Wiwien kemudian memberikan identitas (baru) perempuan dari hasil mereviu buku ini. Identitas itu adalah perempuan yang serba bisa, perempuan menjadi penguat perempuan lainnya, perempuan kokoh, dan perempuan sumber pengetahuan. (mar)












