bernasnews – Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menerbitkan 20 buah buku cerita anak dwi bahasa yakni bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Kedua puluh cerita anak itu bernuansa Yogyakarta yang sesuai dengan horizon harapan Generasi Alpha.
“Menurut teori generasi, yang dikemukakan Graeme Cadrington & Sue Frant-Marshall (2004), generasi ini adalah generasi ambigu yang belum ditentukan. Mereka masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan kepribadian. Buku-buku ini diharapkan dapat menjadi salah satu bekal untuk membentuk kepribaian Generasi Alpha,” kata Koordinator Penyunting Buku Dr. Ratun Untoro, M.Hum kepada bernasnews di Yogyakarta, Minggu (30/10/2022).
Menurut dia, Balai Bahasa DIY menerima lebih dari 400 cerita dari masyarakat yang kemudian dinilai dan direviu oleh ahli sastra Jawa, ahli cerita anak, dan pendongeng cerita anak. Targetnya adalah mencari 20 cerita anak terbaik dari 400 cerita tersebut. Tahapan selanjutnya adalah menerjemahkan kedua puluh cerita anak berbahasa Jawa tersebut ke dalam bahasa Indonesia.
“Setelah proses penerjemahan, cerita anak disunting dan sekaligus diberi ilustrasi. Untuk memikat dan menumbuhkan minat baca anak, ilustrasi tidak kalah penting,” kata dia.
Kepala Balai Bahasa DIY Dra. Dwi Pratiwi, M.Pd. dalam kata pengantar atas terbitnya 20 buah cerita anak itu mengemukakan, penerjemahan karya tulis fiksi ini bertujuan untuk menyediakan produk penerjemahan yang berkualitas. Hal ini demi mendukung interaksi ilmiah dan kultutal antarkomunitas dalam lingkup nasional dan internasional.
Judul-judul dan pengarang kedua puluh buku cerita itu adalah sebagai berikut : Kado (Desi Noviani), Adeg-adeg Anteb (Bayu Saptana), Jangan Taruhan (Rahma Khoirunnisa El Fahmi), Tampah (Yudha Prasetyani), Sekar (Umi Kuntari), Dalang Kecil Wayang Kardus (Yonas Suharyono), Belang Membalas Kebaikan (Dwi Winarno), Oleh-Oleh dari Jepang (Agus Suprihono), Arya (Suwarsidi), Doa Si Keben (Ki Sudadi).
Kemudian Jeger (Latif Nur Janah), Gigih (Venny Indria Ekowati), Juara (SriyantiS. Sastroprayitno), Kepompong (Sumardi), Beringin di Atas Sungai (Eko Wahyudi), Pengembaraan Kaci (Maya Romayanti), Memang Beda (Isngadi), Jiwa Muda Jiwa Satria (Anwar Wiyadi), Jaka Sarwa (Sri Winarti), dan Tetulung (Yoachim Agus Tridiatno).
Menurut pengamatan bernasnews, secara keseluruhan karya cerita anak tersebut menarik. Buku fiksi ini diharapkan memberikan manfaat bagi pengembangan karakter baik anak-anak. Ilustrasi pendukung teks yang bervariasi juga menambah daya tarik buku.
Catatan lain, penempatan posisi terjemahan (dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa) yang selang seling terasa kurang nyaman untuk dibaca. Alangkah baiknya, materi terjemahan disajikan secara utuh setelah bagian pertama. Ilustrasi pun dapat dibagi untuk bagian bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Sebab dengan pola penempatan selang-seling, ada ilustrasi yang menumpuk di halaman belakang tanpa teks. (mar)












