47 Komunitas Lintas Iman Berkumpul di Sleman, Ada Apa?

Anak muda dari berbagai komunitas lintas iman diajari soal tarian daerah dalam Srawung di Desa Brayut, Sleman, Sabtu-Minggu (29-30/10/2022). (Foto: ayu)

bernasnews – Sebanyak 47 komunitas lintas iman muda berkumpul di Sleman. Para pemuda yang terdiri dari berbagai agama dan kepercayaan tersebut tampak guyub duduk bersama dan membahas sejumlah isu terkini salah satunya terkait perkembangan desa.

Para pemuda tersebut disatukan dalam  yang dihelat selama 2 hari pada 29 hingga 30 Oktober 2022 oleh Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Kevikepan Yogyakarta Barat (HAK KYBAR). Tak hanya sekedar ajang kumpul-kumpul acara bertajuk Srawung Pemuda Lintas Iman ini juga membahas hal berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan berbangsa.

Romo Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang Rm Eduardus Didik Cahyono SJ mengatakan kegiatan ini sudah berjalan sejak 2014. Meski telah beberapa kali berganti tagline dan kini lebih menitikberatkan pada kegiatan yang menyasar kaum muda, nyatanya komitmen mereka menjunjung kebangsaan melalui kolaborasi kehidupan beragama tak berganti.

“Pantas kita mendukung dan melestarikan komitmen Keuskupan Agung Semarang bagaimana kita sebagai bagian bangsa dan negara Republik Indonesia turut bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan negara,” ungkapnya di Desa Wisata Brayut, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (29/10/2022).

Asekda Bidang Pemerintahan & Kesra Kabupaten Sleman mewakili Bupati Sleman juga turut mengamini tujuan besar acara Srawung Pemuda Lintas Iman ini digelar. Besar harapannya agar Kabupaten Sleman ini bisa menjadi rumah bersama yang merajut kerukunan umat beragama.

47 komunitas lintas iman berkumpul di Desa Brayut, Sabtu-Minggu (29-30/10/2022). (Foto: ayu)

“Kita menggarisbawahi menjadikan Sleman rumah seluruh warga. Acara seperti ini merajut Kebhinekaan bagaimana kita saling tukar hati,” tutur HY Aji Wulantara.

Meski acara tersebut digelar penuh kesederhanaan di sebuah Joglo berusia 200 tahun, eks Kantor Kelurahan Brayut di tahun 1940-1943 yang kini menyandang sebagai lokasi cagar budaya, semangat para pemuda nyatanya tak padam. Melalui acara ini orang muda dari berbagai agama berjumpa, bercerita, dan berencana untuk membangun karsa dan karya bersama dengan harapan bisa berani bergaul dan berperan serta talang berkat-Nya yang memberi kesejukan dan kedamaian bagi semakin banyak orang, baik di Yogyakarta maupun Indonesia. Sesekali acara pun diisi dengan kegiatan yang menjalin keakraban dari kegiatan api unggun, tarian, permainan tradisional dan kegiatan pelepasan ikan di kali.

Dalam kegiatan ini, utamanya ada tiga hal penting yang didalami yaitu Sarasehan Literasi Digital, Kepedulian Terhadap Lingkungan Alam Ciptaan dan Bedah Budaya. Masing-masing pembahasan tersebut diharapkan bisa menguatkan peserta semakin berani bergaul dan berperan di dunia digital, peduli pada lingkungan hidup dan tetap mencintai kekayaan budaya Indonesia. Selain itu, acara ini ingin membantu orang muda untuk semakin berjejaring. Sehingga semakin luas jejaring yang dibangun maka semakin luas pula peran keterlibatan orang muda di tengah masyarakat dan bisa memberi dampak yang lebih besar.

Kegiatan ini turut pula dihadiri oleh Perwakilan dari Kementerian Agama serta perwakilan Pemda Kabupaten Sleman, Vikep Kevikepan Yogyakarta Barat, Ketua Umum HAK Keuskupan Agung Semarang dan Kepala Unit Pengembangan Pastoral Kaum Muda Keuskupan Agung Semarang.

Selain itu turut pula hadir Kemenag Kepala Bimas Katolik DIY Bapak Kristoforus Sinsellius dan Romo Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang Rm Eduardus Didik Cahyono SJ. Ada pula C Lilik Krismantoro Putro dari Relawan Mafindo Yogyakarta (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) yang akan membantu peserta untuk mengenali dan melawan hoaks juga Hadir juga AG Irawan selaku Ketua FKSS (Forum Komunitas Sungai Sleman) yang mengajak peserta untuk memberi kepedulian terhadap lingkungan, khususnya sungai, yang seringkali terabaikan. (asa)