Kotoran Burung Puyuh Dapat Diolah Menjadi Pupuk Kandang, Begini Caranya

Mahasiswa KKN UNY K2022-26162 Desa Gajahan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah saat menjemur kotoran burung puyuh yang akan diproses sebagai pupuk kandang. (Foto: Kiriman Humas UNY)

bernasnews — Pupuk terdiri dari beberapa jenis diantaranya pupuk alam atau pupuk buatan. Salah satu pupuk yang dapat dikategorikan sebagai pupuk alam adalah pupuk kandang yang terbuat dari kotoran burung puyuh. Hal inilah dimanfaatkan oleh mahasiswa KKN UNY K2022-26162 Desa Gajahan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah yang memakainya sebagai pupuk tanaman sayur di desanya.

Mereka adalah Fauzan Margi Wijayanto Prodi PGSD, Putri Oktaviani Pendidikan Luar Biasa, Krista Laila Afifah Pendidikan Administrasi Perkantoran, Kharisma Pendidikan Geografi, Luthfiana Nada Faiha Mufidah Ilmu Keolahragaan, Zaqya Risda Rakhmasari Pendidikan Akuntansi, Marini Azzah Afifah PJSD, Fahrul Ahmad Fauzi Pendidikan Teknik Informatika, Sekar Arum Purnama Jati Pendidikan Ekonomi dan Yahya Irawan Pendidikan Teknik Mesin, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Putri Oktaviani menjelaskan, bahwa ketika musim kemarau tiba dan limbah kotoran puyuh itu kering terdapat beberapa petani dari daerah Cepogo, Boyolali yang mengambil limbah kotoran burung puyuh tersebut untuk dijadikan pupuk sayur. “Namun dalam proses pemanfaatan pupuk ini membutuhkan jeda waktu yang cukup lama antara proses penebaran dengan waktu tanam karena pupuk yang belum difermentasi,” ungkap Putri.

Sementara itu, Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Gajahan juga belum memanfaatkan limbah kotoran burung puyuh tersebut untuk bercocok tanam. Meskipun beberapa sudah pernah mencoba memanfaatkan, usaha tersebut gagal dikarenakan limbah kotoran burung puyuh yang belum diproses mempunyai suhu dan amonia yang tinggi sehingga mematikan tanaman.

Mahasiswa KKN UNY K2022-26162 Desa Gajahan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah yang memakainya sebagai pupuk tanaman sayur di desanya. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Oleh karena itu mahasiswa KKN UNY berinisiatif untuk mengolahnya menjadi pupuk. Krista Laila Afifah mengatakan, bahwa proses pengolahan pupuk ini dibantu oleh salah satu perangkat desa yang berpengalaman kerja di salah satu pabrik pupuk di Klaten. Proses pengolahan limbah menggunakan formula yang memanfaatkan cairan EM4, glukosa dan bubuk Trichoderma

Obat  tersebut  merupakan  obat  yang cukup  murah  dan dapat digunakan untuk menurunkan amonia dan membantu proses fermentasi sehingga bisa dijadikan sebagai pupuk kandang siap pakai. Dalam pelaksanaannya 1 botol EM4 dapat digunakan untuk memfermentasi sekitar satu ton kotoran puyuh dengan lama proses fermentasi selama 1-2 minggu.

Cara membuatnya, sebelum difermentasi limbah kotoran burung puyuh dikeringkan dengan cara dijemur. Lalu  bubuk  trichoderma  dicampurkan  ke  dalam  limbah  kotoran  burung  puyuh  yang  sudah kering. Selanjutnya cairan EM4 dicampur dengan glukosa dan air dengan perbandingan 1:1:50, kemudian disemprotkan pada limbah kotoran burung puyuh yang sudah dikeringkan. Setelah itu pupuk dimasukkan  ke dalam karung  dan  ditunggu  1-2  minggu.  Setelah proses fermentasi pupuk siap digunakan.

Sementara itu, Kaur Umum Desa Gajahan Bambang Tri Admojo memaparkan, bahwa jumlah kotoran puyuh yang terkumpul setiap tiga hari sekali itu berkisar 300 kilogram. Yang berpotensi untuk diolah menjadi pupuk sekitar 75 persennya karena sisanya masih banyak partikel pakan yang tidak sempurna dicerna. (*/ ted)