Perempuan Harus Berani Angkat Bicara Ketika Jadi Korban Kekerasan Seksual

Psikolog dari IPK, Rifqoh Ihdayati, dalam Women's Day Out, Minggu (23/10/2022) di Sleman City Hall. (Foto: bernasnews)

bernasnews – Kekerasan dan pelecehan seksual terus terjadi. Siapa saja bisa menjadi korban atas kekerasan seksual ini, namun memang lebih sering menimpa kaum perempuan.

Tidak sedikit pula korban kekerasan seksual yang memilih untuk diam. Sebagaimana diketahui, kekhawatiran korban untuk berbicara karena trauma dan takut mendapatkan stigma negative dari masyarakat, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terganggunya kesehatan mental.

Oleh karena itu, perempuan diajak untuk berani berbicara apabila sedang atau pernah mengalami kekerasan seksual tersebut.

“Korban bisa speak up. Karena kalau tidak (biasanya) akan terpuruk dan menjadi orang yang anti sosial,” kata Psikolog dari IPK, Rifqoh Ihdayati, dalam Women’s Day Out, Minggu (23/10/2022).

Alasan paling umum mengapa korban tidak segera angkat bicara adalah perasaan malu.

Perasaan tersebut biasanya timbul karena hal-hal yang berkaitan dengan seksual di Indonesia masih dianggap tabu sehingga sangat memungkinkan korban menjadi buah bibir di lingkungan masyarakat.

Selain itu juga ditambah dengan trauma mendalam yang menyebabkan korban enggan untuk membahas peristiwa tersebut ditambah dengan kemungkinan korban tidak memiliki orang yang dapat dipercaya.

Terkait hal ini, Ihdayati menyarankan agar kita dapat lebih aware terhadap teman atau kerabat kita yang sedang mengalami kekerasan seksual.

Menurut nya, dengan kehadiran saja sudah bisa membuat korban kekerasan seksual menjadi lebih tenang.

“Yang bisa kita lakukan adalah menemani dulu bahwa dia tidak sendiri. Karena kalau kita ujuk ujuk, takutnya dia jadi tidak mau cerita,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ihdayati mengatakan untuk mencegah kekerasan seksual itu terjadi, perempuan harus memperoleh edukasi yang cukup terkait seksual.

Edukasi ini tentu bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta gambaran bahwa menjadi perempuan harus memiliki nilai serta harga diri, sehingga perempuan tidak lagi dilecehkan.

“Karena kalau kalian berdiam diri kalian akan menjadi target orang lain. Kita sebagai perempuan harus say no, bicara dengan tegas. Jadi kita tidak dilecehkan semaunya,” tandasnya. (Wulan Intandari)