bernasnews – Para guru khususnya di pendidikan dasar hendaknya menjadi teladan diri sendiri dan bagi siswa dalam mempelajari pengetahuan khususnya literasi. Keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sangat ditentukan kebersamaan dalam belajar dan berkarya warga sekolah. Dalam hal ini, para guru harus memulai lebih dulu belajar dan berkarya.
“Tidak ada kata terlambat untuk belajar, termasuk bidang literasi. Literasi bukan hanya milik kalangan pendidikan, namun juga keluarga dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan program pemerintah yang meluncurkan Gerakan Literasi Nasional,” kata Kepala Sekolah Dasar Negeri Sagan Yogyakarta Anastasia Linna Wijayanti, S.Pd. saat memberikan materi GLS bagi para guru di sekolah setempat, Jalan Kartini Nomor 11, Terban, Gondokusuman, Yogyakarta, Jumat (21/10/2022).
Menurut Linna, sesuai dengan visi sekolah yakni Unggul dalam prestasi imtaq dan iptek, terampil, berbudi luhur, berwawasan lingkungan, ramah anak, serta berbudaya mutu, para guru SD Negeri Sagan terus berusaha membimbing siswa didik sebaik-baiknya.
Salah satu misi sekolah adalah membiasakan bersikap dan berperilaku antikorupsi. Ada sembilan nilai pendidikan antikorupsi diajarkan di sekolah dengan Akreditasi A (unggul) dari Badan Akreditasi Nasional pada 5 November 2019 yang berlaku lima tahun ini.
“Kesembilan nilai itu adalah kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, tanggungjawab, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan. Selain menjadi komitmen warga sekolah, nilai-nilai ini juga dapat dimanfaatkan untuk topik atau ide penulisan. Tentu dalam skala sederhana. Syukur disertai contoh prakteknya,” kata Linna.
Selain itu, menciptakan kegiatan pembelajaran yang aktif, inovatyif, kreatif, efektif dan menyenangkan juga merupakan misi yang selaras dengan konsep sekolah ramah anak. Yakni bersih, aman, ramah, indah, inklusif, sehat, asri, dan nyaman. (mar)












