Badan Kesbangpol Sleman Gelar Sarasehan Forum Pembaruan Kebangsaan

KRT. Jatinigrat sedang menerangkan sejarah Jogja dan keberadaan Tugu Golong Gilig, dalam acara Sarasehan Forum Pembauran Kebangsaan, dengan tema ‘Upaya Menjaga Persatuan dan Kesatuan dalam Kebhinnekaan’, Selasa malam (11/10/2022). Foto: Istimewa.

bernasnews — Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan Sarasehan Forum Pembauran Kebangsaan, dengan tema ‘Upaya Menjaga Persatuan dan Kesatuan dalam Kebhinnekaan’, Selasa malam (11/10/2022).

Kegiatan saresehan digelar bertepatan dengan kegiatan Festival Budaya Kepanewonan Mlati Tahun 2022, yang bertema ‘Kemilau Budaya Negeriku Kuat, Tumbuh Karakter dan Jati Diri Bangsaku’, bertempat di Kepanewonan Mlati, Kabupaten Sleman, tanggal 9 – 16 Oktober 2022.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Badan Kesbangpol Sleman Drs H Hery Sutopo, KRT. Jatiningrat selaku nara sumber, Ketua FPK Kabupaten Sleman  Nurkolis beserta jajaran anggotanya, Penewu Mlati Arifin M. Laws, Kapolsek Mlati Kompol Andhies F Utomo ST, SIK, Ketua KUA Mlati beserta Lurah Se Kepanewonan Mlati.

Juga hadir tokoh agama dan masyarakat antara lain Perwakilan dari Linmas, Perwakilan dari Relawan, Perwakilan dari Senkom, Perwakilan dari Banser dan Perwakilan dari Karang Taruna. Jumlah undangan yang hadir sekitar 100 orang.

Kegiatan diawali dengan Pengukuhan Forum Pembauran Kebangsaan Kapanewon Mlati oleh Panewu Mlati disaksikan Kepala Badan Kesbangpol Sleman. Adapun Susunan Personalia seperti yang diamanatkan pada lampiran Keputusan Panewu Mlati Nomor 27/ Kep. Panewu/ 2022 tentang Forum Pembauran Kebangsaan Kapanewon Mlati.

Forum Pembauran Kebangsaan Kapanewon Mlati berjumlah 10 orang, berikut nama-namanya 1. Ahmad Hanafi, 2. Bagus Budi Santosa, 3. Chris Sumaryono, 4. Drs. Nadjmudin, M.Par, 5. Ahmad Somad, 6. Petrus Tua Damesi Jabad, 7. Ni Made Widiarti, 8. Marhum Anthoni, 9. Hamid Tihuruwa, dan 10. Rina Gunawan.

Panewu Mlati Arifin M. Laws dalam sambutannya menyampaikan, bahwa tugas Forum Pembauran Kebangsaan Kapanewon Mlati nantinya adalah membantu tugas Panewu dalam menciptakan kondisi pembauran kebangsaan yang kondusif di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

Menurut dia, tujuan tersebut akan tercapai dengan memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam suasana yang beraneka ragam suku, budaya, agama, etnis, dan golongan yang sungguh-sungguh, sinergis, dan berkelanjutan.

Sementara berkaitan dengan kegiatan Festival Budaya, Panewu Mlati menyampaikan, kebudayaan merupakan  suatu wadah keragamaan untuk mempersatukan berbagai elemen masyarakat yang berbeda-beda. “Dengan banyaknya kejadian yang melibatkan dan mengarah ke etis diharapkan dapat berkurang dengan adanya berbagai aktivitas budaya,” lanjut Arifin.

Sementara itu Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten  Sleman Drs H Hery Sutopo menyadari, bahwa Sleman memiliki karaktritis dan sudah menjadi hukum Tuhan dan merupakan kota pelajar sehingga memiliki keunikan sebagai  Indonesia mini itu ada di Sleman. “Dari sisi Etnis, Budaya, Agama. Pemkab Sleman berupaya memfasilitasi anak bangsa yang cerdas untuk tetap rukun dan damai, berdampingan sehingga dapat menjalankan aktivitas masing-masing dengan sebaik-baiknya,” kata dia.

Lanjut Hery Sutopo menjelaskan, Pemkab Sleman memfasilitasi terbentuknya forum-forum seperti Forum Pembauran Kebangsaan, Forum Kerukunan Umat Beragama, Forum Kewaspadaan DIni Masyrakat, dan lain sebagainya. “Dengan forum ini segala permasalahan yang menyangkut agama, ras, suku, etnis, budaya, dan lainnya dapat diselesaikan dengan baik dan dapat mengantisipasi segala permasalahan yang kemungkinan timbul di masyarakat,” tandarnya.

Sementara itu KRT. Jatiningrat yang pernah menjabat Sekwilda Sleman 7 tahun lamanya menyampaikan materi  dengan tema ‘Budaya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat’. “Dikatakan Sleman ini sangat didambakan  karena banyaknya pendatang dari luar baik belajar karena merupakan pusatnya pendidikan di Yogyajarta maupun mencari nafkah,” kata dia.

“Sehingga tentunya menimbulkan masalah – masalah yang komplek berada di Sleman. Untuk mengatasinya dengan memperkuat budaya,” lanjut penghageng Kraton Jogja yang akrab disapa Romo Tirun.

Romo Tirun juga menyampaikan, bahwa awalnya Tugu Jogja berujud Golong Gilig yang melambangkan persatuan dan kesatuan warga, namun dirubah oleh Belanda menjadi bentuk yang seperti sekarang karena penjajah pada waktu itu tidak menginginkan warga Jogja bersatu. “Pancasila itu juga sebagai dasar yang  dapat mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” tegas dia. (nun/ ted)