PDI Perjuangan Urung Bangun Sekolah Partai di Bantul, Dialihfungsikan jadi Sekolah Lapang Berbasis Ekologi

Pembangunan Sekolah Lapang Bantul/Foto: Istimewa

bernasnews– Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mengambil langkah strategis dengan membatalkan rencana pembangunan Sekolah Partai di Kabupaten Bantul.

Partai berlambang banteng itu memutuskan mengalihfungsikan lahan seluas tiga hektare menjadi Sekolah Lapang yang berfokus pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekologi masyarakat.

Keputusan tersebut menandai babak baru orientasi gerakan partai di tingkat daerah. Alih-alih membangun pusat pendidikan politik formal, PDI Perjuangan memilih menghadirkan ruang pembelajaran berbasis lingkungan yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat.

Kebijakan itu disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, di sela agenda penanaman pohon Kepel di Taman Budaya Embung Giwangan, Kota Yogyakarta, Senin (16/2/2026).

Hasto menegaskan bahwa partai sebelumnya memang merencanakan pembangunan Sekolah Partai di atas lahan tersebut. Namun, dinamika persoalan lingkungan dan rekomendasi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) mendorong perubahan arah kebijakan.

“Sebelumnya memang akan kami pakai untuk sekolah partai. Namun, melihat persoalan ekologi saat ini dan sebagai tindak lanjut rekomendasi Rakernas, tanah tersebut akan dipakai untuk Sekolah Lapang,” tegas Hasto.

Ia menjelaskan bahwa partai ingin merespons krisis ekologis secara konkret. Karena itu, PDI Perjuangan memilih menjadikan lahan tersebut sebagai pusat pembelajaran lingkungan yang aplikatif dan berkelanjutan.

Sekolah Lapang Berbasis Ekologi di Bantul

Sekolah Lapang di Bantul akan menjadi pusat pelatihan lingkungan terpadu. PDI Perjuangan akan mengembangkan berbagai program strategis, mulai dari nursery atau pembibitan tanaman, konservasi lahan, hingga pengolahan sampah organik menjadi pupuk.

Melalui program tersebut, partai mendorong kader dan masyarakat untuk terlibat langsung dalam praktik pelestarian lingkungan. Kegiatan pembibitan akan mendukung penghijauan wilayah, sementara pengolahan sampah organik akan membantu mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

Ke depan, operasional dan koordinasi Sekolah Lapang akan berada di bawah arahan Hasto Wardoyo yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Yogyakarta.

Hasto Kristiyanto menekankan bahwa kebijakan tersebut menjadi wujud nyata implementasi nilai Memayu Hayuning Bawono dan semangat merawat pertiwi.

“Ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai Memayu Hayuning Bawono dan merawat pertiwi dapat diimplementasikan dengan nyata. Kami ingin tradisi berpikir kritis dan kepemimpinan intelektual di Yogyakarta membumi pada problematika rakyat,” ujarnya.

Hasto Wardoyo menyambut positif penugasan tersebut. Ia menilai program Sekolah Lapang sejalan dengan komitmen dalam menata taman kota, membersihkan sungai, dan memperkuat sistem pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta.

Ia menegaskan bahwa gerakan Rawat Pertiwi berjalan beriringan dengan program pengentasan kemiskinan dan penanganan stunting di Kota Pelajar.

“Merawat lingkungan itu sama maknanya dengan merawat kehidupan. Kami juga melaporkan bahwa lewat semangat gotong royong tanpa APBD dan APBN, kami telah melakukan bedah rumah sebanyak 182 unit,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan berbagai program sosial dan lingkungan di Kota Yogyakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Hasto Wardoyo juga memaparkan capaian signifikan dalam penurunan angka stunting. Ia menyebut bahwa dukungan anggaran sebesar Rp100 juta per kelurahan yang diperjuangkan Fraksi PDI Perjuangan di DPRD DIY berhasil memperkuat intervensi di tingkat akar rumput.

Hasilnya, angka stunting di Kota Yogyakarta turun drastis dalam kurun waktu satu tahun.

“Dari angka 14,8 persen, saat ini angka stunting di Yogyakarta sudah turun menjadi 8,4 persen dalam waktu satu tahun. Ini adalah hasil gotong royong semua pihak untuk memastikan generasi mendatang tumbuh sehat dan berprestasi,” ungkapnya.

Penurunan tersebut menunjukkan sinergi antara kebijakan anggaran, kerja kader, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan ibu dan anak.

Kerja Nyata Kader di Akar Rumput

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, Eko Suwanto, menegaskan bahwa kader partai terus bergerak melakukan kerja nyata di lapangan.

Ia melaporkan bahwa normalisasi aliran sungai yang melintasi wilayah Kota Yogyakarta menjadi agenda rutin yang berjalan secara konsisten. Selain melakukan penanaman pohon, kader juga membersihkan bantaran sungai untuk mencegah banjir dan pencemaran.

“Selain menanam pohon, kami juga konsisten melakukan normalisasi sungai. Beberapa waktu lalu kami bersama Pak Ganjar Pranowo melakukan bersih-bersih di Sungai Code, dan aksi ini terus berlanjut sebagai implementasi ideologi merawat pertiwi,” tegasnya.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa transformasi lahan di Bantul menjadi Sekolah Lapang merupakan bagian dari gerakan ideologis. Hal ini menekankan keberpihakan pada lingkungan dan kesejahteraan rakyat.

Keputusan PDI Perjuangan mengalihkan pembangunan Sekolah Partai di Bantul menjadi Sekolah Lapang berbasis ekologi mencerminkan respons adaptif terhadap tantangan zaman.

Partai tidak hanya berbicara tentang pendidikan politik, tetapi juga menghadirkan solusi konkret atas persoalan lingkungan, kemiskinan, dan stunting.

Dengan mengintegrasikan nilai ideologis, gerakan ekologis, dan kerja nyata di akar rumput, PDI Perjuangan berupaya memperkuat posisi sebagai partai yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Transformasi lahan tiga hektare di Bantul itu kini menjadi simbol arah baru perjuangan: dari ruang kelas politik menuju laboratorium hidup pelestarian lingkungan dan pemberdayaan rakyat. (ef linangkung)

toto togel

situs togel

togel online

toto togel

situs slot

link togel

slot online

togel online

toto togel

situs togel

situs toto

toto togel

situs toto

kawijitu

situs toto

kawijitu

toto slot

situs toto

toto online

situs slot

situs toto

slot gacor

kawijitu

kawijitu