bernasnews — Sekolah adalah salah satu lingkup dari sekian banyak lingkup yang menjadi wadah untuk melakukan pembudayaan literasi, karena di sinilah proses edukasi paling banyak dilakukan bersama para pendidik yang sudah memiliki wawasan dalam melakukan pendampingan kepada siswa.
Permasalahan yang masih sering terjadi adalah pemaknaan literasi yang masih sempit, hanya pada kemampuan membaca dan menulis saja, sehingga umumnya sekadar direlasikan pada mata pelajaran tertentu saja yaitu pelajaran Bahasa Indonesia. Pemaknaan literasi saat ini sudah semakin meluas tidak hanya membaca dan menulis apa yang diajarkan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, namun kemampuan siswa dalam memahami berbagai macam teks, memaknainya, mengkritisi, mencari kebenaran informasi, memaparkan pandangan dan menentukan respon dari apa yang sudah mereka baca, amati dan lihat.
Siswa juga diajak untuk dapat mengomunikasikan informasi yang diperoleh dengan bahasa yang santun dan terdidik sehingga ide, gagasan dan pemikiran siswa dapat dituangkan tidak hanya dalam bentuk tulisan namun dalam berbagai bentuk produk baik narasi, orasi maupun gambar.
Dengan pemaknaan yang luas tentang literasi dapat diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya semua mata pelajaran yang dipelajari siswa sama-sama memiliki peluang yang besar untuk dikembangkannya aktivitas literasi. Setiap guru yang mengampu pelajaran perlu kiranya diberi penguatan terkait bagaimana literasi dikembangkan di dalam mata pelajaran masing-masing guru pengampu. Sehingga budaya literasi dapat terintegrasi ke semua mata pelajaran.
Membaca adalah salah satu sarana siswa untuk mengembangkan kemampuan literasinya. Setiap guru sesungguhnya dapat mengolah berbagai jenis bahan bacaan yang dapat direlasikan dengan masing-masing mata pelajaran. Siswa umumnya senang dengan hal-hal yang menantang, menarik dan hasilnya dapat langsung mereka akses. Hal ini perlu ditangkap oleh setiap guru bahwa anak senang tantangan. Maka pemilihan penugasan literasi juga perlu memikirkan bahan yang menantang siswa disesuaikan dengan isu sehari-hari yang mereka alami dan mereka bicarakan dengan teman sebaya.
Literasi matematika
Seorang guru matematika biasanya sering mengeluh dengan susahnya mereka memasukkan unsur literasi di dalam mata pelajaran mereka. Karena apa yang diajarakan adalah pelajaran eksak dan hanya membutuhkan angka dan gambar saja. Pelajaran matematika sesungguhnya lahir dari kebutuhan kehidupan siswa sehari-hari. Karena kegiatan menghitung, bertransaksi dan segala aktivitas yang membutuhkan perhitungan juga menjadi bagian dari aktivitas siswa sehari-hari.
Hal ini menjadi menarik sesungguhnya jika pelajaran tersebut mampu menemukan titik di mana literasi dapat dikembangkan dengan baik. Siswa dapat diajak membaca struk belanjaan orang tua mereka sehari-hari, menghitung berapa kebutuhan kalori mereka dan berapa kalori yang sudah mereka konsumsi setiap harinya. Pada akhirnya siswa akan berfikir kritis dan menggunakan logika matematika yang baik dalam kehidupan nyata.
Menulis menjadi satu bagian kompetensi literasi yang juga menantang untuk dikembangkan di sekolah. Siswa akan merasa berat bahkan kehabisan kata-kata jika guru meminta mereka menulis atau mengarang cerita. Apa yang menyebabkan ini terjadi. Habit menulis memang tidak dimiliki oleh semua orang, namun kegiatan menulis sesungguhnya menjadi kebutuhan kita setiap harinya. Sayangnya selalu dilakukan dalam kondisi formal dan penuh kepentingan.
Kurangnya pengalaman dan wawasan menyebabkan anak susah untuk menuangkan gagasan nya dalam tulisan dan tulisan yang dihasilkan setiap harinya di buku tulis mereka hanyalah tulisan yang penuh kepentingan, yakni menyadur buku, menyalin tulisan dipapan dan menulis apa yang disampaikan oleh guru. Siswa sedikit sekali mengalami hal menarik disekolah selain belajar dan beraktivitas akademik.
Oleh karenanya, setiap guru dianjurkan untuk memiliki aktivitas menarik, menyenangkan, dan bermakna. Aktivitas yang melekat dalam ingatan dan menjadi penguat wawasan siswa inilah yang sesungguhnya dapat menjadi rangkaian tulisan menarik jika dinarasikan lewat tulisan atau paparan.
Siswa terkadang susah membuat kata-kata tapi mampu membahasakan suara hatinya melalui gambar, puisi, poster, cerita pendek atau hanya sekadar status singkat yang bermakna. Membiasakan siswa menuangkan gagasannya dalam berbagai model yang mereka senangi juga menjadi salah satu pemacu mereka untuk memiliki karakter literate.
Selama ini, yang terjadi umumnya guru hanya memfasilitasi satu skill saja dalam literasi yakni menulis karangan, essay atau artikel. Padahal ada sebagian mereka yang dapat menuangkan pemikiran dan gagasan melalui media tulisan yang lain.
Kemampuan berbicara
SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta saat ini mengembangkan podlisa yakni podcas literasi Muhdasa. Podcas ini mewadahi siswa-siswa yang memiliki kemampuan berbicara yang lebih dibandingkan teman lainnya. Anak anak yang talk active difasilitasi untuk dapat berkomunikasi dengan baik. Kelebihannya dalam berorasi dapat terwadahi di sini, menjadi satu bagian pembinaan literasi sekolah untuk siswa siswa khusus yang potensial dalam berbicara.
Pengarusutamanan isu literasi juga dilakukan pada setiap momen sekolah. Menulis menjadi kegiatan habituasi. Tulisan siswa diapresiasi dan dibukukan. Hal ini menjadi penyemangat mereka untuk terus berkarya.
Sesungguhnya aktivitas literasi sangat dinamis. Siswa kita butuh berbagai pilihan aktivitas literasi agar mereka dapat mengekspresikan pikiran dan gagasan yang mereka miliki dari apa yang mereka baca, lihat, amati dan rasakan melalui berbagai bentuk media ekspresi. Menulis, berpuisi, menggambar, podcast adalah aktivitas menarik yang dapat dipraktekkan di sekolah. Setiap mata pelajaran adalah literasi, sehingga kegiatan literasi dapat dilakukan di setiap mata pelajaran yang anak-anak pelajari setiap harinya di sekolah. (Esti Priyantini, S.S., M.Pd.BI, Kepala SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta)












