BERNASNEWS.COM – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai daerah agraris yang masyarakatnya sejak dulu merupakan petani atau hidup dari pertanian, bayak sekali tradisi-tradisi yang dilakukan oleh leluhur dan menjadi budaya hingga kini. Salah satu budaya yang masih bertahan hingga kini adalah ‘Wiwitan’.
Wiwitan dari kata wiwit (Bhs. Indonesia, mulai) merupakan acara ritual yang dilakukan oleh petani untuk memulai pelaksanaan petik/ panen padi yang telah menguning di sawah. Ritual ini dipimpin oleh seorang pemangku atau sesepuh desa, dengan melantunkan doa-doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, disertai sesaji berupa nasi tumpeng maupun jajanan pasar ujud rasa syukur.

Dalam rangka memetri dan melestarikan budaya, Kalurahan Mandiri Budaya Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul dan fasilitasi oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dengan Dana Keistimewaan tahun 2022, menggelar Upacara Adat Wiwitan, Minggu (27/2/2022), di Bulak Donotirto, desa setempat.
Penyelenggaran tradisi upacara adat Wiwitan tampak meriah meskipun dilakukan dengan protokol kesehatan dan aturan PPKM. Acara berdurasi dua jaman diawali dengan kirab bregada prajurit, pembawa jodhang ( peti berisi makanan), dan kelompok jathilan. Dihadiri oleh Tim Monitoring mewakili Dinas Kebudayaan DIY, perwakilan Dinas Kebudayaan Bantul, perwakilan Kapanewon Kasihan, Lurah Bangunjiwo H. Parja ST MSi beserta jajarannya, dan masyarakat sekitar.

Dalam sambutannya, pemangku wilayah baik perwakilan Kapanewon Kasihan dan Lurah Bangunjiwo hampir senada, bahwa tradisi atau budaya Wiwitan merupakan manifestasi dari gurub rukun warga yang harus tetap diuri-uri dan dipelihara. Sementara dari perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul berpesan agar potensi budaya unggulan itu untuk terus diangkat.
RM Donny S Megananda, SSi, MBA selaku Tim Monitoring dan mewakili Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menyampaikan ucapan selamat atas penyelenggaraan Upacara Adat Wiwitan, di Bulak Donoharjo. “Penyelenggaraan acara dengan Danais 2022 sebagai wujud dukungan nyata Pemda DIY terhadap pelestarian budaya tradisi yang dimulai dari masyarakat,” katanya.
Pengelola Museum Wayang Kekayon ini juga menambahkan, bahwa ketahanan budaya bangsa dimulai dari bagaimana sebuah desa/ kalurahan budaya menyelenggarakan upacara adat secara rutin. “Penyelenggaraan upacara adat tinggalah leluhur yang adi luhung adalah sebagai bentuk syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa,” terang RM Doni kepada Bernasnews.com usai acara. (ted)











