BERNASNEWS – Radikalisme menjadi salah satu hal yang hingga kini masih menjadi permasalahan di Indonesia. Menangkal radikalisme tak hanya menjadi tugas pemerintah saja, tetapi juga masyarakat.
Koalisi Mahasiswa Anti Radikalisme (Komar) ikut ambil bagian dalam upaya untuk menangkal radikalisme lewat gelaran diskusi. Para mahasiswa yang tergabung dalam Komar itu menyadari jika radikalisme perlu ditangani dengan sungguh-sungguh. Diskusi digelar pada Jumat (25/2/2022) di Yogyakarta.
Acara diskusi tentang radikalisme ini bertujuan ingin menyadarkan masyarakat khususnya anak muda agar tidak mudah didoktrin oleh kelompok radikal. Pasalnya, kelompok radikal memiliki banyak cara agar masyarakat terpengaruh.
Fahri, master of ceremony (MC) acara diskusi ini mengatakan bahwa mahasiswa dituntut untuk mempunyai wawasan atau ide-ide baru dan lebih terbuka. Sehingga mahasiswa harus mampu memberikan terobosan baru terhadap masyarakat yang tidak sadar akan hal itu.
“Radikalisme ini merupakan hal yang paling penting kita bahas dalam diskusi kali ini. Sebab, isu radikalisme merupakan hal yang paling urgen dalam suatu negara, apalagi negara Indonesia,” ujarnya.
Diskusi dikemas secara menarik untuk membuat para mahasiswa tertarik membahas tentang isu-isu agama, nasionalisme. Selain itu, ini juga menjadi upaya untuk meningkatkan pemahaman bela negara.
Komar menilai jaringan radikalisme di Indonesa memiliki akses tertutup dengan pendanaan tidak langsung berupa Kotak Amal yang disebar di seluruh pelosok tanah air.
Kotak amal yang diberikan oleh kelompok radikal itu merupakan hal yang paling sederhana yang tanpa disadari masyarakat bahwa kotak amal itulah merupakan rangkaian yang dibuat oleh kelompok radikal untuk menjalankan organisasinya agar lebih maju. Kotak amal itu sudah banyak di Indonesia dan tersebar luas di beberapa daerah di seluruh Indonesia.
“(berdasarkan data) Kotak Amal itu tersebar di berbagai kota, diantaranya Sumut dengan jumlah 4.000 kotak, Lampung 6.000 kotak, Jakarta 48 kotak, Semarang 300 kotak, Pati 200 kotak, Temanggung 200 kotak, Solo 2.000 kotak, Yogyakarta 2.000 kotak, Magetan 2.000 kotak, Surabaya 800 kotak, Malang 2.500 kotak dan Ambon 20 kotak yang ada di Indonesia,” ujar Rifai, salah seorang anggota Komar.
Juju, peserta diskusi, menambahkan bahwa Radikalisme melalui gerakan di akar rumpun memang sangat tertutup. Akan tetapi hal itu menjadi ancaman besar bagi mahasiswa untuk meluruskannya, karena mahasiswa mempunyai sifat agen of control.
“Mahasiswa harus menjadi garda paling depan dalam urusan apapun, apalagi dalam urusan ancaman Radikalisme yang ada di Indonesia,” tambah JuJu selaku peserta diskusi.











