Mengulik Perjanjian Giyanti Secara Mendalam

BERNASNEWS – Perjanjian Giyanti menjadi salah satu sejarah yang memberikan pengaruh bagi Yogyakarta. Perjanjian Giyanti berawal dari kedatangan perusahaan kongsi dagang VOC ke pelabuhan Sunda Kelapa yang kemudian mereka namai Batavia di awal abad 16 menjadi awal malapetaka berkepanjangan di bumi Nusantara. VOC lambat laun tak hanya berdagang namun juga berpolitik. VOC membentuk pasukan militer untuk mengamankan mata rantai pasok dari wilayah-wilayah lain. Sontak ini memicu perlawanan khususnya dengan penguasa kerajaan-kerajaan.

Raja Mataram Sultan Agungpun menyerang pusat kekuasaan VOC di Batavia pada 1628 dan 1629. Perlawanan juga datang dari pedagang Cina yang pada abad 14 lebih dulu membangun jaringan dagang di Nusantara. Hingga akhirnyapun meletus geger pecinan di Batavia pada tahun 1740 antara VOC dengan laskar Cina. Puluhan ribu orang Cina dibantai pasukan VOC.

Orang-orang Cina selanjutnya menyingkir ke wilayah timur dan bersekutu dengan pewaris penguasa Mataram. Sunan Paku Buwono ll yang semula turut membantu perjuangan orang² Cina melawan VOC berbalik bersekutu dengan VOC. Sikap ini memicu perang terbuka. Pecah geger pecino pada Juni 1742 di Kraton Kartosura. Kraton diserang. Sunan dan VOC menyingkir ke Ponorogo.

Setelah menyusun kekuatan dan mengundang bala bantuan kekuatan militer yang lebih besar, pada Desember 1742, Kraton Kartosuro berhasil direbut kembali. Namun Kraton telah hancur karena peperangan. Sehingga Sunan memindahkan kratonnya ke Kota Surakarta. VOC meminta balas jasa kepada Sunan. Sehingga akhirnya sebagian wilayah strategis Mataram di pesisir Jawa seperti Rembang, Surabaya, Madura beralih ke tangan VOC. VOC pada akhirnya “menyublim.” Pejabat VOC adalah pejabat Kerajaan Belanda. Begitu sebaliknya.

Hal ini memicu rasa tidak senang sejumlah bangsawan Mataram. Pecah pemberontakan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Putera dari Aria Mangkunegoro yang dibuang Belanda ke Srilanka. Pemberontakan Mas Said sangat merepotkan Sunan. Sehingga Sunan membuat sayembara, barang siapa bisa meredam pemberontakan akan diberi hadiah tanah Sukowati.

Pangeran Mangkubumi memenangkan sayembara itu. Namun karena tekanan Belanda Sunan mengingkari janjinya. Mangkubumi marah dan kecewa. Ia mengobarkan perlawanan. Bahkan kemudian Mangkubumi dan Mas Said bersekutu menggempur Sunan dan Belanda. Menjelang ajal pada akhir tahun 1749 Sunan menyerahkan Kraton Mataram kepada Belanda dan meminta jaminan suksesi mengangkat anaknya menjadi Paku Buwono lll. Keinginan itu dipenuhi Belanda. Pada saat bersamaan Mangkubumi juga dinobatkan rakyat di Kabanaran menjadi Sunan dan Mas Said sebagai patihnya. Perang terus berkecamuk.

Hingga akhirnya Belanda menempuh jalur diplomasi. Setelah melalui serangkaian negoisasi alot, akhirnya digelar perjanjian antara Belanda diwakili Gubernur Jendral Nicholas Hartingh sebagai penguasa representatif Kraton Mataram Surakarta dengan Mangkubumi. Mangkubumi diakui sebagai Sultan dan memperoleh separo wilayah kerajaan Mataram. Peristiwa ini dikenal dengan Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Selanjutnya pada 13 Maret 1755 Mamgkubumi memproklamasikan berdirinya Kasultanan Yogyakarta dan mulai menempati Kraton Yogyakarta yang selesai dibangun sejak 7 Oktober 1756.

Keberadaan kongsi dagang VOC Belanda dalam periode-periode berikutnya “masih menciptakan masalah serius” dengan Kasultanan Yogyakarta. Tinta kelam sejarah kembali tertoreh dengan meletusnya perang Jawa atau De Java Oorlog pada tahun 1825-1830 yang dipimpin putera Sri Sultan HB III yakni Pangeran Diponegoro.

Keberadaan kaum kolonialis Belanda ini baru benar-benar terusir dari bumi Nusantara ketika Sri Sultan HB IX sebagai pemegang mandat kuasa penuh atau plein pouvoir dari Presiden Soekarno mensupervisi penarikan mundur pasukan Belanda pada 30 Juni 1949 dari Indonesia yang saat itu beribukota di Yogyakarta. Dengan demikian berakhir sudah kekuasaan kolonialis Belanda di bumi Nusantara lebih dari 300 tahun.

Simak informasi selengkapnya dan mendalam lewat ‘Dialog Keistimewaan Perjanjian Giyanti’ yang digelar secara LIVE di channel Youtube Paniradya Kaistimewan DIY bersama cucu Sri Sultan HB IX yakni Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi yang juga Ketua Umum KADIN DIY.