BERNASNEWS.COM — Pendidikan harus menjadi lentera yang menyala di masa pandemi. Ketika pembelajaran tatap muka belum memungkinkan diperlukan ekosistem yang baik dimana terlibat pemerintah, orang tua, sekolah yang terdiri dari para guru hebat yang mempunyai karakter adaptif dan inovatif terhadap pemberian kualitas pendidikan yang baik kepada siswa siswinya.
Hal itu disampaikan oleh KPH Wironegoro selaku Direktur Sekolah Tumbuh dalam sambutan di acara Talk and Share: “Anak Mandiri Belajar saat Pandemi. Bisa kok!”, Sabtu (30/1/2021) lalu. Talk and Share dari Sekolah Tumbuh ini merupakan acara pertama pada tahun 2021 dan juga merupakan rangkaian agenda Open House Sekolah Tumbuh Tahun Pelajaran 2021/2022. Menghadirkan nara sumber Alissa Wahid, Psikolog Keluarga dan Prameshwari Sugiri, Pemimpin Redaksi kumparanMOM.

Alissa Wahid memaparkan, ada banyak perbedaan
kondisi rumah baik sebelum maupun selama pandemi, seperti pendapat bahwa orang
tua di ruamah lebih galak daripada guru. Hal tersebut sangat wajar karena
hubungan orang tua dan anak sangat dekat sehingga akan menjadi apa adanya. “Bahkan
selama pandemi, ruang psikologis orang tua menjadi lebih kecil (24 jam bersama
anak) sehingga sumbu emosi lebih pendek,” ungkap Alissa.
Padahal ketika kita akan membangun regulasi diri pada anak, lanjut Alissa Wahid, kita perlu menciptakan relasi orang tua dan anak (relasi parental) juga relasi ayah dan ibu (relasi marital). Masalah yang ada saat pandemi sebetulnya bukan masalah baru, melainkan masalah yang sudah ada sebelumnya. Namun menjadi lebih nampak saat pandemi ini, terutama karena waktu anak sebagian besar di rumah, seperti masalah pada kemandirian, komunikasi, pembagian peran, gaya belajar, dan sebagainya.
“Pada saat pandemi ini misalnya, orang
tua dapat mengajarkan kepada anak untuk membuat keputusan akan
tugas-tugasnya, mana yang bisa dikerjakan sendiri, mana yang perlu bantuan orang
tua, mana yang lebih mendesak,” papar Alissa.
Sementara Prameshwari Sugiri atau biasa disapa Imesh menambahkan, bahwa orang tua juga perlu belajar lagi agar dapat mendampingi anak. “Selain itu banyak cara untuk membantu anak agar konsisten dan bisa mandiri belajar, yakni dengan kontrak harian yang dibuat bersama anak. Kemudian bisa dengan cara membuat jurnal untuk meregulasi emosi mereka,” terang Imesh.
Sadar akan perannya sebagai lembaga pendidikan berbasis komunitas, Sekolah Tumbuh kontinyu mengambil bagian dari solusi melalui edukasi bagi orang tua dan rekanan pendidik di Indonesia. Sekolah Tumbuh menyemangati para orang tua untuk menumbuhkan regulasi diri anak agar mampu mandiri di berbagai situasi. Acara ini juga menghadirkan Putri Ariani, salah satu siswa Sekolah Tumbuh yang pernah berkesempatan membawa lagu Song of Victory di Asian Para Games 2018 bersama artis Tanah Air. (ted)











