BERNASNEWS.COM — Mengamati rekam jejak seseorang tentu saja bukan dengan waktu sebentar. Hal inilah yang pantas diapresiasikan untuk sosok M.Adam Ishak. Ia dapat dikatakan sebagai figur yang cukup mulia karena mendidikasikan hidupnya untuk kepentingan banyak orang, khususnya pada masyarakat kelas menengah ke bawah yang tidak luput dari perhatiannya.

Hampir disetiap sudut jalan di daerah Tulang Bawang dan Mesuji, Lampung tidak ada yang tidak mengenalnya. Di balik nama besar tersebut, tentu ada segelintir perjalanan panjang yang menjadi saksi bisu kepopuleran dan kedarmawanan yang disandangnya sampai hari ini.
Berangkat dari latar-belakang
keluarga yang amat sederhana, menjadikan Adam sapaan akrab M. Adam Ishak,
sebagai salah satu aktor yang ikut membangun perekonomian masyarakat setempat
dengan caranya sendiri. Selain itu, memulai bisnis dari nol dan menjalankannya
dengan tekun, tidak disangka membuat Adam yang juga saat ini menjadi seorang pengusaha
sukses di bidang kuliner, armada transport hasil bumi, dan perkebunan.

Adam telah memiliki karyawan aktif kurang lebih sebanyak 105 orang. Ada identitas dan keunikan yang tercermin dari kebiasaannya. Jauh dari kesan kemewahan bahkan sering kali Adam “mengemas” dirinya hanya dengan menggunakan sandal jepit, celana pendek dan baju kaos biasa. Ya itulah potret Adam yang sesungguhnya.
Baik buruknya masa lalu setiap
orang adalah alasan utama yang dapat dijadikan penguat untuk menata lembaran masa
depan yang lebih kemilau. Besar di jalanan dan hanya bertamatkan pendidikan
Sekolah Dasar (SD) saja, justru membuatnya dapat beradaptasi di lapangan dengan
berjuta pengalaman yang menghasilkan beragam pemikiran intelektual layaknya
seorang akademisi.

Sebagai putra daerah, Adam pun
menjadi tokoh masyarakat setempat yang harmonis dalam menjalin relasi dengan
semua pihak dan sering kali terlibat pada banyak kegiatan sosial. NKRI harga
mati adalah semboyan yang sering dipaparkan Adam karena cintanya terhadap
negeri ini.

Pada realita yang ada, juga terlihat pada anak-anak M. Adam Ishak yang tumbuh dan berkembang menjadi orang yang rendah hati, humble, dan mau bekerja keras untuk mencapai segala keinginannya dengan tidak memanfaatkan kondisi yang dimiliki sang ayah.
Serta merta tidak mau mencontoh
orang lain, Adam pun bertekad agar dirinya bisa dijadikan percontohan bagi yang
lain dan hal tersebut sudah terwujud dengan segenap rangkaian perjuangannya
selama ini.

Kebersamaan orang-orang di sekitar yang harus berkumpul dan meninggalkan sejenak rutinitas yang ada, terutama pada beberapa moment seperti, Tahun Baru, Lebaran, dan Hari Kemerdekaan RI setiap tahunnya, adalah ciri khas yang selalu tampak dan tidak bisa dihilangkan dari seorang M. Adam Ishak dalam mempererat tali kekeluargaan, serta ikatan kerja kepada para anggota kelompoknya. (Kiriman: Dyaloka Puspita Ningrum, SI Kom, MI Kom, Wakil Dekan 2 FISIPOL Universitas Widya Mataram (UWM) dan Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UWM Yogyakarta)











