BERNASNEWS.COM — Pembina pramuka akhirnya dihadapkan ke publik dan angkat bicara terkait kejadian laka air yang menimpa siswa SMPN 1 Turi, Kabupaten Sleman, DIY dan menewaskan 10 orang siswa perempuan. Ia kemudian menyampaikan permohonan maaf yang disampaikannya lewat gelar perkara di Mapolres Sleman, Selasa (25/2/2020) tersebut.
Dalam gelar perkara itu dihadirkan tiga tersangka yang terlibat dalam kasus laka air susur sungai Sempor. Tiga orang tersangka diantaranya R (57), DS (57) serta IYA (36). IYA merupakan orang yang pertama kali ditetapkan sebagai tersangka atas tragedi susur sungai Sempor saat kegiatan pramuka SMPN 1 Turi. Diketahui ketiga pembina tersebut malah tidak ikut terjun dan mendampingi 249 siswa.
IYA, guru olaraga yang bersatatus PNS itu tampak terbata-bata mengungkapkan penyesalannya. Ia juga memohon maaf kepada keluarga korban terutama yang meninggal dunia.
“Saya pertama-tama mengucapkan permohonan maaf kepada instansi kami SMPN 1 Turi karena atas kelalaian kami terjadi hal seperti ini. Yang kedua kami sangat menyesal dan memohon maaf kepada keluarga korban terutama yang meninggal,” kata IYA di Mapolres Sleman, Selasa (25/2/2020).
Selain menyampaikan permohonan maaf IYA juga mengaku bersedia bertanggung jawab atas tindakannya. “Ini sudah jadi risiko kami sehingga apapun yang jadi keputusannya akan kami terima,” ucapnya.
IYA sendiri ditahan karena perannya sebagai inisiator dan penentu lokasi kegiatan itu mengaku nekat mengarahkan ratusan siswa susur sungai saat itu karena menilai keadaan bakal aman aman saja.
“Saat saya berangkatkan anak-anak ke sungai, pukul 13:15 sampai 13:30 WIB itu belum turun hujan. Saya cek sungai atasnya juga aman dan saat kembali ke titik start, ketinggian air juga masih selutut,” ujar IYA.
Tersangka pun menuturkan bahwa ia memiliki teman yang sudah biasa mengurus acara susur sungai. Atas dasar itulah ia berspekulasi bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
“Di tempat itu, saya juga kebetulan punya teman yang sudah biasa mengurusi susur sungai di Sempor itu. Sehingga saat itu saya hanya yakin tidak akan terjadi apa-apa,” kata dia .
Tujuan IYA melaksanakan program susur sungai itu hanya untuk mengajak anak anak mengolah karakternya, sembari mengenali sungai itu seperti apa. “Anak-anak sekarang kan sudah semakin jarang yang main ke sungai, tidak kenal susur sungai, jadi saya hanya mau tunjukkan ‘Ini lho, sungai’,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan ada 249 siswa SMPN 1 Turi yang mengikuti kegiatan susur sungai Sempor pada Jumat (21/2/2020) lalu. Kegiatan itu diikuti oleh siswa kelas 7 sejumlah 124 siswa dan 125 siswa kelas 8. Tepatnya sekitar pukul 15:15 WIB, suasana berubah menjadi mencekam ketika air mulai meninggi dan menghanyutkan beberapa siswa.
Hingga 10 siswa yang hanyut sempat dilaporkan hilang. Tim SAR gabungan pun langsung terjun ke lokasi kejadian dan melakukan evakuasi. Proses evakuasi sendiri dilakukan selama 3 har mulai dari Jumat (21/2) sore hingga Minggu (23/2) pagi. Dalam kejadian tersebut dilaporkan sebanyak 10 siswa meninggal dunia dan 23 siswa mengalami luka-luka. (birgitta feva)











