BERNASNEWS.COM — Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta kembali menyelenggarakan acara ngobrol bareng pengurus yang bertajuk “Obrolan ISEI Jogja #05” mengambil topik “Virus Corona & Perekonomian”, Sabtu (15/2/2020), di Resto Wedhos Londo, kawasan Yogyakarta Selatan.
Dalam diskusi terbatas yang dihadiri oleh 11 pengurus ISEI Cabang Yogyakarta ini, bertindak sebagai narasumber untuk memicu obrolan adalah Lincolin Arsyad (Guru Besar FEB UGM/Penasehat ISEI Jogja), Rudy Badrudin (Waket 2 ISEI Jogja), dan Ahmad Ma’ruf (Dosen FEN UMY/Pengurus ISEI Jogja). Selaku moderator Y. Sri Susilo (Dosen FBE UAJY/ Sekretaris ISEI Jogja).

Dampak virus Corona terhadap perekonomian nasional maupun lokal lebih pada dampak jangka pendek, demikian ungkap Lincolin Arsyad. Guru Besar FEB UGM tersebut memprediksi penyebaran virus Corona dapat segera ditangani. Hal tersebut didasarkan pengalaman China dalam mengatasi virus SARS pada tahun 2002.
“Dalam
jangka pendek yang paling terdampak adalah sektor pariwisata khususnya daerah
tujuan wisata (DTW) wisatawan China yaitu, Bali, Manado, dan Batam. Sektor
pariwisata dan ikutannya seperti perhotelan, restoran, dan transportasi
merasakan dampak langsung,” tegasnya.

Sementara itu, Rudy Badrudin menyatakan, bahwa daerah tujuan wisata (DTW) harus mengambil hikmah ketahanan ekonomi di balik virus Corona. Menurut Rudy, berkurangnya kunjungan wisatawan China ke Indonesia karena merupakan jumlah terbesar kedua setelah Malaysia, akan berganti dengan kenaikan kunjungan wisatawan lokal ke berbagai daerah di Indonesia.
“Dengan dihentikan berbagai maskapai
penerbangan Indonesia dari Indonesia ke China dan sebaliknya dapat menjadi
momentum bagi pemda dan pelaku industri pariwisata di Indonesia untuk
mengembangkan destinasi-destinasi wisata dalam negeri,” ungkap Rudy.

Sependapat dengan pernyataan Rudy Badrudin, Ahmad Ma’ruf menguatkan, daerah tujuan wisata (DTW) seperti DIY harus menjadikan momentum virus Corona untuk meningkatkan dan memperbaiki kebijakan guna mendorong sektor pariwisata lebih maju. Sebagai contoh, memberi insentif berupa potongan atau keringan Pajak Pembangunan (PP) yang sebesar 10 persen untuk hotel dan restoran dengan klasifikasi tertentu.
“Dengan insentif tersebut diharapkan pelaku usaha hotel dan restoran dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada wisatawan,” imbuh Ahmad.
Acara ngobrol santai ditutup dengan makan siang dan foto bersama. “Obrolan ISEI Jogja #06” akan diselenggarakan pada pertengahan bulan Maret 2020, dengan topik berdasarkan isu terkini yang sedang menjadi pembicaraan publik. (ted)











