News  

Pemda DIY Pastikan JLFR Tetap Berjalan, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardayo dan Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni Widyastuti saat memberikan penjelasan terkait JLFR. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Pemerintah Daerah DIY bersama Pemerintah Kota Yogyakarta memastikan penyelenggaraan Jogja Last Friday Ride (JLFR) tetap berlangsung tanpa pelarangan maupun pembatasan peserta massal.

‎Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni Widyastuti menegaskan, bahwa tiidak ada kebijakan melarang pesepeda melintasi Malioboro, termasuk kegiatan JLFR.

‎Menurut Erni, seluruh pengguna jalan memiliki hak yang sama memanfaatkan kawasan Malioboro selama tetap mengedepankan keselamatan, ketertiban, serta saling menghormati bersama.

‎”Semuanya punya hak yang sama, tetapi semua juga harus berbagi ruang dan saling menghargai pengguna jalan lainnya,” ungkapnya, Rabu (22/7/2026).

‎Penjelasan tersebut disampaikan untuk menjawab keresahan masyarakat setelah muncul isu larangan penuh terhadap kegiatan pesepeda di kawasan Malioboro belakangan ini.

‎Isu itu mencuat seusai penertiban peserta JLFR pada Jumat 26 Juni lalu ketika arus kendaraan meningkat selama momentum libur sekolah nasional.

‎Lebih lanjut Erni menjelaskan, penertiban saat itu bersifat situasional demi menjaga kelancaran lalu lintas, bukan berarti pemerintah melarang kegiatan bersepeda.

‎Ia memastikan pemerintah tetap mendukung aktivitas olahraga masyarakat sepanjang pelaksanaannya tertib, aman, serta tidak mengganggu kepentingan pengguna jalan lainnya bersama.

‎Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo juga memastikan pelaksanaan JLFR pada 31 Juli 2026 tetap berlangsung seperti agenda rutin bulanan selama ini.

‎”Kami tidak akan melakukan pengamanan berlebihan terhadap JLFR,” kata Hasto, seraya menegaskan pendekatan yang dipilih lebih mengedepankan kebersamaan dengan peserta.

‎Menurut Hasto, Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Forkopimda akan menerapkan pola “membersamai” para pesepeda agar suasana tetap nyaman, aman, dan tertib bersama.

‎Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun komunikasi positif antara aparat, komunitas pesepeda, masyarakat, serta seluruh pengguna jalan di kawasan Malioboro nantinya.

‎Hasto menilai kolaborasi dan saling menghormati menjadi kunci agar aktivitas pesepeda maupun mobilitas masyarakat tetap berjalan berdampingan tanpa menimbulkan persoalan baru.

‎”Yang kami utamakan adalah kenyamanan bersama, bukan pembatasan kegiatan masyarakat,” tegas Hasto mengenai pelaksanaan JLFR mendatang di Kota Yogyakarta.

‎Pemerintah berharap seluruh peserta JLFR tetap mematuhi aturan lalu lintas, menjaga keselamatan, serta menghormati pejalan kaki dan pengguna jalan lainnya selama berkegiatan.

‎Dengan kepastian tersebut, JLFR dipastikan tetap digelar rutin setiap Jumat terakhir setiap bulan sebagai ruang olahraga, silaturahmi, sekaligus budaya bersepeda di Yogyakarta. (*/nun)