Piala Dunia 2026 dan UMKM

Narasumber dalam diskusi terbatas dan singkat tersebut yaitu Wawan Harmawan, Wawali Kota Yogyakarta; Budiharto Setyawan, Komisaris PT. BIS; Y. Sri Susilo, Dosen FBE UAJY, dan Ronny Sugiantoro, Jurnalis Senior. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Piala Dunia 2026 telah berlangsung sejak 11 Juni – 20 Juli 2026. Turnamen sepak bola dunia dilangsungkan di negara Kanada, Mexico dan Amerika Serikat (AS). Seperti diketahui, aklhirnya Spanyol menjadi juara setelah menundukkan juara bertahan Argentina dengan skor 1-0. Sementara Inggris di peringkat 3, setelah mengalahkan Perancis dengan skor 6-4.

Turnamen sepak bola paling akbar sedunia tersebut tentu meninggalkan banyak catatan baik dari aspek teknis sepakbola, bisnis dan ekonomi dan banyak sisi yang lain. Terkait dengan aspek atau sisi bisnis dan ekonomi, ISEI Cabang Yogyakarta dan KADIN DIY menyelenggarakan diskusi terbatas.

Hadir selaku narasumber dalam diskusi terbatas dan singkat tersebut yaitu Wawan Harmawan, Wakil Wali Kota Yogyakarta; Budiharto Setyawan, Komisaris PT. BIS; Y. Sri Susilo, Dosen FBE UAJY, dan Ronny Sugiantoro, Jurnalis Senior.

Diskusi difokuskan bagaimana efek Piala Dunia 2026 bagi ekonomi masyarakat, termasuk UMKM. Melalui event nonton bareng (nobar) tentu ada aktivitas ekonomi atau tegasnya uang yang berputar akibat diselenggarakan acara nobar. Dari hasil diskusi tersebut diperoleh beberapa catatan sebagai berikut.

Pertama, acara nonton bareng Piala Dunia 2026 memberikan dampak positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi pelaku UMKM. Berdasarkan data dari Kementerian UMKM dan KADIN Indonesia (2026), perputaran ekonomi selama momentum turnamen ini diperkirakan menembus Rp5,03 triliun yang didorong oleh lonjakan aktivitas konsumsi masyarakat

Kedua, sektor UMKM yang paling besar memperoleh manfaat dari acara nobar Piala Dunia 2026 adalah sektor makanan dan minuman (kuliner). Sektor kuliner paling diuntungkan karenameruoakan kebutuhan wajib saat menonton. Makanan ringan dan minuman menjadi pendamping utama masyarakat saat berkumpul menyaksikan pertandingan dalam durasi yang lama.

Ketiga, lonjakan omzet tertinggi adalah pelaku usaha kopi keliling, warung makan, dan kafe mencatatkan kenaikan pendapatan hingga 3 kali lipat (200%) dari hari biasa. Perputaran uang tercepat, transaksi terjadi secara langsung dan masif di setiap titik lokasi nobar, mulai dari alun-alun kota hingga area nobar.

Keempat, UMKM selain sektor kuliner yang memperoleh manfaat adalah:  (1) Sektor Konveksi dan  Aksesoris: Penjualan jersi timnas, bendera, syal, dan atribut sepak bola. (2) Sektor Jasa Penyewaan: Penyewaan proyektor, layar besar, sistem suara (sound system), dan kursi lipat. (3) Sektor Logistik dan Transportasi Mikro: Ojek daring dan perparkiran lokal di sekitar area nobar.

Diskusi terbatas yang berlangsung di Mampeer Coffee & Me Jawa di Tamanan, Banguntapan, Bantul, Senin (20/7/2026). “Kegiatan diskusi terbatas yang diselenggarakan secara rutin sebulan sekali oleh ISEI Cabang Yogyakarta dengan topik atau isu terkini, jelas Y. Sri Susilo Y. Sri Susilo, yang juga Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta & WKU Bidang Kominfodigi KADIN DIY. (*/ ted)