bernasnews – Semakin banyak pilihan moda transportasi untuk berwisata menuju pulau dewata Bali, baik dengan kendaraan pribadi, angkutan umum bus, kereta api atau dengan menggunakan pesawat udara. Tentu saja masing- masing orang berbeda- beda dan punya alasan yang tersendiri atas pilihannya.
Salah satunya adalah bila menggunakan transportasi Kereta Api (KA) tentu juga ada kelebihan dan kekurangannya, akan tetapi moda transportasi ini sekarang menjadi salah satu pilihan banyak orang. Pasalnya dari segi waktu relatif lebih cepat dan nyaman.
Kemudian fasilitas di KA juga tersedia toilet, televisi, restorasi (gerbong restaurant) dan sejenisnya. Bahkan untuk kebutuhan makan dan minum tersedia di restoran yang bisa juga dinikmati sambil KA berjalan oleh penumpang lantaran lajunya lebih setabil dibanding moda transportasi darat lainnya.
Sebagaimana yang dialami oleh bernasnews, saat perjalanan menuju Denpasar, Bali menggunakan moda tansportasi kereta api, pada Senin (6/7/2026) lalu. Berangkat dari Stasiun Lempungan Jogja dan berakhir di Stasiun Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.
Dalam perjalanan ini melewati beberapa stasiun antara lain: Stasiun Klaten, Purwosari Solo, Sragen, Walikukun, Mediun, Caruban, Nganjuk, Kertosono, Jombang, Mojokerto, Gubeng Surabaya, Wonokromo, Sidoarjo, Bangil, Pasuruhan, Probolinggo, Tanggul, Rambipuji, Jember, Kalisat, Temuguruh, Rogojampi, Sumber Wadung, Karangasem, dan Stasiun Ketapang Banguwangi.
Adapun jarak yang ditempuh dari Stasiun Lempuyangan Jogja sampai dengan Ketapang Banyuwangi sekitar 614 Kilometer. Untuk menuju Denpasar, dilanjutkan lagi dengan menyeberang menujun Gilimanuk, Bali dengan menggunakan Kapal Laut (Ferry) dengan durasi waktu tempuh sekitar 60 menit. Sedangkan dari Gilimanuk menuju Denpasar membutuhkan waktu sekitar tiga jam mamakai transportasi darat.
Perjalanan wisata menggunakan kereta api/ KA tidak saja dapat melihat pesona hamparan persawahan hijau dan hamparan padi yang menguning sudah siap dipanen oleh para petani, namun juga dapat melihat panorama dari para pembajak sawah dan ibu- ibu yang sedang bercocok tanam.
Terlebih saat setiap melintasi stasiun di setiap kota, juga jadi teringat akan masing-masing khas makanan atau kuiner sertaobyek wisata yang ada di daerah itu. Misalnya, saat melewati stasiun Klaten, ingatan kita akan “peyek paru” yang terkenal, saat melewatati Solo Balapan ingatan kita pada “Nasi Liwet”.
Kemudian saat melewati stasiun Madiun ingatan kita pada makanan “brem” dan “nasi pecel” yang istimewa, saat melewati Stasiun Banguwangi ingatan kita dengan “Nasi Tempong” yang khas juga Tarian Gandrung yang ikonik dan sempat viral karena ditarikan oleh ratusan penari belum lama ini.
Berwisata menggunakan KA di pagi hari hari mata kita dimanjakan dengan berbagai pemandangan berupa hutan- hutan kecil yang sebagian ada bukitnya, bangunan pabrik-pabrik, keramaian kota, dan aneka persona pemandangan yang indah sehingga perjalanan kita mampu memperoleh nilai tambah yang sangat bermakna. (zbd)












