News  

Prediksi BMKG: Puncak Kemarau 2026 Mulai Juli, 10 Wilayah Indonesia Diminta Waspada Kekeringan dan Karhutla

Ilustrasi prediksi puncak Kemarau 2026. (Pixabay.com)

bernasnews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 mulai terjadi pada Juli mendatang di sejumlah wilayah Indonesia.

Sebanyak 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen dari total luas daratan Indonesia diperkirakan memasuki fase paling kering pada periode tersebut. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga penurunan kualitas udara di sejumlah daerah.

Prediksi tersebut disampaikan BMKG melalui informasi resmi yang dipublikasikan melalui laman resminya dan dikutip pada Senin, 29 Juni 2026.

Sepuluh Wilayah Diperkirakan Mengalami Puncak Kemarau pada Juli 2026

BMKG mencatat terdapat 10 wilayah utama di Indonesia yang akan mencapai puncak musim kemarau pada Juli 2026. Wilayah tersebut tersebar mulai dari Sumatera hingga Papua.

Daerah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli 2026 meliputi:

  • Sebagian wilayah Sumatera
  • Sebagian kecil wilayah Kalimantan
  • Sebagian kecil wilayah Jawa
  • Nusa Tenggara Timur bagian selatan
  • Sulawesi Barat bagian selatan
  • Sulawesi Tengah bagian utara
  • Sulawesi Tengah bagian barat
  • Sebagian kecil wilayah Maluku
  • Papua Barat Daya bagian selatan
  • Papua Barat bagian tengah
  • Papua bagian timur

Wilayah-wilayah tersebut diperkirakan akan mengalami curah hujan yang sangat rendah sehingga masyarakat dan pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak musim kering yang lebih intens.

Agustus 2026 Menjadi Puncak Kemarau di Sebagian Besar Indonesia

Selain Juli, BMKG juga memproyeksikan sebagian besar wilayah Indonesia baru akan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

Daerah yang diprediksi memasuki puncak kemarau pada bulan tersebut meliputi:

  • Sumatera bagian tengah
  • Sebagian besar Pulau Jawa
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur
  • Sebagian besar Kalimantan
  • Sebagian wilayah Sulawesi
  • Sebagian wilayah Maluku dan Maluku Utara
  • Sebagian besar Pulau Papua

Prediksi ini menunjukkan bahwa Agustus akan menjadi periode dengan cakupan wilayah terdampak paling luas dibanding bulan lainnya selama musim kemarau tahun ini.

Puncak Kemarau Terakhir Diprediksi Terjadi pada September 2026

Sementara itu, sejumlah wilayah lainnya diperkirakan baru memasuki puncak musim kemarau pada September 2026.

Wilayah tersebut antara lain:

  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Sebagian besar Sumatera Selatan
  • Lampung
  • Sebagian kecil wilayah Jawa
  • Sebagian besar Nusa Tenggara Timur
  • Kalimantan bagian selatan
  • Sebagian besar Sulawesi
  • Sebagian besar Maluku Utara
  • Sebagian wilayah Maluku
  • Papua Pegunungan bagian tengah

Dengan pola tersebut, musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung bertahap dengan waktu puncak yang berbeda di setiap kawasan Indonesia.

BMKG juga melaporkan bahwa hingga akhir Mei 2026, sebanyak 200 Zona Musim di Indonesia telah lebih dahulu memasuki musim kemarau.

Wilayah yang sudah mengalami musim kemarau sejak periode tersebut meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian wilayah Maluku, serta Papua Pegunungan bagian tengah.

Masuknya musim kemarau lebih awal di sejumlah daerah menjadi indikator penting bagi pemerintah daerah maupun masyarakat untuk mempersiapkan langkah antisipasi terhadap potensi dampak yang dapat muncul selama beberapa bulan ke depan.

BMKG Minta Sektor Pangan Menyesuaikan Jadwal Tanam

Dalam menghadapi puncak musim kemarau, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi mitigasi kepada berbagai sektor strategis.

Untuk sektor pangan, petani dan pelaku usaha pertanian disarankan menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi iklim yang berkembang. Selain itu, pemilihan varietas tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air, memiliki ketahanan terhadap kekeringan, serta memiliki masa tanam lebih singkat juga dianjurkan guna mengurangi risiko gagal panen.

Pada sektor sumber daya air, BMKG mendorong adanya revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi air agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

Ketersediaan air untuk kebutuhan domestik maupun sektor produktif juga perlu dipastikan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait.

Sementara itu, pelaku sektor energi diminta memastikan kapasitas air bendungan tetap memadai untuk mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA) selama periode kemarau.

Risiko Karhutla dan ISPA Diperkirakan Meningkat

BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah agar menyiapkan mekanisme respons cepat untuk menghadapi kemungkinan memburuknya kualitas udara akibat kondisi cuaca yang lebih kering.

Penurunan kualitas udara berpotensi meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan dalam skala besar.

Seiring meningkatnya risiko tersebut, kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan karhutla perlu diperkuat di berbagai daerah rawan.

BMKG bersama pemerintah daerah serta berbagai pemangku kepentingan saat ini terus melakukan koordinasi guna memperkuat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan, salah satunya melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). (anp)