bernasnews – Umat Katolik kembali diajak memperdalam iman melalui Doa Rosario pada Jumat, 26 Juni 2026.
Pada hari Jumat, permenungan Rosario difokuskan pada Peristiwa Sedih yang menggambarkan perjalanan sengsara Yesus sebelum wafat di kayu salib demi keselamatan umat manusia.
Melalui doa-doa yang didaraskan secara berurutan, umat diharapkan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus memperkuat devosi kepada Bunda Maria sebagai perantara doa.
Doa Rosario menjadi salah satu bentuk doa yang memiliki tempat penting dalam kehidupan rohani umat Katolik.
Melalui rangkaian doa dan permenungan atas misteri kehidupan Yesus, umat tidak hanya mengingat peristiwa keselamatan, tetapi juga diajak meneladani kasih, pengorbanan, dan ketaatan kepada kehendak Allah.
Doa Rosario Menjadi Sarana Memperdalam Iman dan Devosi
Rosario merupakan doa yang menggabungkan doa lisan dengan permenungan terhadap peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yesus dan Maria. Pada hari Jumat, umat merenungkan Peristiwa Sedih yang berisi kisah penderitaan Yesus menjelang penyaliban dan wafat-Nya.
Peristiwa-peristiwa tersebut mengingatkan umat akan besarnya kasih Tuhan kepada manusia melalui pengorbanan Putra-Nya. Selain itu, doa Rosario juga menjadi kesempatan bagi umat untuk memohon rahmat, pengampunan, serta kekuatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Susunan Doa Rosario Katolik
Berikut susunan lengkap Doa Rosario Katolik Jumat, 26 Juni 2026 yang dikutip dari situs Iman Katolik.
Doa Rosario diawali dengan Tanda Salib sebagai pembukaan doa.
“Dalam (demi) nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, Amin.”
Setelah itu dilanjutkan dengan doa Aku Percaya sebagai pernyataan iman umat kepada Allah Tritunggal dan karya keselamatan yang dilakukan Yesus Kristus.
Doa berikutnya adalah Kemuliaan kepada Bapa, Putra, dan Roh Kudus, kemudian dilanjutkan dengan Doa Bapa Kami.
Selanjutnya umat mendaraskan tiga kali Salam Maria yang dipersembahkan kepada Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus, sebelum kembali menutup bagian pembuka dengan doa Kemuliaan.
Peristiwa Sedih Pertama: Yesus Berdoa di Taman Getsemani
Peristiwa pertama mengajak umat merenungkan saat Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut sebagaimana tertulis dalam Injil Lukas 22:39-46.
Setelah pembacaan ayat Kitab Suci, umat mendaraskan satu kali Doa Bapa Kami, sepuluh kali Salam Maria, serta doa Kemuliaan.
Bagian ini ditutup dengan doa:
“Terpujilah nama Yesus, Maria dan Yusuf, sekarang dan selama-lamanya. Amin.”
Kemudian dilanjutkan dengan Doa Fatima:
“Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami. Selamatkanlah kami dari api neraka, dan hantarlah jiwa-jiwa ke surga, terlebih jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu, Amin.”
Peristiwa Sedih Kedua: Yesus Didera
Peristiwa kedua mengangkat kisah Yesus yang didera sebagaimana dicatat dalam Yohanes 19:1.
Setelah merenungkan misteri tersebut, umat kembali mendaraskan Doa Bapa Kami, sepuluh Salam Maria, doa Kemuliaan, Terpujilah, dan Doa Fatima.
Peristiwa Sedih Ketiga: Yesus Dimahkotai Duri
Peristiwa ketiga mengajak umat mengenang saat Yesus dimahkotai duri sebagaimana tertulis dalam Yohanes 19:2-3.
Peristiwa ini menjadi simbol penghinaan dan penderitaan yang diterima Yesus sebelum penyaliban-Nya. Setelah permenungan, umat kembali melanjutkan rangkaian doa Rosario seperti pada peristiwa sebelumnya.
Peristiwa Sedih Keempat: Yesus Memanggul Salib ke Kalvari
Pada peristiwa keempat, umat merenungkan perjalanan Yesus memanggul salib menuju Gunung Kalvari sebagaimana dikisahkan dalam Lukas 23:26-32.
Misteri ini mengingatkan umat tentang pengorbanan dan ketabahan Yesus dalam menjalankan kehendak Bapa demi keselamatan manusia.
Seperti pada peristiwa sebelumnya, bagian ini diisi dengan Doa Bapa Kami, sepuluh Salam Maria, doa Kemuliaan, Terpujilah, dan Doa Fatima.
Peristiwa Sedih Kelima: Yesus Wafat di Salib
Puncak Peristiwa Sedih terdapat pada misteri kelima, yakni saat Yesus wafat di salib sebagaimana dicatat dalam Lukas 23:44-49.
Peristiwa ini menjadi inti dari karya keselamatan umat manusia dalam iman Katolik. Setelah permenungan atas misteri tersebut, umat kembali mendaraskan Doa Bapa Kami, sepuluh Salam Maria, doa Kemuliaan, Terpujilah, dan Doa Fatima.
Rangkaian Rosario kemudian ditutup dengan Tanda Salib sebagai penanda berakhirnya doa bersama.
Melalui permenungan Peristiwa Sedih pada Jumat, 26 Juni 2026, umat Katolik diajak untuk semakin memahami makna pengorbanan Yesus Kristus sekaligus memperdalam hubungan pribadi dengan Tuhan serta menumbuhkan devosi kepada Bunda Maria melalui doa Rosario yang didaraskan dengan penuh iman dan pengharapan. (anp)












