bernasnews – Fenomena hujan meteor Bootids akan menghiasi langit pada akhir Juni 2026 dan dapat disaksikan dari Indonesia tanpa memerlukan teleskop maupun peralatan astronomi khusus.
Puncak aktivitas hujan meteor ini diperkirakan berlangsung pada 27 Juni 2026, dengan waktu terbaik pengamatan bagi wilayah Indonesia terjadi pada malam hari hingga dini hari menjelang 28 Juni 2026.
Peristiwa astronomi ini menjadi salah satu fenomena langit yang menarik perhatian karena meteor-meteor yang melintas dapat terlihat langsung oleh mata telanjang sebagai garis cahaya atau yang kerap disebut masyarakat sebagai bintang jatuh.
Namun, agar peluang melihatnya lebih besar, pengamat perlu memperhatikan waktu, lokasi, dan kondisi langit saat pengamatan dilakukan.
Puncak Hujan Meteor Bootids Terjadi pada 27 Juni 2026
Berdasarkan data dari situs astronomi In The Sky, hujan meteor June Bootids mulai aktif sejak 22 Juni hingga 2 Juli 2026. Aktivitas meteor diperkirakan mencapai puncaknya pada 27 Juni 2026.
Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa puncak hujan meteor diprediksi berlangsung sekitar pukul 18.00 BST pada 27 Juni 2026. Jika dikonversikan ke Waktu Indonesia Barat (WIB), waktu tersebut setara dengan pukul 00.00 WIB pada Minggu, 28 Juni 2026.
Meski terdapat waktu puncak tertentu, kemunculan meteor tidak hanya terjadi tepat pada jam tersebut. Pengamatan masih dapat dilakukan sejak malam 27 Juni hingga dini hari 28 Juni 2026 selama kondisi cuaca mendukung dan langit tidak tertutup awan.
Hujan Meteor Bootids Berasal dari Rasi Bootes
Hujan meteor Bootids tampak muncul dari arah rasi Bootes yang menjadi titik radian fenomena ini. Dalam astronomi, radian merupakan titik di langit yang terlihat sebagai asal kemunculan meteor.
Semakin tinggi posisi titik radian di atas horizon, semakin besar pula peluang pengamat untuk melihat meteor melintas di langit malam.
Meski demikian, pengamat tidak perlu terus-menerus menatap langsung ke arah rasi Bootes. Meteor sering kali terlihat lebih jelas pada area langit yang berada beberapa derajat dari titik radian tersebut.
Debu Komet 7P/Pons-Winnecke Menjadi Penyebab Fenomena Ini
Fenomena hujan meteor Bootids terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan oleh komet induknya, yakni komet 7P/Pons-Winnecke.
Saat partikel-partikel debu dari komet tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, partikel akan terbakar akibat gesekan dengan udara dan menghasilkan cahaya terang yang tampak sebagai meteor.
Karena berasal dari sisa material komet, jumlah meteor yang terlihat setiap tahun dapat berbeda-beda. Intensitas kemunculannya dipengaruhi oleh kepadatan debu komet yang dilewati Bumi, kondisi atmosfer, serta tingkat kecerahan langit di lokasi pengamatan.
Tips Melihat Hujan Meteor Bootids dari Indonesia
Masyarakat yang ingin menyaksikan fenomena langit ini dapat mengikuti beberapa langkah berikut agar peluang melihat meteor menjadi lebih besar.
1. Pilih Lokasi yang Minim Polusi Cahaya
Lokasi pengamatan menjadi faktor paling penting dalam melihat hujan meteor. Pilih tempat yang jauh dari lampu jalan, gedung bertingkat, papan reklame, maupun sumber cahaya buatan lainnya.
Daerah pegunungan, pantai, atau kawasan pedesaan biasanya menawarkan kondisi langit yang lebih gelap sehingga memudahkan pengamatan.
2. Lakukan Pengamatan pada Malam 27 Juni hingga Dini Hari 28 Juni
Rentang waktu tersebut merupakan periode yang paling dekat dengan puncak aktivitas hujan meteor Bootids untuk wilayah Indonesia, khususnya zona WIB.
Semakin dekat dengan waktu puncak, peluang melihat meteor biasanya akan semakin besar.
3. Tunggu Hingga Langit Benar-Benar Gelap
Pengamatan sebaiknya dilakukan setelah senja berakhir dan langit sudah gelap sepenuhnya. Langit yang masih terang akan membuat meteor redup menjadi sulit terlihat.
4. Jangan Terlalu Fokus ke Titik Radian
Meteor justru lebih mudah terlihat pada area langit yang berada sekitar 30 hingga 40 derajat dari titik radian di rasi Bootes.
Karena itu, pengamat disarankan memandang area langit yang lebih luas dibandingkan hanya menatap satu titik tertentu.
5. Kurangi Cahaya dari Layar Ponsel
Paparan cahaya dari layar ponsel dapat mengurangi kemampuan mata beradaptasi dengan kondisi gelap. Mata manusia membutuhkan waktu beberapa menit untuk menyesuaikan diri agar lebih sensitif terhadap cahaya redup dari meteor.
Salah satu tantangan dalam mengamati hujan meteor Bootids tahun ini adalah kondisi Bulan yang berada sekitar dua hari menjelang fase purnama saat puncak hujan meteor terjadi.
Keberadaan Bulan yang cukup terang berpotensi membuat meteor dengan cahaya redup menjadi lebih sulit terlihat dari wilayah yang memiliki banyak pencahayaan buatan.
Karena itu, memilih lokasi yang benar-benar gelap menjadi langkah penting bagi masyarakat yang ingin menikmati fenomena ini secara maksimal.
Dengan cuaca yang cerah dan lokasi pengamatan yang tepat, hujan meteor Bootids pada malam 27 Juni hingga dini hari 28 Juni 2026 berpeluang menjadi salah satu fenomena astronomi menarik yang dapat dinikmati langsung dari berbagai wilayah di Indonesia. (anp)












