bernasnews – Kondisi ekonomi yang penuh tantangan, meningkatnya harga kebutuhan pokok, hingga menurunnya daya beli masyarakat menjadi persoalan yang dirasakan banyak keluarga saat ini.
Dalam situasi tersebut, Islam menawarkan pedoman yang relevan melalui teladan Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kesabaran, optimisme, kebersamaan, serta kesederhanaan dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Pesan inilah yang menjadi tema utama dalam naskah Khutbah Jumat 26 Juni 2026 yang ditulis oleh H Muhammad Faizin dan dipublikasikan oleh NU Online.
Khutbah ini mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikan kesulitan ekonomi sebagai alasan untuk berputus asa. Sebaliknya, kondisi tersebut harus dihadapi dengan memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT, menjaga solidaritas sosial, dan tetap menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam aktivitas ekonomi.
Takwa Menjadi Jalan Keluar di Tengah Kesulitan Ekonomi
Khutbah diawali dengan ajakan kepada seluruh jamaah untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam ajaran Islam, takwa bukan hanya menjadi bekal kehidupan akhirat, tetapi juga menjadi jalan terbukanya solusi atas berbagai persoalan dunia, termasuk masalah ekonomi.
Hal tersebut ditegaskan dalam Surat At-Thalaq ayat 2 dan 3 yang menyebutkan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar serta rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi hamba yang bertakwa dan bertawakal kepada-Nya.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa ikhtiar manusia harus selalu diiringi dengan keyakinan penuh kepada Allah SWT sebagai pemberi rezeki dan penentu segala urusan.
Krisis Ekonomi Juga Pernah Terjadi pada Masa Rasulullah
Khutbah tersebut menjelaskan bahwa kesulitan ekonomi bukanlah persoalan baru dalam sejarah umat manusia. Pada masa Rasulullah SAW, masyarakat Madinah juga pernah menghadapi inflasi dan kondisi ekonomi yang berat.
Catatan dalam Kitab Kanzul Ummal menyebutkan bahwa Rasulullah SAW membimbing umat untuk menghadapi situasi tersebut dengan kesabaran dan semangat saling membantu. Rasulullah tidak mengajarkan sikap pesimis ataupun egoisme, melainkan mendorong umat untuk memperkuat solidaritas sosial.
Beliau mencontohkan bahwa makanan yang tampak hanya cukup untuk satu orang dapat menjadi cukup untuk dua orang berkat kebersamaan dan keberkahan dari Allah SWT. Semangat berbagi dan saling menopang inilah yang menjadi fondasi ketahanan sosial masyarakat Muslim.
Tiga Pelajaran Penting dari Rasulullah SAW
Dari pengalaman menghadapi krisis ekonomi pada masa Nabi Muhammad SAW, terdapat tiga nilai utama yang harus dihidupkan kembali oleh umat Islam saat ini, yakni kesabaran, optimisme, dan kebersamaan.
Kesulitan ekonomi tidak boleh menjadi penyebab rusaknya hubungan sosial, terputusnya silaturahmi, ataupun munculnya sikap saling menjatuhkan. Sebaliknya, masa-masa sulit justru menjadi momentum untuk memperkuat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam khutbah tersebut juga disampaikan pesan khusus kepada para pedagang agar tetap menjaga kejujuran dan amanah dalam menjalankan usaha.
Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi para pedagang yang jujur melalui hadis yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah.
“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada pada hari kiamat.” (HR Ibnu Majah).
Karena itu, praktik penimbunan barang, manipulasi timbangan, maupun pengambilan keuntungan berlebihan yang merugikan masyarakat harus dihindari karena hanya akan memperparah kesulitan ekonomi yang sedang terjadi.
Meneladani Kesederhanaan Rasulullah di Era Media Sosial
Selain mengajarkan solidaritas dan kejujuran, Rasulullah SAW juga memberikan teladan nyata tentang kehidupan yang sederhana meskipun beliau memiliki kedudukan yang sangat mulia.
Nilai kesederhanaan tersebut dinilai semakin relevan di era modern ketika masyarakat terus disuguhi berbagai standar kehidupan mewah melalui media sosial. Budaya pamer kekayaan atau flexing serta perilaku konsumtif menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang.
Khutbah ini mengajak umat Islam untuk kembali memprioritaskan kebutuhan dibandingkan keinginan semata.
Rasulullah SAW bersabda:
“انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ”
Artinya:
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR Muttafaq ‘Alaih).
Melalui pesan tersebut, umat Islam diajak untuk memperkuat rasa syukur dan menghindari perasaan kurang yang sering kali muncul akibat terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Naskah Lengkap Khutbah Jumat
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Swt
Sebagai pembuka khutbah Jumat ini, khatib berwasiat kepada kita semua untuk selalu menjaga dan memperkuat takwa kepada Allah SWT. Di tengah dinamika hidup yang penuh cobaan, takwa adalah sandaran terbaik. Insyaallah, bagi hamba-Nya yang bertakwa, Allah akan selalu menyediakan jalan keluar dari jalan buntu serta melimpahkan rezeki yang tak terduga.
Dalam Al-Quran surat At-Thalaq ayat 2 dan 3, Allah Swt berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ ٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ٣
Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.”
Situasi tersebut mencerminkan realitas ekonomi saat ini, di mana meroketnya harga komoditas pokok kian memperberat beban hidup, menurunkan daya beli, dan memicu kekhawatiran dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Namun, krisis seperti ini sesungguhnya telah terjadi sejak masa lampau. Kitab Kanzul Ummal mencatat bahwa masyarakat Madinah di era Rasulullah saw. juga pernah menghadapi inflasi dan kesulitan ekonomi yang hebat.
Menghadapi kondisi kritis itu, Rasulullah saw. tidak mengajarkan keputusasaan, melainkan membimbing umat untuk bersabar, saling menopang, dan meyakini berkah dari Allah Swt. Rasulullah saw. mengingatkan bahwa dalam persatuan dan saling berbagi terdapat keberkahan yang melimpah. Beliau mencontohkan bahwa makanan yang tampaknya hanya cukup untuk satu orang, dengan berkah kebersamaan, bisa mencukupi dua orang, porsi dua orang cukup untuk empat orang, dan porsi empat orang dapat memuaskan lima hingga enam orang.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Swt
Dari situasi sulit di zaman Rasulullah ini, beliau telah mengajarkan tiga hal penting, yaitu kesabaran, optimisme, dan kebersamaan. Kesulitan ekonomi tidak boleh menjadikan kita saling menjatuhkan, memutus silaturahim, atau hanya memikirkan diri sendiri. Justru pada saat seperti inilah semangat gotong royong, saling membantu, dan berbagi kepada sesama harus semakin diperkuat.
Rasulullah pun menyampaikan pesan dan kabar gembira kepada para pedagang, yang merupakan mata rantai dalam pemenuhan kebutuhan hidup orang banyak. Kabar gembira ini tertuang dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah:
Artinya: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada pada hari kiamat.” (HR Ibnu Majah).
Oleh karena itu, di tengah keadaan ekonomi yang sulit, jangan sampai ada praktik penimbunan barang, kecurangan dalam timbangan, ataupun pengambilan keuntungan secara berlebihan yang merugikan masyarakat. Hal ini tentu akan merugikan orang banyak dan menjadi sumber kesulitan baru dalam ekonomi.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Swt
Di tengah impitan ekonomi, Rasulullah saw. memberikan teladan nyata tentang indahnya kesederhanaan. Walau mengemban kedudukan yang amat agung, beliau memilih menjalani hidup dengan bersahaja.
Keteladan inilah yang harus kita hidupkan kembali di era modern guna membentengi diri dari budaya pamer kemewahan (flexing) dan perilaku konsumtif. Di masa kini, saat media sosial terus membombardir kita dengan standar hidup mewah, ajaran Rasulullah saw. menjadi pengingat yang sangat berharga: prioritaskanlah apa yang benar-benar menjadi kebutuhan, bukan sekadar menuruti nafsu keinginan.
Nabi Muhammad Saw bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Artinya: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR Muttafaq ‘Alaih).
Melalui nasihat ini, Rasulullah saw. menuntun kita untuk menemukan kebahagiaan dalam syukur. Sifat merasa kurang sering kali lahir dari kebiasaan menengok kemewahan orang lain. Menghadapi kecenderungan ini, beliau mengumpamakan kita sebagai seorang kelana.
Naskah Lengkap Khutbah Jumat Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى:
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Penulis: H Muhammad Faizin
Sumber: NU Online
(anp)












