bernasnews — Kepanikan seorang warga yang kehilangan telepon genggam di kawasan Malioboro, Yogyakarta, berakhir dengan kisah yang menghangatkan hati.
Perangkat yang sempat hilang setelah tertinggal di kursi pedestrian depan Hotel Mutiara Malioboro akhirnya kembali ke tangan pemiliknya melalui pendekatan humanis tanpa proses hukum.
Peristiwa ini sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet mengikuti perkembangan pencarian ponsel tersebut setelah informasi keberadaannya terlacak berpindah dari kawasan Malioboro menuju wilayah Kauman, Kota Yogyakarta.
Di tengah padatnya aktivitas wisatawan dan warga yang lalu lalang di Malioboro, pemilik tidak menyadari telepon genggam miliknya tertinggal saat beristirahat.
Baru beberapa saat kemudian, ia menyadari perangkat yang menyimpan berbagai data penting, kontak keluarga, hingga akses komunikasi sehari-hari itu tidak lagi berada di tangannya.
Kepanikan pun tak terhindarkan.
HP Hilang di Malioboro Terlacak hingga Kauman
Kepala Seksi Humas Polresta Yogyakarta, Iptu Dani Hasan, membenarkan adanya kejadian tersebut.
“Bahwa benar ada peristiwa tersebut. HP tertinggal di kursi pedestrian depan Hotel Mutiara Malioboro-2 dan diambil pemulung,” ujar Dani Hasan.
Meski sempat viral, kasus ini tidak dilaporkan secara resmi ke kepolisian. Pemilik hanya berharap telepon genggamnya dapat ditemukan tanpa harus berujung pada proses hukum.
“Peristiwa ini tidak dilaporkan resmi ke Polri. Namun demikian hal ini ditangani oleh Jogoboro,” kata Dani.
Petugas kemudian membantu melakukan pelacakan melalui fitur lokasi yang masih aktif pada perangkat tersebut.
Hasilnya menunjukkan bahwa sinyal ponsel sudah tidak berada di Malioboro. Lokasinya mengarah ke kawasan Gerjen hingga Kauman.
Petunjuk digital itu menjadi titik terang di tengah kecemasan pemilik yang berkali-kali memantau pergerakan lokasi perangkat melalui layar ponselnya yang lain.
Pendekatan Humanis Jadi Kunci
Tim kemudian melakukan penelusuran berdasarkan titik pelacakan yang muncul.
Petugas mencocokkan informasi lokasi dengan kondisi di lapangan sebelum akhirnya mengarah kepada seorang pemulung yang diduga mengambil ponsel setelah menemukannya di sekitar pedestrian Malioboro.
Alih-alih menempuh langkah represif, petugas memilih pendekatan persuasif.
Komunikasi dilakukan secara baik-baik untuk mengetahui kronologi sebenarnya. Pendekatan tersebut membuahkan hasil.
Setelah dilakukan klarifikasi, telepon genggam yang sempat dicari akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi dapat dikembalikan kepada pemiliknya.
Momen itu sekaligus mengakhiri kecemasan pemilik yang khawatir kehilangan data pribadi dan berbagai dokumen digital penting yang tersimpan di dalam perangkat.
Pemilik Memilih Memaafkan
Hal yang paling menyentuh dari kisah ini muncul setelah proses pengembalian selesai dilakukan.
Pemilik memilih untuk tidak melanjutkan persoalan ke ranah hukum. Ia memutuskan memaafkan pemulung yang diduga mengambil telepon genggam tersebut.
“Saat ini HP sudah ada di tangan pemilik dan pemilik telah memaafkan pelaku,” ujar Dani Hasan.
Keputusan itu membuat perkara berakhir damai. Tidak ada laporan polisi yang dibuat. Tidak ada proses hukum yang dilanjutkan.
Di tengah derasnya berbagai kabar konflik yang kerap viral di media sosial, penyelesaian kasus ini justru memperlihatkan sisi lain kehidupan masyarakat: komunikasi yang baik, empati, dan ruang untuk saling memaafkan. (Eln)












